Ramiz Brahimaj: Kisah Petarung The Bronx Di UFC

Piter Rudai 03/04/2026 5 min read
Ramiz Brahimaj: Kisah Petarung The Bronx Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang dibangun oleh kemenangan mudah. Ada juga petarung yang justru dibentuk oleh kesulitan, oleh luka, oleh penundaan, dan oleh kebutuhan untuk terus membuktikan diri bahkan saat banyak orang mulai berhenti percaya. Ramiz Brahimaj termasuk golongan kedua. Ia bukan nama yang tumbuh dari jalur mulus. Ia datang dari The Bronx, dibesarkan oleh kerja keras, lalu masuk ke dunia UFC dengan bekal yang tidak biasa: spesialisasi submission yang nyaris obsesif, keberanian untuk tetap agresif, dan tekad untuk terus kembali meski kariernya beberapa kali seperti hendak dipatahkan.

Lahir pada 17 November 1992 di The Bronx, New York, Brahimaj bertarung di kelas welterweight dengan tinggi 5 kaki 10 inci, berat 170 pound, jangkauan 72 inci, dan afiliasi dengan Valle Flow Striking di Dallas, Texas. Rekor profesionalnya saat ini adalah 13 kemenangan dan 6 kekalahan. Dari 13 kemenangan itu, 12 datang lewat submission dan hanya 1 lewat KO/TKO, sebuah distribusi yang sangat jarang dan sangat jelas menggambarkan siapa dirinya sebagai petarung. Ia bukan sekadar grappler yang suka menyeret lawan ke bawah. Ia adalah pemburu kuncian yang menjadikan leher, lengan, dan transisi lawan sebagai wilayah berburu.

Dari The Bronx ke Dallas

The Bronx selalu punya citra keras dalam imajinasi olahraga Amerika. Ia melahirkan banyak atlet dengan mental jalanan, dengan naluri bertahan, dan dengan pemahaman bahwa apa pun yang didapat harus direbut. Pada Ramiz Brahimaj, latar itu terasa cocok. Meski profil kariernya kemudian sangat lekat dengan Dallas, Texas, akar The Bronx tetap memberi lapisan penting pada citranya: ia adalah petarung yang tidak lahir dari kenyamanan.

Dalam banyak biografi publik, Brahimaj juga disebut memiliki latar keluarga Albania-Kosovo. Detail ini memberi warna tambahan pada kisahnya, karena ia tumbuh di persimpangan identitas Amerika dan Balkan, dua ruang yang sama-sama kuat dalam membentuk karakter keras. Lalu karier profesionalnya berkembang di Dallas, tempat ia berlatih dan bertarung dari Valle Flow Striking. Perpindahan dari New York ke Texas ini seperti melengkapi dua sisi karakternya: keras secara mental, tetapi juga dibentuk secara teknis dalam sistem latihan yang serius.

Valle Flow Striking dan paradoks seorang spesialis submission

Nama gym-nya, Valle Flow Striking, terdengar seperti rumah bagi striker. Tetapi justru di situlah salah satu hal paling menarik dari Ramiz Brahimaj berada. Ia berlatih di lingkungan striking, namun identitas utamanya justru lahir dari submission. Ini bukan kontradiksi. Ini justru menjelaskan mengapa permainannya terasa lengkap. Striking baginya bukan sekadar tempelan. Ia adalah alat untuk masuk, alat untuk memancing reaksi, alat untuk membuat lawan salah posisi, lalu membuka jalan ke grappling.

Petarung dengan 12 kemenangan submission dari 13 kemenangan total biasanya datang dari fondasi grappling yang sangat jelas. Tetapi pada Brahimaj, submission bukan berarti ia pasif menunggu. Ia justru bisa memaksa lawan membuat keputusan tergesa-gesa lewat tekanan berdiri. Begitu lawan panik, ruang untuk transisi mulai terbuka. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya. Ia tidak harus dominan dalam striking untuk membuat striking-nya relevan. Ia hanya perlu cukup tajam agar lawan terus cemas, dan kecemasan itulah yang sering berubah menjadi pintu menuju kuncian. Pembacaan ini didukung oleh distribusi hasil kariernya dan fakta bahwa hampir seluruh kemenangannya datang lewat submission.

Kalah, menang, lalu terus bertahan

Setelah kemenangan atas Palatnikov, perjalanan Brahimaj di UFC tetap tidak mudah. Ia kalah keputusan mutlak dari Court McGee pada Januari 2022, lalu bangkit lagi dengan rear-naked choke atas Micheal Gillmore pada Februari 2022. Ini memperlihatkan pola yang mulai akrab dalam kariernya: setback diikuti rebound. Ia tidak pernah terlihat seperti petarung yang betah tenggelam terlalu lama.

Setelah itu, ia sempat dijadwalkan menghadapi Michael Morales pada UFC 277, tetapi terpaksa mundur karena cedera. Ia juga sempat dijadwalkan melawan Carlston Harris pada 2023 sebelum kembali batal karena cedera leher. Rangkaian gangguan ini mempertegas bahwa karier Brahimaj bukan cuma soal lawan di oktagon. Ia juga harus berkali-kali menghadapi tubuhnya sendiri dan hal-hal di luar kendali.

Pada Mei 2024, ia kembali dan kalah keputusan mutlak dari Themba Gorimbo. Hasil ini membuat posisinya terasa rapuh. Tetapi lagi-lagi, Brahimaj menolak hilang. Justru setelah kekalahan itu, ia memasuki fase terbaiknya di UFC sejauh ini.

Tiga kemenangan beruntun dan kebangkitan besar

November 2024 menjadi titik penting. Ramiz Brahimaj menghadapi Mickey Gall di UFC 309 dan menang KO ronde pertama pada 2:55. ESPN menyoroti perayaan emosionalnya setelah kemenangan itu, sementara catatan karier menunjukkan kemenangan tersebut memberinya bonus Performance of the Night. Bagi petarung yang begitu identik dengan submission, kemenangan KO seperti ini terasa sangat berarti. Ia menunjukkan bahwa Brahimaj bukan hanya ancaman saat grappling. Ia juga bisa mematikan lawan di atas kaki.

Lalu pada Mei 2025, ia mengalahkan Billy Ray Goff lewat technical submission, guillotine choke, di ronde pertama. Itu memberinya bonus Performance of the Night kedua secara beruntun. Polanya mulai terasa jelas: Brahimaj bukan cuma bangkit, ia sedang menemukan bentuk terbaik dari dirinya. Ia menang keras, menang cepat, dan menang dengan identitas yang sangat jelas.

Puncak kecil dari fase ini datang pada UFC 320 ketika ia menghadapi Austin Vanderford. Brahimaj masuk sebagai underdog, tetapi menang submission lewat guillotine choke di ronde kedua. Sherdog menulis bahwa itu adalah kemenangan upset ketiga beruntun untuknya, dan bahwa Vanderford menderita submission loss pertama dalam kariernya. Bahkan laporan lain menyebut Brahimaj juga lebih dulu membuka luka besar di wajah Vanderford lewat head kick brutal sebelum submission itu datang. Ini bukan sekadar kemenangan. Ini adalah pernyataan.

Rekor 13-6 dan makna di balik angka itu

Rekor profesional Ramiz Brahimaj saat ini adalah 13-6. Tetapi angka itu sendiri tidak cukup menjelaskan siapa dirinya. Yang jauh lebih penting adalah bentuknya. Dua belas kemenangan submission dan satu KO menunjukkan bahwa ia adalah spesialis murni yang sesekali membuktikan dirinya bisa menyelesaikan lawan dengan cara berbeda. Tidak ada satu pun kemenangan keputusan dalam rekornya menurut Sherdog. Saat Brahimaj menang, ia biasanya menang dengan tegas.

Rekornya di UFC saat ini adalah 5-4 menurut perhitungan roster.watch, selaras dengan daftar hasil resmi terbaru. Itu berarti, meski jalannya terasa berantakan, ia sebenarnya sudah membangun rekor positif di promosi terbesar dunia. Untuk petarung dengan debut sekeras dirinya, itu adalah pencapaian yang layak dicatat.

Kenapa Ramiz Brahimaj tetap menarik untuk diikuti

Ada petarung yang menang, tetapi tidak meninggalkan rasa penasaran. Ramiz Brahimaj bukan tipe itu. Ia selalu menarik karena ancamannya begitu spesifik dan begitu nyata. Satu scramble bisa cukup untuk mengubah seluruh arah pertarungan. Satu bukaan leher bisa cukup untuk membuat semuanya selesai. Di era ketika banyak petarung tampak semakin seragam, identitas seperti ini membuatnya menonjol.

Yang membuat Brahimaj spesial bukan sekadar jumlah kemenangannya. Yang membuatnya berbeda adalah cara ia bertahan. Ia pernah nyaris kehilangan segalanya sebelum masuk UFC. Ia pernah memulai dengan luka yang mengerikan. Ia pernah diremehkan. Tetapi ia tetap kembali, tetap mencekik lawan, tetap membuat kejutan, dan tetap memberi alasan bagi orang untuk percaya bahwa petarung dengan submission seperti dirinya akan selalu punya peluang menulis bab baru. Dalam welterweight UFC, Ramiz Brahimaj tetap menjadi nama yang tidak pernah benar-benar aman untuk dihadapi.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...