Night terror, atau teror malam, adalah fenomena tidur yang menakutkan dan sering kali membingungkan, yang memengaruhi banyak orang di seluruh dunia. Ini bukanlah sekadar mimpi buruk biasa, tetapi sebuah gangguan tidur yang serius dan memerlukan pemahaman yang mendalam. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi apa itu night terror, gejala, penyebab, serta cara mengatasinya.
Apa Itu Night Terror?
Night terror adalah gangguan tidur yang ditandai dengan episode menakutkan yang tiba-tiba dan intens saat tidur. Mereka yang mengalaminya biasanya tiba-tiba bangun dengan teriakan atau tangisan, terlihat sangat ketakutan, dan sulit untuk dibangunkan atau ditenangkan. Tidak seperti mimpi buruk, yang terjadi selama fase tidur REM (Rapid Eye Movement), gangguan ini biasanya terjadi selama tidur non-REM, terutama pada tahap tidur paling dalam (slow-wave sleep).
Gejala Night Terror
Night terror memiliki beberapa gejala khas yang membedakannya dari gangguan tidur lainnya. Berikut adalah beberapa gejala utama dari night terror:
-
- Teriakan atau Tangisan: Orang yang mengalami gangguan tidur ini sering kali tiba-tiba bangun dengan teriakan atau tangisan yang keras, yang dapat mengejutkan orang di sekitar.
- Ketakutan Ekstrem: Mereka terlihat sangat ketakutan atau panik, dengan ekspresi wajah yang menunjukkan ketakutan yang mendalam.
- Kesulitan Dibangunkan: Sulit untuk membangunkan atau menenangkan orang yang mengalaminya. Mereka mungkin tidak responsif terhadap usaha untuk menenangkannya dan sering kali terlihat bingung.
- Gerakan Fisik: Orang yang mengalami gangguan tidur ini mungkin bergerak secara kasar, seperti duduk tegak di tempat tidur, meronta-ronta, atau bahkan berjalan-jalan (somnambulisme).
- Berkeringat dan Detak Jantung Cepat: Gangguan tidur ini sering kali disertai dengan gejala fisik seperti berkeringat, detak jantung yang cepat, dan pernapasan yang cepat.
- Tidak Mengingat Kejadian: Setelah episode berakhir, orang yang mengalami gangguan tidur ini biasanya tidak mengingat apa yang terjadi atau hanya memiliki ingatan samar-samar tentangnya.
Penyebab Night Terror
Night terror bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik fisik maupun psikologis. Berikut adalah beberapa penyebab umum dari night terror:
-
- Stres dan Kecemasan: Tingkat stres dan kecemasan yang tinggi dapat memicu episode night terror. Tekanan emosional atau mental sering kali berperan besar dalam gangguan tidur ini.
- Kurang Tidur: Kurang tidur atau tidur yang tidak nyenyak dapat meningkatkan risiko gangguan tidur ini. Pola tidur yang tidak teratur atau jadwal tidur yang tidak konsisten juga dapat menjadi faktor penyebab.
- Kondisi Medis: Beberapa kondisi medis, seperti sleep apnea, sindrom kaki gelisah, dan gangguan kecemasan, dapat meningkatkan risiko gangguan tidur ini. Gangguan pada sistem saraf pusat juga bisa berperan.
- Obat-obatan: Penggunaan obat-obatan tertentu, terutama yang mempengaruhi sistem saraf pusat, dapat memicu gangguan tidur ini. Misalnya, beberapa jenis antidepresan atau obat tidur.
- Genetik: Night terror cenderung memiliki komponen genetik dan mungkin lebih sering terjadi pada keluarga dengan riwayat gangguan tidur. Anak-anak lebih rentan mengalami gangguan tidur ini dibandingkan orang dewasa.
- Perubahan Lingkungan atau Rutinitas: Perubahan besar dalam lingkungan tidur atau rutinitas harian, seperti pindah rumah atau bepergian, dapat memicu gangguan tidur ini.
- Demam atau Penyakit: Pada anak-anak, demam atau penyakit tertentu dapat memicu episode gangguan ini.
Perbedaan Antara Night Terror Dan Mimpi Buruk
Meskipun night terror dan mimpi buruk sering kali dianggap serupa, sebenarnya mereka adalah dua gangguan tidur yang berbeda dengan karakteristik yang unik. Berikut adalah perbedaan utama antara night terror dan mimpi buruk:
Mimpi Buruk
Mimpi buruk terjadi selama fase tidur REM (Rapid Eye Movement), ketika aktivitas otak tinggi dan mimpi-mimpi paling intens terjadi. Saat mengalami mimpi buruk, orang biasanya dapat terbangun dan menyadari bahwa mereka bermimpi, dan mereka mungkin ingat dengan jelas detail mimpi tersebut. Meskipun mimpi buruk bisa menimbulkan perasaan cemas atau takut, reaksi fisik seperti berkeringat atau detak jantung yang cepat tidak selalu terjadi. Mimpi buruk sering kali disebabkan oleh stres, kecemasan, atau pengalaman traumatis, dan makanan tertentu serta kurang tidur juga dapat memicu mimpi buruk.
Night Terror
Night terror terjadi selama fase tidur non-REM, khususnya pada tahap tidur paling dalam (slow-wave sleep). Orang yang mengalami gangguan tidur ini biasanya tidak terbangun sepenuhnya dan mungkin sulit untuk dibangunkan, serta sering tidak ingat detail dari night terror setelah episode berakhir. Night terror sering kali disertai dengan reaksi fisik yang intens, seperti teriakan, tangisan, berkeringat, detak jantung yang cepat, dan gerakan tubuh yang kasar. Night terror dapat dipicu oleh stres, kecemasan, kurang tidur, kondisi medis seperti sleep apnea, dan faktor genetik. Anak-anak lebih rentan mengalami gangguan tidur ini dibandingkan orang dewasa.
Diagnosa Night Terror
Night terror didiagnosis melalui beberapa langkah yang melibatkan evaluasi medis dan observasi tidur. Dokter atau profesional kesehatan akan memulai dengan membahas riwayat medis pasien dan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi kondisi yang mungkin menjadi penyebab night terror. Mereka juga akan menanyakan tentang gejala yang dialami pasien dan mungkin meminta pasangan tidur atau anggota keluarga untuk memberikan deskripsi tentang perilaku tidur pasien. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin merekomendasikan studi tidur semalam di laboratorium tidur, di mana sensor ditempatkan pada tubuh pasien untuk merekam dan memantau gelombang otak, tingkat oksigen dalam darah, detak jantung, dan pernapasan selama tidur. Studi ini juga dapat mencakup perekaman video untuk mendokumentasikan perilaku pasien selama siklus tidur
Cara Mengatasi Night Terror
Mengatasi night terror memerlukan pendekatan yang holistik, mencakup perubahan gaya hidup serta intervensi medis jika diperlukan. Berikut adalah beberapa cara untuk mengelola dan mengurangi night terror:
-
- Menciptakan Rutinitas Tidur yang Konsisten: Menetapkan waktu tidur dan bangun yang sama setiap hari dapat membantu menstabilkan pola tidur dan mengurangi kemungkinan terjadinya gangguan tidur ini.
- Menciptakan Lingkungan Tidur yang Nyaman: Pastikan kamar tidur nyaman, gelap, dan tenang. Hindari paparan cahaya biru dari perangkat elektronik sebelum tidur.
- Mengelola Stres: Mengurangi stres melalui teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam dapat membantu mengurangi frekuensi night terror.
- Meningkatkan Kualitas Tidur: Pastikan tidur yang cukup setiap malam. Tidur yang cukup dapat membantu meminimalkan gangguan tidur.
- Membatasi Kafein dan Alkohol: Hindari konsumsi kafein dan alkohol sebelum tidur, karena kedua zat ini dapat mengganggu pola tidur.
- Terapi: Terapi kognitif-perilaku (CBT) atau terapi lain yang berfokus pada mengatasi stres dan kecemasan dapat membantu mengurangi gangguan tidur ini.
- Pengobatan Medis: Jika gangguan tidur ini disebabkan oleh kondisi medis seperti sleep apnea, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.
- Pengawasan Malam Hari: Jika anak-anak mengalami gangguan tidur ini, pengawasan dan pendampingan malam hari dapat membantu memastikan mereka tetap aman dan memberikan kenyamanan saat episode terjadi.
Penutup
Night terror adalah gangguan tidur yang menakutkan dan sering kali mengganggu, tetapi dengan pemahaman yang tepat dan pendekatan yang tepat, gejalanya dapat dikelola dan dikurangi. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami night terror, penting untuk mencari bantuan medis dan dukungan yang tepat untuk memastikan tidur yang nyenyak dan sehat.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda