Jakarta – Di ONE Championship—terutama di panggung ONE Friday Fights yang hampir setiap pekan “membakar” Lumpinee Stadium—kickboxing tidak sekadar soal teknik. Ini soal keberanian. Banyak petarung punya kombinasi bagus, punya tendangan kencang, punya rencana matang. Tapi hanya sedikit yang benar-benar sanggup membuat ring berubah jadi badai—dan tetap nyaman berada di tengah badai itu.
Hiroki Naruo adalah salah satu dari sedikit nama yang identik dengan “badai”.
Ia lahir pada 26 Agustus 2002 di Jepang, dan sejak awal tampil di ONE, Naruo sudah menunjukkan satu karakter yang sulit diajarkan: insting untuk memaksa tempo. Bukan tempo “rapi” yang pelan, melainkan tempo yang mencekik—kombinasi pukulan dan tendangan datang berlapis, memaksa lawan bertahan sambil berjalan mundur, sampai suatu saat kaki mereka berhenti bergerak dan wasit masuk. Tapology mencatat tanggal lahir Naruo dan menyebutnya bertarung di kelas bantamweight.
Namun, seperti semua prospek yang naik cepat, Naruo juga mengalami fase ketika gaya agresifnya bertemu lawan yang mampu membaca ritme, lalu menghukum satu celah kecil dengan harga paling mahal: knockout. Ia mengalami dua KO yang paling banyak dibicarakan di ONE:
-
- KO tendangan kepala dari Zhang Jingtao di ONE Friday Fights 118 (1 Agustus 2025).
- KO satu pukulan dari Chen Jiayi di ONE Friday Fights 140 (30 Januari 2026).
Di antara dua kekalahan itu, ada kisah menarik tentang bagaimana Naruo sempat membangun momentum lewat kemenangan-kemenangan TKO yang penuh knockdown dan drama—menciptakan reputasi bahwa setiap pertandingannya “berisiko jadi highlight”.
Profil singkat
-
- Nama: Hiroki Naruo (成尾拓輝)
- Lahir: 26 Agustus 2002, Jepang
- Disiplin: Kickboxing (ONE Championship)
- Kelas: bantamweight / flyweight catchweight di ONE Friday Fights (sering tercatat 139 lb atau flyweight kickboxing tergantung matchup)
- Ciri gaya: striker agresif, kombinasi cepat, tempo tinggi, sering menciptakan knockdown dan TKO
Lahir 2002: generasi petarung yang dibesarkan oleh ritme cepat
Naruo lahir di era ketika kickboxing modern makin menuntut dua hal: kecepatan dan kesanggupan bertahan di bawah tekanan. Banyak petarung muda Jepang membawa ciri striking yang bersih—lurus, rapat, dan disiplin. Naruo punya fondasi itu, tetapi ia memilih cara yang lebih “berbahaya”: membuat pertarungan jadi liar.
Di ONE, ia sering tampil seperti petarung yang tidak menunggu “momentum”. Ia menciptakan momentum dengan paksa. Saat lawan mulai “menyetel jarak”, Naruo sudah melempar kombinasi. Saat lawan ingin memutar sudut, Naruo menutup jalur kabur. Dan ketika lawan berusaha membalas, Naruo justru mengundang pertukaran—karena ia percaya pada power dan volume.
Inilah mengapa banyak kemenangan Naruo di ONE Friday Fights terasa cepat: bukan karena ia sekadar memukul keras, tapi karena ia membuat lawan tidak sempat membangun rencana.
ONE Friday Fights
ONE Friday Fights adalah ekosistem yang “menghadiahi” gaya Naruo: format ring di Lumpinee, tempo cepat, dan penonton yang haus aksi. Di sinilah Naruo menciptakan identitasnya.
Salah satu highlight yang menggambarkan “DNA Naruo” adalah pertarungan melawan Zhang Haiyang. ONE menggambarkannya sebagai comeback dramatis—Naruo sempat knockdown, lalu membalas dengan tiga knockdown miliknya sendiri untuk mengamankan TKO (stoppage) yang menguatkan reputasinya sebagai petarung yang berbahaya bahkan saat sedang terluka.
Naruo juga punya duel yang sering disebut sebagai “nonstop chaos” melawan Zhang Jinhu. ONE memutar ulang pertarungan itu sebagai laga penuh jatuh-bangun yang berakhir dengan kemenangan TKO untuk Naruo—lagi-lagi menegaskan bahwa ia bukan petarung yang menang karena aman; ia menang karena sanggup bertahan di tengah kekacauan dan tetap mendaratkan serangan lebih banyak.
Di titik ini, Naruo tampak seperti “produk ideal” untuk Friday Fights: petarung yang membuat penonton yakin bahwa KO bisa datang kapan saja—dari dirinya, atau untuk dirinya.
Kebangkitan yang rapuh
Momentum adalah pedang bermata dua. Ketika Naruo mengumpulkan kemenangan-kemenangan TKO, ia otomatis menarik lawan yang lebih disiplin—petarung yang mau menahan badai, membaca pola, lalu menghukum.
Dan di situlah dua malam pahit itu datang.
1. KO tendangan kepala dari Zhang Jingtao: akhir dari win streak
Pada ONE Friday Fights 118, Naruo menghadapi Zhang Jingtao dalam laga kickboxing 139-pound. ONE mencatat Zhang Jingtao menang KO lewat tendangan kepala, memutus kemenangan beruntun Naruo.
Untuk petarung agresif, tendangan kepala lawan sering terjadi karena satu hal: ritme sudah terbaca. Saat Naruo menekan dan masuk dengan pola tertentu, lawan menunggu timing. Begitu jarak tepat, satu tendangan kepala mengakhiri semuanya. Ini bukan sekadar kekalahan—ini pelajaran pahit tentang bagaimana agresi harus disertai variasi entry dan defense.
2. KO satu pukulan dari Chen Jiayi: dihukum saat pertarungan berjalan jauh
Beberapa bulan kemudian, Naruo kembali menerima KO, kali ini dari Chen Jiayi pada ONE Friday Fights 140 (30 Januari 2026). ONE menyebut Chen Jiayi meraih KO ronde 3 lewat satu pukulan.
Yang menarik: KO ini terjadi di ronde 3. Artinya, Naruo masih berada dalam pertarungan panjang—dan di situlah bahaya gaya tekanan muncul. Ketika kamu menekan terus, kamu juga membuka peluang counter. Jika lawan tetap tenang sampai ronde akhir, satu counter bersih bisa mematikan tubuh yang sudah lelah.
Dua KO ini membentuk ulang narasi Naruo: dari “finisher muda yang sedang naik” menjadi “petarung atraktif yang harus memoles defense untuk naik level berikutnya.”
Gaya bertarung
Kalau harus diringkas, gaya Naruo punya tiga ciri utama:
-
- Kombinasi cepat, bukan satu serangan tunggal
Ia menembak pukulan-tendangan dalam rangkaian. Ketika lawan menutup guard, ia pindah target. Ketika lawan mundur, ia menambah volume. - Tekanan dengan langkah maju
Naruo tidak hanya memukul; ia memaksa lawan bertarung sambil mundur. Itu melelahkan karena lawan harus bertahan sambil mengatur posisi. - Keberanian bertukar di momen “tidak nyaman”
Naruo terbukti sanggup kembali dari knockdown dan tetap menang TKO, seperti yang ditonjolkan ONE pada pertarungan melawan Zhang Haiyang.
- Kombinasi cepat, bukan satu serangan tunggal
Kenapa Naruo tetap “bernilai” meski sudah dua kali KO
Di olahraga tarung, KO bisa membunuh hype—atau justru membentuk karakter. Untuk Naruo, dua KO itu membuatnya masuk fase paling penting dalam karier striker muda:
-
- Apakah ia akan tetap menjadi petarung “chaos” yang sama?
- Atau ia akan menjadi versi yang lebih dewasa—tetap agresif, tapi lebih cerdas?
Banyak striker besar di masa lalu lahir dari momen KO yang memaksa mereka memperbaiki detail kecil: head movement, timing keluar-masuk, guard saat menyerang, dan disiplin jarak. Naruo punya modal paling sulit: keberanian dan insting menyerang. Jika ia menambahkan lapisan defense tanpa mematikan identitas, ia bisa kembali bukan hanya sebagai “petarung seru”, tapi juga kompetitor yang lebih stabil.
Hal lain yang membuatnya menarik: ONE sendiri cukup sering mengangkat laga-laganya dalam konten highlight dan playlist—tanda bahwa Naruo adalah tipe petarung yang membawa nilai hiburan tinggi untuk platform Friday Fights.
Hiroki Naruo adalah simbol “Friday Fights fighter”: agresif, cepat, penuh kombinasi, dan sering berakhir TKO—jenis petarung yang membuat Lumpinee terasa seperti arena gladiator modern. Ia sudah merasakan dua sisi profesi ini: euforia menang lewat stoppage, dan dinginnya KO saat lawan menemukan celah.
Jika Naruo mampu memoles pertahanan—terutama terhadap tendangan kepala dan counter punch—tanpa menghilangkan tekanan khasnya, ia bisa menjadi ancaman yang lebih komplet di peta kickboxing ONE. Karena pada akhirnya, petarung yang paling berbahaya bukan yang selalu menyerang… tapi yang tahu kapan harus menyerang, dan kapan harus mengundang lawan masuk ke perangkap.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda