Nikolay “Gladiator” Veretennikov: Dari Sanda Kazakhstan Ke UFC

Piter Rudai 07/03/2026 5 min read
Nikolay “Gladiator” Veretennikov: Dari Sanda Kazakhstan Ke UFC

Jakarta – Di dunia MMA, ada dua tipe striker. Yang pertama menang karena ia “ramai”: banyak pukulan, banyak tendangan, memaksa juri melihat aktivitas. Yang kedua menang karena ia “tepat”: geraknya hemat, tapi setiap serangan seperti punya maksud—mencari reaksi, memancing kesalahan, lalu mengeksekusi. Nikolay “Gladiator” Veretennikov berada di tipe kedua.

Lahir 22 Desember 1989 dan dikenal berasal dari Astana, Kazakhstan, Veretennikov datang ke panggung dunia dengan bekal yang sangat khas wilayahnya: Wushu Sanda—seni bertarung yang mengajarkan petarung untuk memukul keras, menendang cepat, dan membaca jarak dengan disiplin militer. Ia kini berusia 36 tahun, bertarung di kelas welterweight, dengan postur ideal untuk striker: tinggi 185 cm dan jangkauan 188 cm.

Di balik angka-angka itu, ada identitas yang tidak berubah dari awal kariernya sampai masuk UFC: striker agresif yang percaya bahwa pertarungan seharusnya terjadi di ruang yang ia kuasai—di depan, di tengah oktagon, dalam jarak pukul. Dan karena fondasi Sanda, ia nyaman bertarung dengan kombinasi lurus-cepat, memotong sudut, lalu memukul lawan sebelum lawan sempat “membalas dengan rencana”.

Data yang Menjelaskan Karakter “Gladiator”

    • Nama: Nikolay Veretennikov
    • Julukan: Gladiator
    • Asal: Astana, Kazakhstan
    • Tanggal lahir: 22 Desember 1989 (36 tahun)
    • Divisi: Welterweight (170 lbs)
    • Tinggi / Jangkauan: 185 cm / 188 cm
    • Stance: Orthodox
    • Tim: Kings MMA
    • Rekor profesional (terbaru): 14–7
    • Stat ringkas UFC (gaya bertarung): akurasi striking 56%, SLpM 2.49, SApM 3.25

Catatan: angka rekor kadang berbeda di beberapa situs karena pembaruan setelah laga terbaru. UFCStats dan ESPN sudah menampilkan 14–7.

Kenapa Pukulan “Lurus dan Efisien” Jadi Senjata Utama

Sanda bukan sekadar “kickboxing versi Tiongkok”. Ia menanamkan kebiasaan penting: menang di pertukaran singkat. Dalam Sanda, satu momen bisa menentukan—pukulan lurus yang masuk bersih, tendangan yang memotong napas, atau tekanan yang memaksa lawan kehilangan keseimbangan.

Itu pula yang terasa pada Veretennikov. Ia bukan striker yang menari terlalu lama. Ia cenderung mendekat dengan rapi, menjaga tangan tetap siap, lalu memecah pertahanan dengan kombinasi cepat. Tak heran jika ia sering dilabeli sebagai petarung dengan persentase kemenangan KO/TKO yang tinggi—bahkan di ringkasan ESPN, distribusi kemenangannya menunjukkan dominasi metode KO/TKO dibanding cara lain.

Julukan “Gladiator” pun terasa pas. Bukan karena ia sekadar nekat, melainkan karena ia mengajak lawan masuk ke medan yang keras: duel berdiri, adu timing, adu keberanian.

Tempat “Gladiator” Mengasah Disiplin dan Struktur

Di level dunia, bakat tidak cukup. Banyak striker hebat tumbang karena satu hal: tidak punya struktur. Itulah mengapa afiliasi Veretennikov dengan Kings MMA penting dalam narasi kariernya. Tim ini dikenal dengan pendekatan yang menekankan kedisiplinan strategi—bagaimana menekan tanpa boros tenaga, bagaimana bertahan dari takedown, dan kapan harus “meledak”.

Veretennikov membawa agresivitas Sanda, lalu memolesnya dengan pola MMA modern: memotong cage, bertahan dari clinch, menahan ancaman gulat, lalu mengembalikan duel ke posisi favoritnya.

Panggung Audisi

Banyak petarung masuk UFC lewat pintu besar bernama Dana White’s Contender Series (DWCS). Veretennikov pernah berdiri di sana pada 2021, menghadapi Michael Morales. Malam itu, ia kalah lewat keputusan juri—namun pertandingan tersebut menyimpan pesan penting: ia sempat tampil efektif di awal, lalu pertarungan berubah ketika Morales berhasil memasukkan elemen grappling dan menguras ritmenya.

DWCS sering kejam karena satu hal: ia tidak hanya menilai “bisa atau tidak”, tetapi menilai “siap atau belum”. Kekalahan itu seperti alarm. Jika ingin bertahan di level UFC, Veretennikov harus menjadi striker yang lebih lengkap: lebih tahan terhadap perubahan ritme dan lebih siap menghadapi lawan yang memaksa gulat atau clinch.

Naik-Turun yang Membentuk Mental

UFC kemudian mencatatnya sebagai atlet roster (profil UFC menampilkan rekam jejaknya di organisasi per Agustus 2024).

Sejak itu, kariernya di UFC berjalan seperti kebanyakan petarung veteran yang baru “nyangkut” di panggung terbesar: ada kemenangan yang membuktikan kualitas, ada kekalahan yang memaksa evaluasi.

Dalam catatan fight history yang beredar di basis data pertarungan:

    • Ia meraih kemenangan atas Francisco Prado (split decision) pada Juli 2025.
    • Ia kalah dari Punahele Soriano (unanimous decision) pada Oktober 2025.

Hasil-hasil ini menunjukkan satu hal: Veretennikov bukan petarung yang “datang numpang lewat”. Ia bisa bertarung penuh tiga ronde, bisa bertahan di tekanan, namun masih berada di fase mencari konsistensi—bagaimana memastikan gameplan-nya berjalan mulus melawan berbagai tipe lawan.

TKO Brutal atas Niko Price di Februari 2026

Lalu datang satu malam yang mengubah nada pembicaraan: 7 Februari 2026, di UFC Vegas 113 (juga tercatat sebagai UFC Fight Night Bautista vs Oliveira). Lawannya adalah veteran berbahaya, Niko Price—petarung yang dikenal liar, punya power, dan bisa memancing perang.

Yang terjadi justru sebaliknya: Veretennikov tampil seperti versi paling tajam dari dirinya.

Ia menekan, memotong ruang, lalu menjebak Price di pagar. Kombinasi serangannya rapi tapi kejam—sebuah right hand yang merusak, dilanjutkan serangan lutut dan pukulan presisi hingga wasit menghentikan laga pada 1:42 ronde pertama.

Kemenangan ini bukan sekadar highlight. Ini adalah pembuktian identitas. MMA Fighting menekankan bahwa kemenangan tersebut juga memperbaiki rekor UFC-nya dan menjadi momen comeback penting setelah periode sulit.

Di usia 36, kemenangan TKO secepat itu punya makna khusus: power-nya masih ada, timing-nya masih elit, dan keberaniannya belum berkurang.

Orthodox Sanda, Tekanan Maju, dan Pertahanan Takedown yang Menjadi Kunci

Di atas kertas, gaya Veretennikov tampak sederhana:

    • stance orthodox,
    • kombinasi pukulan cepat,
    • tekanan maju.

Tapi detailnya yang membuat ia berbahaya adalah efisiensi. UFCStats menampilkan akurasi striking 56%—angka yang mengindikasikan ia tidak “melempar kosong” terlalu sering. Ia memilih pukulan yang masuk.

Di welterweight modern, striker hanya bisa bersinar jika ia mampu menjaga pertarungan tetap berdiri. Itulah mengapa narasi tentang pertahanan takedown dan kemampuan menahan tekanan clinch menjadi penting dalam evolusi Veretennikov—dan kemenangan atas Price menunjukkan betapa berbahayanya ia ketika pertarungan tetap di jalur striking.

“Second Wind” Seorang Petarung Veteran

Banyak atlet pada usia pertengahan 30-an mulai bertarung aman—mengurangi risiko, mencari keputusan juri. Veretennikov justru tetap bertarung dengan watak “Gladiator”: menekan, mencari momen, dan berani menutup laga.

Itu yang membuatnya menarik untuk diikuti. Ia bukan prospek muda dengan hype. Ia adalah petarung yang seperti hidup dari pembuktian—setiap pertarungan adalah cara untuk berkata: “Saya masih bisa menghentikan siapa pun jika saya dapat jarak saya.”

Apa Berikutnya untuk “Gladiator” di UFC?

Nikolay Veretennikov mungkin bukan nama yang selalu muncul di headline, tapi ia punya sesuatu yang paling dicari promotor: kemampuan mengakhiri pertarungan dan gaya bertarung yang membuat penonton berdiri.

Jika ia mampu menjaga konsistensi—terutama dalam menghadapi lawan yang kuat di grappling—maka Veretennikov bisa menjadi “spoiler” yang berbahaya di welterweight: petarung yang tidak diprediksi menang, tapi sanggup membuat malam siapa pun berantakan dengan satu rangkaian serangan.

Dan selama ia masih memegang identitas Sanda-nya—tepat, cepat, efisien—nama “Gladiator” tidak akan sekadar julukan. Ia akan tetap menjadi ancaman.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...