Tahaneak Nayokatasala: Petarung Yang Membuat Ring Membara

Piter Rudai 09/02/2026 5 min read
Tahaneak Nayokatasala:  Petarung Yang Membuat Ring Membara

Jakarta – Di Lumpinee Boxing Stadium, ada satu hukum yang diam-diam dipahami semua petarung: kamu boleh punya teknik, tapi kamu harus punya nyali. Karena di ONE Friday Fights, sarung tangan kecil dan ritme tiga ronde membuat setiap detik terasa seperti pertaruhan—satu kesalahan kecil bisa jadi penutup malam.

Nama Tahaneak Nayokatasala tumbuh dari atmosfer itu. Ia bukan tipe petarung yang menunggu pertandingan jadi nyaman. Ia lebih sering membuat pertarungan jadi panas—kombinasi pukulan dan tendangan yang agresif, keberanian masuk clinch untuk mengunci, lalu kemampuan yang paling menyita perhatian penonton: menyelesaikan laga ketika ronde terakhir menguji napas dan mental.

Catatan kecil soal data: kamu menulis Tahaneak lahir 16 Maret 1996 (29 tahun), tetapi profil resmi ONE mencantumkan ia berusia 23 tahun (berarti tahun lahirnya berbeda dari informasi tersebut). Karena itu, artikel ini memakai acuan dari data ONE.

Profil singkat Tahaneak Nayokatasala

    • Nama: Tahaneak Nayokatasala
    • Negara: Thailand
    • Tinggi: 163 cm (5’4”)
    • Kelas ONE (weight limit): 117.9 lbs / 53.5 kg (rentang flyweight Muay Thai/catchweight di Friday Fights)
    • Tim: Sor Chokmeechai
    • Panggung: ONE Championship (ONE Friday Fights – Muay Thai)

Dari “nama kecil” ke ring besar: ketika Friday Fights jadi jalan naik

Banyak petarung Thailand sudah kenyang pengalaman sebelum masuk ONE, tapi Friday Fights adalah panggung yang berbeda: ring Lumpinee, sorotan global, dan lawan yang datang dari berbagai negara. Di sini, seorang petarung tidak hanya diuji soal teknik—ia diuji soal ketenangan, respons saat tertekan, dan kemampuan membuat keputusan cepat ketika ritme berubah.

Tahaneak mulai dikenal luas karena gaya Muay Thai yang lugas dan agresif. Bukan agresif yang liar, melainkan agresif yang punya arah: pukulan untuk membuka jalan, tendangan untuk merusak ritme, clinch untuk mengunci posisi dan “mengambil napas lawan”. Dalam laporan pertarungan ONE, Tahaneak beberapa kali terlihat nyaman saat laga masuk ke area yang kotor—tempat clinch, lutut, dan positioning menentukan siapa yang lebih kuat secara mental.

KO ronde 1: perkenalan yang langsung “berbunyi” di ONE Friday Fights 65

Nama Tahaneak benar-benar meledak ketika ia menghadapi Petnongnoey Nokkhao KorMor11 di ONE Friday Fights 65. Hasilnya tegas: KO ronde 1 pada 2:17.

Kemenangan KO cepat seperti ini adalah “stempel” di Friday Fights. Bukan cuma soal menang—tapi cara menang yang langsung memaksa orang mengingat namamu. Saat petarung lain membangun momentum lewat keputusan juri, Tahaneak memilih jalur yang lebih keras: menyelesaikan secepat mungkin, sebelum lawan sempat menata strategi.

Dan sejak momen itu, ia tak lagi sekadar petarung yang “ikut kartu”. Ia mulai dilihat sebagai ancaman yang bisa menutup pertandingan kapan saja.

Kekalahan yang membentuk: Payaksurin menahan agresi Tahaneak di ONE Friday Fights 70

Namun Friday Fights juga kejam: setelah sorotan besar, ujian besar biasanya datang cepat.

Di ONE Friday Fights 70, Tahaneak bertemu Payaksurin JP Power (Or AudUdon) dalam duel catchweight 119 lbs. ONE melaporkan Payaksurin keluar sebagai pemenang lewat unanimous decision, dengan cerita pertarungan yang menampilkan adu tendangan, lalu pukulan balasan yang meredam agresi Tahaneak.

Kekalahan keputusan seperti ini sering menjadi titik balik untuk petarung agresif. Kamu dipaksa bertanya: kapan harus menekan, kapan harus mengatur jarak, kapan harus masuk clinch, kapan harus keluar agar tidak “dibaca”. Dalam pertarungan melawan petarung yang mampu menjaga ritme, agresi saja tidak cukup—agresi harus ditemani disiplin.

Tahaneak menelan pelajaran itu—dan beberapa bulan kemudian, ia menunjukkan bahwa ia bisa menang dalam laga yang jauh lebih rumit.

Menang split decision vs Andrii Mezentsev: bertahan di badai, menang lewat detail

Masuk ONE Friday Fights 93, Tahaneak menghadapi Andrii Mezentsev (118 lbs). Ini bukan laga yang bisa diselesaikan cepat dengan satu momen. ONE menggambarkan bagaimana kedua petarung saling bertukar tendangan keras, Mezentsev sempat menjatuhkan Tahaneak dengan sapuan, tetapi Tahaneak membalas lewat pemulihan cepat dan kerja clinch—knee, posisi, dan kontrol yang membuat laga tetap berada dalam jangkauan.

Hasil akhirnya: Tahaneak menang split decision.

Kemenangan split decision biasanya berarti dua hal:

    • pertarungan berjalan ketat,
    • ada detail kecil yang menentukan.

Dan untuk Tahaneak, kemenangan ini terasa seperti “upgrade”: ia membuktikan bahwa dirinya bukan hanya finisher, tetapi juga petarung yang bisa bertahan dalam duel teknis, menyusun skor ronde demi ronde.

Puncak karakter: knockdown dulu, lalu TKO ronde 3 vs Binladin Sangmorakot

Jika kamu ingin melihat “inti” dari Tahaneak sebagai petarung, lihat kisahnya di ONE Friday Fights 112 melawan Binladin Sangmorakot.

ONE menulis bahwa Tahaneak sempat terjatuh (knockdown) lebih dulu akibat serangan kiri Binladin. Tetapi ia tidak panik. Ia kembali ke rencana: tendangan kaki dan tubuh yang presisi, tekanan yang dibangun pelan, lalu serangan yang makin menggigit ketika laga berjalan.

Dan benar saja, Tahaneak menutup pertarungan dengan cara yang paling “Friday Fights”: TKO pada 1:55 ronde 3.

Inilah yang membuatnya disebut sebagai petarung dengan kemampuan menyelesaikan laga di ronde akhir: ia seperti menyimpan bensin untuk kilometer terakhir. Ketika lawan mulai melambat—tangan turun, napas berat—Tahaneak justru terlihat lebih berani mengambil risiko.

Bahkan, Wikipedia mencatat Tahaneak termasuk penerima bonus “Performance of the Night” di ONE Friday Fights 112 (laporan sekunder, bukan rilis resmi ONE).

Gaya bertarung Tahaneak: agresif, klasik, dan nyaman di zona “keras”

Meski statistik detail stance tidak selalu ditampilkan di profil ONE, beberapa database pertarungan mencatat Tahaneak sebagai southpaw, dan ia memang terlihat sering memanfaatkan serangan kiri serta tendangan untuk merusak ritme.

Secara gaya, Tahaneak bisa dibaca lewat tiga kebiasaan:

    • Membuka dengan tendangan kaki dan tubuh
    • Ini bukan hanya untuk skor, tapi untuk mencuri mobilitas lawan—membuat mereka ragu menekan balik.
    • Agresi pukulan untuk memaksa lawan bertukar
    • Di Friday Fights, petarung yang berani bertukar sering mendapat momentum psikologis. Tahaneak tahu cara “mengundang” pertukaran itu, lalu memindahkan pertarungan ke area yang ia sukai.
    • Clinch sebagai alat kontrol dan kerusakan
    • Dalam laporan laga vs Mezentsev, clinch jadi salah satu kunci Tahaneak untuk mengontrol jalannya pertukaran.

Prestasi dan hal menarik yang membuat Tahaneak layak diikuti

    • KO ronde 1 vs Petnongnoey Nokkhao KorMor11 (ONE Friday Fights 65)
    • Menang split decision vs Andrii Mezentsev (ONE Friday Fights 93)
    • Comeback win setelah knockdown: TKO ronde 3 vs Binladin Sangmorakot (ONE Friday Fights 112)
    • Pernah diuji oleh petarung kuat Thailand: kalah UD vs Payaksurin JP Power (ONE Friday Fights 70)

Rangkaian ini memperlihatkan spektrum lengkap: Tahaneak bisa menang cepat, bisa menang ketat, bisa kalah lalu kembali lebih matang, dan bisa bangkit dari knockdown untuk menghabisi di ronde 3.

Tahaneak dan masa depan di kelas flyweight ONE Friday Fights

Di divisi flyweight—yang sering bertemu catchweight 118–123 lbs di Friday Fights—kamu tidak bisa hanya mengandalkan satu senjata. Tahaneak sudah menunjukkan paket yang menarik: agresi khas Muay Thai, kemampuan clinch yang fungsional, dan mental “tidak runtuh” ketika jatuh lebih dulu.

Kalau ia terus memoles disiplin defensif tanpa menghilangkan agresinya, Tahaneak punya peluang menjadi nama yang stabil di Lumpinee—tipe petarung yang selalu berbahaya sampai detik terakhir, dan selalu punya kesempatan membuat highlight.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...