Marwan “Freaky” Rahiki: Dari Rabat Ke Sydney

Piter Rudai 07/02/2026 5 min read
Marwan “Freaky” Rahiki: Dari Rabat Ke Sydney

Jakarta – Ada tipe petarung yang menang dengan rapi—poin demi poin, kontrol demi kontrol. Lalu ada tipe petarung yang menang dengan cara yang terasa seperti lampu stadion mendadak lebih terang: satu momen, satu ledakan, dan semuanya selesai. Marwan “Freaky” Rahiki berada di kubu kedua itu. Ia lahir pada 10 Mei 2002 di Rabat, lalu menata ulang hidup dan kariernya hingga kini berbasis di Sydney, menjelma prospek muda di kelas featherweight dengan rekor yang masih bersih: 7 kemenangan tanpa kekalahan.

Di atas kertas, angka-angkanya sudah cukup untuk membuat siapa pun menoleh. Dari tujuh kemenangan, enam di antaranya berakhir lewat KO/TKO—sekitar 86%—sementara satu sisanya melalui submission. Tidak ada kemenangan keputusan. Tidak ada “menang tipis.” Hanya dua pilihan: kamu jatuh, atau kamu menyerah.

Julukan “Freaky” pun terasa seperti petunjuk. Bukan karena ia bertarung serampangan—justru sebaliknya—melainkan karena ia punya cara menutup laga yang tidak biasa untuk petarung muda: tajam, ganas, dan seolah selalu memaksa lawan bertarung di batas kemampuan mereka.

Siapa Rahiki dan apa yang ia bawa?

Rahiki adalah petarung featherweight (145 lbs) yang secara statistik terdaftar dengan tinggi 5’8” (173 cm), jangkauan 72 inci (183 cm), dan stance orthodox. Ia lahir 10 Mei 2002 dan tercatat “born: Rabat, Morocco” serta “fighting out of: Sydney, Australia.”

Di level gym, ia terafiliasi dengan Lions Den Academy. Itu penting, karena petarung striker agresif biasanya butuh dua hal agar “agresif” tidak berubah menjadi “ceroboh”: disiplin camp latihan, serta sistem yang memastikan ia bisa mengulang tekanan tanpa kehilangan bentuk.

Dari Morocco ke Australia

Perpindahan basis dari Rabat ke Sydney adalah salah satu detail paling menarik dari Rahiki. Ia datang dari Maroko—negara yang kini semakin sering melahirkan talenta tarung lintas disiplin—lalu menetap di Australia, sebuah ekosistem MMA yang keras, kompetitif, dan sangat menuntut “fight IQ” karena banyak petarungnya tumbuh dari kultur sparring yang intens.

Dari situ, kita bisa membaca mengapa Rahiki tampil sebagai striker agresif yang tidak hanya mengandalkan tangan. Polanya lebih seperti “mengejar akhir,” bukan “mencari ronde.” Dalam MMA modern, terutama di featherweight, itu bukan gaya yang mudah: tekanan tinggi membuat stamina cepat habis bila tidak diatur. Namun rekor tanpa keputusan memberi sinyal bahwa Rahiki bukan sekadar mengejar KO—ia mengejar dominasi, apa pun jalurnya.

Rekor 7-0: bahasa yang jelas tentang cara menang

Banyak prospek muda punya rekor bagus. Tapi rekor Rahiki mengirim pesan yang lebih spesifik: ia petarung yang “memaksa hasil.”

    • 7-0, tanpa kekalahan.
    • 86% kemenangan lewat KO/TKO (6 kali).
    • 14% lewat submission (1 kali).

Ada hal yang menarik di sini: kalau mayoritas kemenangan datang dari KO/TKO, biasanya publik langsung menempelkan label “murni striker.” Tetapi satu kemenangan submission—meski hanya satu—tetap penting: itu pertanda Rahiki tidak panik ketika laga masuk ke wilayah grappling. Ia punya jalan keluar. Ia punya cara mengakhiri juga di lantai.

Dan pada petarung muda, “punya cara mengakhiri di lantai” sering kali lebih berharga daripada sekadar “bisa takedown.” Karena saat lawan sudah terluka, grappling menjadi pintu untuk menutup laga—bukan sekadar bertahan

Malam yang mengubah segalanya: Oktober 2025

Pintu Rahiki menuju panggung terbesar terbuka melalui Dana White’s Contender Series pada 14 Oktober 2025. Di momen inilah, rekor sempurna di panggung regional harus diuji dengan satu pertanyaan sederhana: “Apakah gaya kamu akan tetap mematikan ketika level lawan naik drastis?”

Jawabannya datang dengan keras.

Di Contender Series, Rahiki menghadapi Ananias Mulumba dan menang KO/TKO pada ronde 2, menit 2:13. Finishing-nya bukan satu pukulan kebetulan; catatan menyebut rangkaian serangan yang “komplet”: lutut, siku, dan uppercut—kombinasi yang biasanya muncul ketika petarung benar-benar membaca jarak dan reaksi lawan.

Hasil itu mengamankan kalimat yang diidamkan semua petarung muda: “awarded UFC contract.”

Bayangkan narasinya: petarung muda, lahir di Rabat, membangun diri di Sydney, lalu naik ke panggung “uji kelayakan” paling terkenal di MMA modern—dan memilih menyelesaikan laga, bukan sekadar menang angka. Ini bukan hanya menang; ini deklarasi.

Kenapa gaya “Freaky” berbahaya di featherweight

Featherweight adalah divisi yang penuh petarung cepat, berjangkauan panjang, dan mampu mengubah pertarungan dalam satu transisi. Striker agresif bisa jadi bintang—atau jadi korban—tergantung seberapa rapi mereka menutup jarak dan mengelola risiko takedown.

Rahiki tampak berada di jalur yang benar karena dua alasan besar:

    • Finishing rate yang ekstrem
    • Enam KO/TKO dari tujuh kemenangan artinya ia tidak butuh banyak waktu untuk mengunci lawan pada situasi panik.
    • Ada “rencana B” di grappling
    • Satu kemenangan submission mungkin terdengar kecil, tapi secara psikologis, itu memberi ancaman tambahan: lawan tidak bisa merasa aman hanya karena berhasil membawa Rahiki ke bawah.

Pada akhirnya, “Freaky” bukan sekadar gaya liar. Ia adalah gaya agresif yang punya arah: memaksa lawan memilih pertahanan, lalu menghukum pilihan itu.

Debut UFC 2026: ujian pertama melawan Harry Hardwick

Kontrak UFC bukan garis finis; itu pintu masuk ke arena yang lebih kejam. Dan debut Rahiki dijadwalkan pada UFC Fight Night: Emmett vs. Vallejos di UFC Apex, 14 Maret 2026, melawan Harry Hardwick, pada kelas 145 lbs.

Menariknya, Hardwick datang dengan cerita yang juga dramatis. Pada penampilan UFC sebelumnya (UFC Paris, September 2025), ia mengalami kekalahan TKO ronde pertama akibat serangan leg kick yang merusak mobilitasnya—bahkan sampai harus dibantu keluar.

Dari sudut pandang narasi, ini menciptakan panggung yang “pas” untuk Rahiki:

Hardwick akan datang dengan kebutuhan membuktikan diri, merapikan pertahanan, dan menunjukkan bahwa ia bisa bertahan dari tekanan.
Rahiki akan datang membawa reputasi sebagai pemilik “tangan panas” yang tidak suka membiarkan pertarungan berjalan lama.

Bagi Rahiki, debut ini bukan hanya tentang menang. Ini tentang menunjukkan bahwa finishing rate-nya bukan fenomena regional, tapi senjata yang bisa dibawa ke level UFC.

Prestasi dan hal-hal kecil yang membuatnya layak ditunggu

1. Tak terkalahkan (7-0) saat memasuki UFC

Di dunia MMA, rekor sempurna tidak selalu berarti kamu yang terbaik—tapi itu selalu berarti kamu tahu cara bertahan dan menang dalam berbagai situasi.

2. Lulus “tes” Contender Series dengan cara meyakinkan

Banyak petarung lolos lewat keputusan—tetap bagus. Tapi Rahiki memilih jalan yang membuat mata matchmaker terbuka lebar: finishing ronde 2 dengan kombinasi brutal.

3. Basis lintas budaya yang sering melahirkan petarung “lapar”

Lahir di Rabat, berkembang di Sydney—perpaduan yang biasanya menciptakan petarung dengan dua modal: identitas yang kuat dan motivasi besar. Dan dalam MMA, “motivasi” sering menjadi bensin untuk melewati kamp-kamp terberat.

“Freaky” dan babak baru di oktagon

Marwan “Freaky” Rahiki bukan sekadar nama baru—ia adalah proyek yang sudah menunjukkan hasil sebelum masuk UFC. Rekor 7-0, tingkat penyelesaian yang nyaris brutal, serta kemenangan penentu kontrak di Contender Series membentuk satu gambaran: seorang featherweight muda yang datang bukan untuk beradaptasi pelan-pelan, tapi untuk langsung merebut perhatian.

Debut melawan Hardwick akan menjadi panggung pertama yang benar-benar menguji apakah “86% KO/TKO” itu bisa tetap berbicara di level tertinggi. Dan kalau ya, UFC featherweight mungkin akan mendapat satu masalah baru: petarung muda yang tidak suka membiarkan pertarungan berlangsung lama.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...