Jakarta – Ada petarung yang bertarung seperti ahli matematika—menghitung jarak, mencuri poin, lalu pulang dengan kemenangan rapi. Paulo Costa bertarung seperti perubahan cuaca ekstrem. Begitu bel berbunyi, atmosfer di oktagon ikut berubah: lawan dipaksa mundur, napas dipaksa pendek, dan ruang gerak dipaksa menyempit.
Di dunia MMA, itulah alasan kenapa ia dijuluki “Borrachinha” dan “The Eraser”—julukan yang terasa seperti dua sisi dari satu karakter: petarung yang menekan tanpa henti dan mencoba “menghapus” rencana lawan dengan kekerasan ritme. Costa lahir pada 21 April 1991 di Belo Horizonte, Minas Gerais, Brasil, dan hingga kini rekornya tercatat 15 kemenangan dan 4 kekalahan, dengan 11 kemenangan KO/TKO, 1 submission, dan 3 keputusan.
Profil singkat
-
- Nama lengkap: Paulo Henrique Costa
- Lahir: 21 April 1991, Belo Horizonte, Minas Gerais, Brasil
- Julukan: “Borrachinha”, “The Eraser”
- Divisi utama: UFC Middleweight (185 lbs)
- Rekor pro: 15–4 (11 KO/TKO, 1 SUB, 3 DEC)
Belo Horizonte dan karakter petarung Brasil
Belo Horizonte bukan sekadar titik lahir; kota ini melahirkan banyak atlet tarung Brasil yang terbiasa dengan kultur “kerja keras dulu, bicara belakangan.” Di konteks Costa, kultur itu menempel pada cara ia bertarung: ia lebih suka membuktikan sesuatu dengan pukulan, bukan dengan gestur teatrikal.
Yang membuat Costa cepat menonjol sejak awal karier regional Brasil adalah formula yang sederhana tapi mematikan: maju, tekan, pukul keras—ulang lagi. Ia tidak menunggu lawan membuat kesalahan; ia memaksa lawan membuat kesalahan karena terus berada di depan wajah mereka.
Dan ketika UFC merekrutnya dari jalur regional, mereka tidak sedang mengambil “proyek jangka panjang.” Mereka mengambil petarung yang sudah punya identitas siap jual: finisher.
Debut yang langsung jadi tanda tangan
Debut UFC Costa terasa seperti deklarasi. Bukan sekadar menang—tetapi menang dengan cara yang menyatakan, “Saya datang untuk menghabisi.” Di awal karier UFC, ia langsung mengukuhkan reputasi sebagai petarung yang menutup ruang dan memaksa pertarungan menjadi pertukaran keras. UFC dan berbagai catatan kariernya menempatkan Costa sebagai petarung dengan kemenangan KO yang dominan, dan itu konsisten hingga total 11 KO/TKO di rekor profesionalnya.
Yang membuat “Borrachinha” berbeda dari banyak striker bertenaga adalah bagaimana ia menyerang:
-
- Ia tidak sekadar melepaskan satu pukulan keras.
- Ia melepaskan kombinasi, lalu menempel lagi.
- Ia menarget tubuh dan kepala untuk menguras stamina dan reaksi.
- Ia memaksa lawan bekerja defensif terus-menerus sampai tangan mereka terlambat naik.
Tekanan seperti ini bukan cuma fisik; itu mental. Lawan mulai ragu: kalau bergerak mundur, pagar ada di belakang. Kalau berdiri di tempat, kombinasi datang. Kalau mencoba keluar, Costa mengejar.
KO, tekanan, dan reputasi “The Eraser”
Rekor Costa menjelaskan semuanya: 15 kemenangan, dan mayoritasnya berakhir lewat KO/TKO.
Di divisi middleweight yang penuh striker, itu membuat nama Costa selalu relevan—karena ia membawa sesuatu yang sulit dilatih: keinginan untuk bertarung dalam api.
Dalam fase pendakian ini, banyak orang mengingatnya sebagai petarung yang “membawa perang” ke lawan. Ia tidak selalu bertarung cantik, tapi ia membuat pertarungan menjadi tempat yang sangat tidak nyaman—dan itu sering kali cukup untuk mematahkan gameplan siapa pun.
Malam pembuktian paling ikonik
Jika ada satu pertarungan yang mengubah Costa dari “petarung menakutkan” menjadi “penantang serius,” itu adalah duel melawan Yoel Romero. Pertarungan itu sering disebut sebagai perang, karena kedua orang membawa daya ledak dan ketahanan yang ekstrem—dan Costa menang lewat keputusan bulat serta meraih bonus “Fight of the Night.”
Di titik ini, publik melihat sesuatu yang penting: Costa bukan hanya pemukul keras. Ia bisa bertahan dalam badai, tetap menekan, dan tetap menang ketika pertarungan tidak selesai cepat.
Panggung terbesar
Pendakian yang keras akhirnya membawanya ke laga terbesar: perebutan gelar melawan Israel Adesanya. Di laga itu, Costa mengalami kekalahan TKO yang menjadi titik balik narasi kariernya—bukan lagi “tak terkalahkan,” melainkan petarung yang harus menemukan bentuk terbaiknya lagi di puncak level elite.
Untuk petarung dengan gaya tekanan konstan, Adesanya adalah ujian paling brutal: striker jarak jauh yang menghukum setiap langkah maju yang terlalu percaya diri. Dan dari situ, karier Costa memasuki fase baru: fase adaptasi, manajemen tubuh, jadwal yang naik-turun, serta sorotan publik yang makin keras.
Naik-turun, kritik, dan “drama manusia” seorang petarung
Setelah laga gelar, Costa mengalami periode yang ramai—termasuk situasi penjadwalan dan kontroversi terkait berat badan saat laga melawan Marvin Vettori yang akhirnya berlangsung di kelas lebih tinggi. Ia kalah keputusan, dan momen itu menjadi pelajaran publik tentang betapa kerasnya aspek “di luar pertarungan” dalam karier fighter: pemotongan berat, manajemen tubuh, dan disiplin kamp.
Namun meski hasilnya tidak selalu sesuai ekspektasi, identitas Costa tetap sama: ia selalu datang sebagai “pengganggu rencana.” Bahkan ketika ia kalah, ia jarang menjadi petarung yang pasif—ia tetap mencoba memaksa.
Kemenangan atas Roman Kopylov dan langkah besar ke light heavyweight
Dalam perkembangan terbaru, Costa disebut datang dari kemenangan keputusan atas Roman Kopylov di UFC 318 (Juli 2025), yang menghentikan tren kekalahan dan menghidupkan momentum.
Yang lebih menarik: laporan terbaru menyebut Costa naik divisi ke Light Heavyweight dan dijadwalkan menghadapi Azamat Murzakanov di UFC 327 pada 11 April 2026.
Ini seperti membuka bab baru untuk “Borrachinha”: beban cut berat berkurang, tenaga bisa lebih terjaga, dan tekanan khasnya mungkin terasa lebih “natural.” Tapi risikonya juga jelas: di 205 lbs, power lawan lebih besar, dan kesalahan kecil bisa dibayar lebih mahal.
Gaya bertarung
Tekanan sebagai senjata utama
Costa bukan petarung yang menunggu ronde berjalan. Ia ingin memegang kontrol psikologis sejak awal: membuat lawan merasa dikejar.
Kombinasi keras—bukan satu pukulan
KO/TKO Costa sering lahir bukan dari satu serangan tunggal, melainkan dari rangkaian: tangan masuk, tubuh disakiti, lalu kepala ditutup.
Striking yang produktif (tapi juga berisiko)
Statistik di UFCStats menggambarkan ia mendaratkan dan menerima pukulan dalam volume tinggi—cermin dari gaya “saling bunuh” yang selalu ada dalam permainannya.
Singkatnya: Costa adalah petarung yang membuat pertarungan “ramai.” Dan di UFC, petarung seperti ini hampir selalu punya tempat—karena penonton tidak datang untuk melihat orang berlari, penonton datang untuk melihat konflik.
Paulo Costa sudah merasakan semua rasa di UFC: menang KO, menang perang tiga ronde, jadi penantang gelar, lalu masuk fase naik-turun yang membuat publik terus memperdebatkan: apakah ia bisa kembali ke versi paling menakutkan?
Kini, dengan rekor yang masih penuh ancaman (11 KO/TKO dari 15 kemenangan) dan rencana pindah ke 205 lbs yang membuka bab baru, cerita Costa terasa hidup lagi.
Karena satu hal tidak pernah berubah: jika “Borrachinha” menemukan ritme tekanannya, siapa pun bisa terlihat rapuh.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda