Jakarta – Tom “Big Train” Nolan bukan nama yang muncul secara tiba-tiba di panggung UFC. Petarung asal Australia ini membangun kariernya secara bertahap, dari seorang remaja yang berlatih bela diri untuk menunjang permainan rugby hingga menjadi salah satu petarung kelas ringan yang menarik perhatian di Ultimate Fighting Championship (UFC). Lahir di Toowoomba pada 8 Maret 2000 dan kini berbasis di Brisbane, Nolan tumbuh sebagai pemain rugby league sebelum akhirnya menemukan jalan hidupnya di mixed martial arts (MMA).
Ketertarikannya pada MMA bermula pada 2014, ketika Nolan baru berusia 14 tahun. Ia mengaku terinspirasi oleh legenda UFC Anderson Silva dan awalnya berlatih untuk menjaga kebugaran sekaligus menambah kemampuan wrestling yang dapat menunjang rugby. Namun, latihan yang semula hanya menjadi pelengkap perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih serius. Pada 2016, ia menjalani pertandingan amatir pertamanya. Nolan kemudian memenangkan dua gelar amatir XFC dan mengembangkan kemampuan grappling hingga meraih sabuk cokelat Brazilian Jiu-Jitsu pada 2021. Ia juga memiliki latar belakang Muay Thai hingga level black rank.
Setelah menamatkan sekolah, Nolan mulai benar-benar mengarahkan hidupnya kepada MMA. Karier profesionalnya dimulai pada 2020. Ia tampil di sejumlah ajang regional Australia, termasuk Eternal MMA, dan membangun reputasi melalui kemenangan-kemenangan impresif. Sebelum memasuki UFC, ia mencatat kemenangan atas Trevor Sinclair, Niam Stephen, Adam Cook, dan Aidan Aguilera. Tiga kemenangan terakhir tersebut diperoleh melalui penyelesaian pertandingan, memperlihatkan kemampuan Nolan dalam memanfaatkan postur tinggi, jangkauan panjang, serta serangan lutut dan pukulan. Pada 2023, momentum besar datang melalui Dana White’s Contender Series. Menghadapi Bogdan Grad, Nolan mencetak KO pada ronde pertama hanya dalam 1 menit 23 detik melalui pukulan, sekaligus mendapatkan kontrak UFC.
Debut UFC-nya berlangsung pada 13 Januari 2024 melawan Nikolas Motta. Pertandingan tersebut justru menjadi titik terendah awal dalam perjalanan profesionalnya. Nolan yang datang dengan status prospek tak terkalahkan dihentikan Motta melalui TKO pada ronde pertama dalam 1 menit 3 detik. Kekalahan tersebut menjadi satu-satunya noda dalam rekor profesionalnya hingga September 2026. Namun, bagi Nolan, kekalahan itu kemudian menjadi pengalaman penting. Ia mengakui bahwa saat itu dirinya masih kurang berpengalaman, melakukan kesalahan dalam persiapan dan pengaturan berat badan, serta terlalu terbebani ekspektasi. Setelahnya, ia berusaha menemukan kembali kecintaannya terhadap olahraga tersebut.
Respons Nolan terhadap kekalahan itu terlihat dalam rangkaian penampilannya berikutnya. Pada Mei 2024, ia bangkit dengan menghentikan Victor Martinez melalui TKO ronde pertama akibat kombinasi knee to the body dan pukulan. Ia kemudian mengalahkan Alex Reyes melalui keputusan mutlak pada UFC 305, dilanjutkan kemenangan atas Viacheslav Borshchev pada UFC 312 pada Februari 2025. September 2025 menjadi salah satu momen penting lainnya ketika Nolan menghadapi Charlie Campbell. Ia memenangkan pertandingan melalui rear-naked choke pada ronde pertama dalam 4 menit 8 detik. Kemenangan tersebut membuatnya mengoleksi empat kemenangan UFC beruntun setelah kekalahan debut.
Perkembangan paling mutakhir terjadi pada 6 Juni 2026 ketika Nolan menghadapi Fares Ziam. Kali ini ia menunjukkan perkembangan yang lebih menyeluruh, terutama dalam grappling, dan memenangkan pertarungan melalui keputusan mutlak setelah tiga ronde. Hasil itu membuat rekor profesionalnya menjadi 11 kemenangan dan 1 kekalahan (11-1-0), dengan lima kemenangan melalui KO/TKO, satu submission, dan lima keputusan. Di UFC sendiri, rekornya menjadi 5-1. Nolan bertanding di kelas lightweight 155 pound, memiliki tinggi sekitar 188 cm dan reach 73 inci, ukuran yang memberinya keunggulan fisik cukup mencolok di divisinya.
Secara gaya, Nolan dikenal sebagai petarung southpaw dengan permainan striking yang memanfaatkan jarak. Tubuhnya yang tinggi untuk kelas lightweight membuatnya mampu memaksa lawan bertarung dari jarak menengah hingga jauh, sementara akurasi dan kekuatan pukulannya menjadi senjata utama. Ia sendiri pernah menggambarkan gaya bertarungnya secara sederhana sebagai “very violent”. Namun, perkembangannya menunjukkan bahwa Nolan tidak ingin hanya dikenal sebagai striker. Ia terus memperluas kemampuan grappling dan short-range fighting. Dalam persiapannya menghadapi musim UFC, ia bahkan secara khusus menyebut perkembangan elbow game sebagai salah satu peningkatan terbesarnya.
Mentalitas tersebut semakin terlihat dari cara Nolan memandang persiapan. Ia mengatakan ingin selalu menjadi petarung yang berbeda setiap kali memasuki Octagon, sehingga lawan tidak mudah membaca permainannya. Di luar gym, ia mempelajari rekaman pertandingan dan instructional video dari berbagai petarung. Ia menyebut Cory Sandhagen, Charles Oliveira, dan pada masa awal Conor McGregor sebagai sumber inspirasi, kemudian mencoba menggabungkan elemen-elemen yang menurutnya efektif dari berbagai gaya.
Kini, pada usia 26 tahun, perjalanan “Big Train” memasuki fase yang berbeda. Dari rugby league, latihan MMA sejak usia 14 tahun, kompetisi amatir, pekerjaan sebagai apprentice plumber, panggung regional Australia, Contender Series, hingga bangkit dari kekalahan debut UFC, Nolan telah membangun karier yang ditandai oleh proses adaptasi. Rekor 11-1-0 memang menjadi angka penting, tetapi kisah kariernya justru lebih menarik pada bagaimana satu kekalahan mengubah cara pandangnya terhadap olahraga dan mendorongnya kembali membangun dirinya sebagai petarung yang semakin lengkap.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda