Talita Alencar “Problem Child”: Dari Carutapera Ke Oktagon UFC

Piter Rudai 22/03/2026 4 min read
Talita Alencar “Problem Child”: Dari Carutapera Ke Oktagon UFC

Jakarta – Ada petarung yang terlihat hidup ketika pertarungan berdirli, bertukar pukulan, menari di jarak, dan menunggu momen KO. Talita Alencar justru seperti menemukan napasnya saat pertarungan jatuh ke bawah. Di sana, di atas kanvas, ia berubah menjadi sesuatu yang paling dibenci oleh striker mana pun: grappler yang tidak memberi ruang.

Talita lahir pada 17 Oktober 1990 di Carutapera, Maranhão, Brasil. Dari kota kecil di utara Brasil itu, ia menempuh jalan yang panjang sampai akhirnya berdiri di panggung paling keras di MMA: UFC.

Kini ia bertarung di Women’s Strawweight (115 lbs/52 kg), dikenal sebagai spesialis Brazilian Jiu-Jitsu dengan gaya grappling agresif—takedown berulang, kontrol posisi, lalu submission yang datang cepat ketika lawan panik. Rekor profesionalnya tercatat 7 menang, 1 kalah, 1 imbang (dan kamu menyebut jalurnya lewat DWCS yang mengantarnya ke panggung utama).

Siapa Talita Alencar di mata angka

Sebelum masuk ke ceritanya, biodatanya menggambarkan identitasnya dengan cukup jujur:

    • Nama lengkap: Ana Talita de Oliveira Alencar
    • Asal: Carutapera, Maranhão, Brasil
    • Tanggal lahir: 17 Oktober 1990
    • Divisi UFC: Strawweight (115 lbs)
    • Rekor pro MMA: 7–1–1 (UFCStats menampilkan total record dan daftar lawan)
    • Pola kemenangan: mayoritas menang lewat submission (Sherdog menampilkan 4 submission dari 7 kemenangan; UFCStats menampilkan daftar kemenangan/kekalahan)

Julukannya “Problem Child” terasa pas karena gaya bertarungnya memang mengundang masalah: sekali tangan Talita sudah mengunci pinggul, pertarungan berubah jadi teka-teki yang tidak semua orang bisa pecahkan.

Dari Maranhão menuju hidup yang lebih besar

Talita bukan kisah “anak kecil yang sejak awal ditakdirkan jadi petarung.” Ia tumbuh, berpindah, dan mengalami banyak fase—Wikipedia mencatat keluarganya pindah ke Fortaleza ketika ia masih kecil, dan Talita sempat mencoba berbagai olahraga sebelum benar-benar “klik” dengan BJJ.

Yang menarik dari fase ini adalah: Talita membangun stamina mental lebih dulu. Orang-orang yang lama berada di olahraga ketahanan dan disiplin biasanya membawa satu kualitas saat masuk MMA: mau melakukan hal yang melelahkan berulang-ulang. Dan grappling adalah dunia yang sangat mengandalkan kebiasaan itu.

BJJ sebagai identitas, bukan sekadar latar

Sebelum MMA memanggil, Talita sudah lebih dulu mengumpulkan reputasi di BJJ. BJJHeroes menulis bahwa ia sabuk hitam (dengan jalur guru/afiliasi yang kuat), serta mengantongi titel-titel penting sejak masa belt bawah, termasuk performa menonjol saat membawa bendera GF Team sebelum kemudian bergabung dengan Alliance.

Inilah fondasi yang menjelaskan kenapa Talita di MMA terlihat “lebih nyaman” ketika pertarungan jadi kotor:

    • ia paham cara mengunci posisi,
    • paham kapan menahan dan kapan menyerang,
    • dan paham bahwa kemenangan sering datang bukan dari satu gerakan, tetapi dari rangkaian transisi.

Menyeberang ke MMA

Peralihan dari BJJ ke MMA biasanya punya satu tantangan utama: pukulan. Di BJJ, kamu bisa “mengorbankan” posisi tertentu untuk mengejar kuncian. Di MMA, pengorbanan itu bisa dibayar mahal karena lawan akan memukulmu di tengah transisi.

Talita memilih menjadi tipe grappler yang ofensif, bukan yang menunggu lawan masuk clinch, tetapi yang mencari takedown. Dan ketika takedown tidak langsung bersih, ia akan mengulang lagi: dorong ke pagar, ganti level, tarik kaki, jatuhkan, lalu kontrol.

Gaya ini menjelaskan kenapa banyak kemenangan Talita terasa seperti “dibangun.” Ia memaksa lawan bekerja keras hanya untuk berdiri—dan saat lawan mulai lelah, leher dan punggung sering terbuka.

Draw yang tidak manis, tapi penting

Talita sempat muncul di Dana White’s Contender Series Season 7 Week 7 melawan Stephanie Luciano dan pertarungan itu berakhir draw (UFC menuliskan hasilnya draw dengan skor 28-28 di semua kartu).

Ini jenis hasil yang “menggantung” bagi petarung:

    • kamu tidak kalah,
    • tapi juga tidak memberi alasan “mudah” bagi promotor untuk langsung memelukmu.

Namun bagi Talita, draw ini justru menjadi semacam cap: ia bisa tampil di panggung audisi paling kejam, dan tetap berdiri. Itu bukan akhir—itu batu loncatan.

Menang, kalah, dan karakter yang tetap sama

Pada level UFC, Talita sudah merasakan dua sisi yang sama-sama membentuknya:

Menang lewat grappling—cara yang paling “Talita”

Salah satu kemenangan terbesarnya adalah saat ia mengunci Ariane Carnelossi dengan rear-naked choke di UFC Vegas 110 (laporan hasil menulis submission R3).

Pertarungan ini terasa seperti ringkasan identitasnya: dia bisa melewati momen sulit, terus menempel, lalu ketika peluang punggung terbuka, ia menyelesaikan.

Menang angka—tanda bahwa ia tidak bergantung pada satu hasil

Talita juga mencatat kemenangan keputusan atas Vanessa Demopoulos (tertera di UFCStats).

Ini penting, karena grappler yang ingin bertahan lama di UFC tidak boleh “mati” ketika submission tidak datang. Mereka harus tetap bisa menang lewat kontrol, damage kecil, dan konsistensi.

Kekalahan yang menguji: saat lawan punya jawaban

UFCStats juga menampilkan bahwa Talita memiliki kekalahan dari Stephanie Luciano di panggung UFC.

Kekalahan seperti ini sering menjadi cermin: apakah entry takedown sudah cukup rapi? apakah transisi terlalu memaksa? apakah striking cukup untuk memaksa lawan bereaksi?

Talita terlihat seperti petarung yang, apa pun hasilnya, tidak mengubah identitas. Ia tetap “Problem Child” yang ingin membawa pertarungan ke tempat paling berbahaya bagi lawan: ground.

Kenapa Talita Alencar selalu berbahaya di 115 lbs

Pertama, dia kecil tapi “berat.” Dalam grappling, ukuran bukan hanya soal tinggi. Ini soal cara memindahkan berat badan dan menutup ruang. Talita adalah tipe yang membuat lawan merasa ditindih, walau di atas kertas ia tidak besar.

Kedua, dia menyerang dengan pola yang menyiksa. Takedown Talita jarang berhenti di satu percobaan. Ia mengulang sampai lawan membuat kesalahan. Dan di UFC, kesalahan kecil biasanya cukup untuk memberi punggung—dan punggung adalah rumah bagi rear-naked choke.

Ketiga, dia punya identitas yang jelas. Banyak petarung bingung: ingin striker atau grappler. Talita jelas: aku grappler duluan. Striking dipakai untuk membuka pintu, bukan untuk tinggal lama di ruang tamu.

Talita Alencar adalah tipe petarung yang membuat orang bertanya bukan “seberapa keras pukulannya,” tetapi “seberapa lama aku bisa bertahan sebelum jatuh.” Dengan rekor yang solid dan kemenangan submission yang menegaskan identitas BJJ-nya, Talita adalah ancaman nyata di strawweight—divisi yang sering ditentukan oleh pace tinggi, scramble cepat, dan siapa yang lebih sabar di posisi buruk.

Kalau kamu bertemu Talita di oktagon, kamu sebenarnya sedang bernegosiasi dengan satu hal: apakah kamu bisa tetap berdiri sepanjang malam. Karena begitu jatuh, dunia milik Talita dimulai.

(PR/timKB).

Sumber foto: facebook

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...