Jakarta – Di tengah dominasi petarung Thailand dalam dunia Muay Thai, muncul sosok asal Amerika Serikat yang berhasil menarik perhatian berkat gaya bertarungnya yang atraktif dan tidak mudah ditebak. Ia adalah Luke “The Chef” Lessei, striker berbakat yang berkompetisi di divisi Featherweight ONE Championship. Lahir pada 30 April 1996, Lessei memiliki postur ideal dengan tinggi 185 sentimeter dan berat bertanding sekitar 70 kilogram. Berlatih di Dubuque Martial Arts Group, Iowa, ia dikenal sebagai petarung yang gemar memadukan teknik Muay Thai tradisional dengan kreativitas tinggi. Julukan “The Chef” bukan hanya identitas semata, tetapi juga menggambarkan caranya “meracik” kombinasi serangan yang unik dan sering kali mengejutkan lawan. Hingga pertengahan 2026, Lessei membukukan rekor 3 kemenangan dan 3 kekalahan di ONE Championship, dengan dua kemenangan diraih melalui KO/TKO dan satu melalui keputusan juri.
Perjalanan Lessei menuju dunia bela diri dimulai sejak usia muda di negara bagian Iowa. Berbeda dengan banyak atlet Muay Thai Amerika yang berasal dari pusat-pusat latihan besar seperti California atau Nevada, Lessei tumbuh jauh dari sorotan. Ketertarikannya terhadap olahraga tarung bermula ketika ia mempelajari berbagai disiplin bela diri sebagai sarana membangun disiplin dan kebugaran. Seiring waktu, ia menemukan bahwa Muay Thai menjadi cabang yang paling sesuai dengan karakter bertarungnya. Seni delapan tungkai itu memberinya kebebasan untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memanfaatkan keunggulan fisiknya yang tinggi dan bertubuh ramping.
Di bawah bimbingan pelatih di Dubuque Martial Arts Group, Lessei berkembang menjadi striker yang memiliki gaya bertarung berbeda dari kebanyakan atlet Muay Thai. Ia tidak hanya mengandalkan kombinasi pukulan dan tendangan konvensional, tetapi juga sering menggunakan sudut serangan yang tidak lazim, tendangan berputar, siku dari berbagai arah, hingga variasi serangan yang membuat lawan sulit membaca pola permainannya. Kreativitas tersebut membuat namanya mulai dikenal di berbagai ajang Muay Thai profesional di Amerika Serikat.
Karier profesional Lessei berkembang melalui sejumlah promotor regional sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan tampil di panggung internasional. Penampilan-penampilannya yang atraktif menarik perhatian ONE Championship, organisasi bela diri terbesar di Asia yang dikenal mempertemukan para striker elite dunia. Kesempatan bergabung dengan ONE menjadi lompatan besar dalam kariernya karena ia harus menghadapi lawan-lawan yang sebagian besar berasal dari Thailand dan memiliki pengalaman ratusan pertandingan.
Debut Lessei di ONE Championship berlangsung pada 2023. Menghadapi persaingan yang jauh lebih ketat dibandingkan level regional, ia langsung menunjukkan keberanian untuk tetap mempertahankan identitas bertarungnya. Meskipun harus beradaptasi dengan intensitas pertandingan yang lebih tinggi, penampilannya berhasil mencuri perhatian berkat gaya menyerang yang menghibur dan penuh improvisasi. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk meraih kemenangan pertamanya di organisasi tersebut, sekaligus membuktikan bahwa petarung Amerika juga mampu bersaing di level tertinggi Muay Thai dunia.
Salah satu penampilan yang paling banyak dibicarakan datang ketika Lessei berhasil mencetak kemenangan KO melalui kombinasi serangan kreatif yang menjadi ciri khasnya. Dalam pertandingan tersebut, ia menunjukkan kemampuan membaca ritme lawan sebelum melepaskan serangan penentu yang mengakhiri laga. Kemenangan itu memperkuat reputasinya sebagai striker yang tidak hanya memiliki teknik tinggi, tetapi juga keberanian mengambil risiko dalam setiap pertarungan.
Namun perjalanan Lessei di ONE Championship tidak selalu berjalan mulus. Menghadapi deretan petarung elite dunia membuatnya beberapa kali harus menerima kekalahan. Pengalaman tersebut justru menjadi proses pembelajaran yang sangat penting. Ia menyadari bahwa kreativitas harus diimbangi dengan disiplin taktik dan pertahanan yang solid. Dari setiap kekalahan, Lessei terus memperbaiki pengambilan keputusan, manajemen tempo, dan kemampuan bertahan saat menghadapi tekanan dari lawan yang lebih berpengalaman.
Hingga pertengahan 2026, rekor Lessei di ONE Championship tercatat 3 kemenangan dan 3 kekalahan. Dari tiga kemenangan tersebut, dua diraih melalui KO/TKO, sementara satu lainnya melalui keputusan juri. Statistik itu menunjukkan bahwa kekuatan pukulan dan tendangan tetap menjadi senjata utamanya, meski ia juga mampu memenangkan pertandingan melalui penguasaan teknik dan aktivitas menyerang selama tiga ronde penuh.
Gaya bertarung Lessei menjadi salah satu yang paling unik di divisi featherweight. Dengan jangkauan tubuh yang panjang, ia memanfaatkan jab, tendangan depan, dan teep untuk menjaga jarak sebelum melancarkan kombinasi yang sulit diprediksi. Ia gemar menggunakan siku berputar, tendangan memutar, hingga variasi serangan yang jarang digunakan petarung lain. Kreativitas inilah yang membuat julukan “The Chef” terasa sangat tepat, karena setiap pertandingannya seperti menyajikan “racikan” teknik yang berbeda.
Di balik gaya bertarung yang atraktif, Lessei menjalani latihan dengan disiplin tinggi. Bersama Dubuque Martial Arts Group, ia menggabungkan latihan Muay Thai, strength and conditioning, peningkatan fleksibilitas, serta sparring dengan berbagai tipe lawan. Selain mengasah teknik, ia juga menaruh perhatian besar pada aspek kebugaran dan daya tahan agar mampu mempertahankan tempo tinggi sepanjang pertandingan.
Mentalitas kompetitif menjadi salah satu kekuatan terbesar Lessei. Ia tidak pernah ragu menghadapi lawan dengan reputasi lebih besar dan selalu menjadikan setiap pertandingan sebagai kesempatan untuk berkembang. Baginya, kemenangan memang penting, tetapi proses belajar dari setiap duel memiliki nilai yang sama besarnya. Sikap tersebut membuatnya terus berkembang sebagai atlet meski harus menghadapi kerasnya persaingan di ONE Championship.
Luke “The Chef” Lessei mungkin belum menyandang gelar juara dunia, tetapi ia telah membangun identitas yang kuat sebagai salah satu striker paling kreatif di ONE Championship. Dari Iowa hingga panggung internasional, ia membuktikan bahwa keberanian bereksperimen dan kemauan untuk terus berkembang mampu membawa seorang atlet bersaing dengan para petarung terbaik dunia. Dengan usia yang masih berada dalam masa emas karier dan kemampuan yang terus berkembang, Lessei tetap memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu penantang utama di divisi featherweight Muay Thai ONE Championship pada tahun-tahun mendatang.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda