Jakarta – Dunia sepak bola modern hari ini sangat akrab dengan nama-nama bintang Asia yang merumput di kompetisi elite Eropa. Namun, jauh sebelum gelombang pemain Asia membanjiri benua biru, ada satu nama yang membuka jalan tersebut dengan kekuatan, kecepatan, dan ketajaman yang luar biasa. Pria itu adalah Cha Bum-kun. Di Jerman, ia dijuluki “Cha Boom” karena tendangan geledeknya yang ditakuti oleh kiper-kiper papan atas. Sebagai pionir sejati, kisah hidup dan perjalanan karier Cha Bum-kun bukan sekadar catatan statistik, melainkan sebuah babak sejarah penting mengenai bagaimana seorang pemuda dari Korea Selatan menaklukkan salah satu liga paling kompetitif di dunia.
Kelahiran dan Masa Kecil di Korea Selatan
Cha Bum-kun lahir pada tanggal 22 Mei 1953 di Hwaseong, sebuah kota yang terletak di Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Tumbuh besar di era pasca-Perang Korea, masa kecil Cha dipenuhi dengan tantangan ekonomi dan keterbatasan fasilitas olahraga yang dialami oleh negaranya pada masa itu. Kendati demikian, bakat alamiah dan ketahanan fisiknya sudah mulai terlihat sejak usia dini.
Menariknya, sepak bola bukanlah satu-satunya olahraga yang membesarkan namanya di awal masa sekolah. Ia sempat bergabung dengan tim sepak bola di Sekolah Menengah Yeongdo, namun klub tersebut dibubarkan tidak lama setelah ia mendaftar. Akibatnya, Cha sempat beralih bermain hoki lapangan selama sekitar satu setengah tahun.
Kerinduan mendalam pada si kulit bundar akhirnya membawa Cha pindah ke Sekolah Menengah Kyungshin untuk kembali mengejar impian sepak bolanya. Di sekolah baru ini, jalannya tidak selalu mulus. Ia sempat menghadapi tantangan berat berupa intimidasi dan kekerasan dari senior-seniornya, sebuah fenomena yang cukup umum dalam sistem olahraga sekolah zaman dulu. Beruntung, dengan bimbingan dan perlindungan dari pelatihnya, Chang Woon-soo, Cha berhasil bertahan dan terus mengasah kemampuannya hingga menjadi pemain paling menonjol di sekolahnya.
Awal Karier Domestik dan Rekor Internasional
Bakat besar Cha Bum-kun segera tercium oleh pemandu bakat nasional. Pada tahun 1970, saat usianya baru menginjak 17 tahun, ia sudah terpilih untuk memperkuat tim nasional Korea Selatan U-20. Dua tahun berselang, pada tahun 1972, Cha resmi melakukan debutnya bersama tim nasional senior Korea Selatan dalam ajang Piala Asia AFC melawan Irak. Pada tahun yang sama, ia memasuki Universitas Korea, tempat ia mematangkan gaya bermainnya sebagai penyerang sayap yang eksplosif. Bersama Universitas Korea, ia sukses menjuarai Kejuaraan Nasional Korea pada tahun 1974.
Karier seniornya di level klub domestik dimulai bersama Korea Trust Bank FC pada tahun 1976 setelah ia menyelesaikan studinya. Namun, layaknya setiap pria warga negara Korea Selatan, Cha harus memenuhi kewajiban dinas militer. Ia kemudian bergabung dengan klub Angkatan Udara Republik Korea (ROK Air Force FC) untuk menjalani masa wajib militernya dari tahun 1976 hingga 1979.
Selama periode 1970-an ini, dominasi Cha di level internasional bersama skuad Taegeuk Warriors sangat fenomenal. Ia menjadi andalan utama Korea Selatan di berbagai turnamen regional seperti Turnamen Merdeka di Malaysia, Piala Raja di Thailand, dan Piala Korea. Salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola Korea terjadi pada Piala Korea tahun 1976, ketika Cha mencetak hat-trick sensasional ke gawang Malaysia hanya dalam waktu lima menit—dari menit ke-83 hingga ke-88—untuk membalikkan keadaan dan memaksakan hasil imbang 4-4.
Efisiensi dan ketahanannya yang luar biasa membuat Cha mencatatkan rekor sebagai pemain termuda di dunia yang berhasil mencapai 100 penampilan internasional (caps), yaitu pada usia 24 tahun 35 hari. Sepanjang karier internasionalnya, ia mengemas 58 gol dari 136 penampilan resmi, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk tim nasional Korea Selatan hingga hari ini.
Petualangan Legendaris di Bundesliga Jerman
Kehebatan Cha di Asia menarik perhatian klub-klub Jerman Barat. Setelah membawa Korea Selatan meraih medali emas di Asian Games 1978 di Bangkok, pintu menuju Eropa akhirnya terbuka lebar. Tantangan terbesar Cha saat itu adalah birokrasi wajib militer Korea yang rumit, yang sempat membuatnya harus pulang-pergi demi menyelesaikan sisa masa tugasnya setelah sempat dikontrak singkat oleh SV Darmstadt 98 dan bermain dalam satu pertandingan di akhir tahun 1978.
Setelah urusan militernya benar-benar rampung pada pertengahan 1979, Cha Bum-kun resmi bergabung dengan Eintracht Frankfurt. Di sinilah legenda “Cha Boom” benar-benar lahir. Bermain di Bundesliga—yang kala itu merupakan salah satu liga fisik paling keras di dunia—Cha langsung menggebrak. Dengan paha yang besar nan kokoh, kecepatan lari layaknya pelari cepat, serta kemampuan duel udara yang luar biasa, ia menjelma menjadi momok menakutkan bagi lini pertahanan lawan.
Pada musim pertamanya (1979-1980), Cha langsung membawa Eintracht Frankfurt menjuarai Piala UEFA (sekarang Liga Eropa). Dampaknya begitu masif hingga majalah sepak bola terkemuka Jerman, Kicker, memasukkannya ke dalam Tim Terbaik Bundesliga musim tersebut. Setahun kemudian, ia mempersembahkan trofi DFB-Pokal (Piala Jerman) tahun 1981 bagi Frankfurt. Selama empat musim berseragam Frankfurt, Cha mencetak 46 gol dalam 122 pertandingan liga.
Pada tahun 1983, Cha memutuskan untuk pindah ke Bayer Leverkusen. Di klub barunya ini, ia tidak kehilangan ketajamannya. Puncak kariernya bersama Leverkusen terjadi pada tahun 1988 dalam laga final Piala UEFA melawan Espanyol. Setelah tertinggal 0-3 pada leg pertama, Leverkusen berhasil menyamakan agregat di leg kedua, di mana Cha mencetak gol ketiga yang sangat krusial lewat sundulan kepala yang spektakuler. Leverkusen akhirnya keluar sebagai juara lewat adu penalti, menjadikan Cha salah satu dari sedikit pemain dalam sejarah yang mampu memenangkan Piala UEFA dengan dua klub berbeda.
Cha Bum-kun bermain untuk Bayer Leverkusen hingga memutuskan gantung sepatu pada tahun 1989. Selama berkarier di Bundesliga, ia mengoleksi total 98 gol dari 308 pertandingan tanpa satu pun gol yang berasal dari titik penalti. Rekornya sebagai pencetak gol asing terbanyak di Bundesliga bertahan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dipecahkan oleh Stephane Chapuisat pada tahun 1999.
Akhir Perjalanan sebagai Pemain dan Warisan Abadi
Sebelum benar-benar menyudahi karier bermainnya, Cha Bum-kun mendapatkan satu kesempatan terakhir untuk pamer gigi di panggung tertinggi dunia. Ia kembali dipanggil memperkuat tim nasional Korea Selatan untuk berlaga di Piala Dunia FIFA 1986 di Meksiko. Ini adalah penampilan pertama Korea Selatan di Piala Dunia sejak tahun 1954. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi dan ia mendapat pengawalan super ketat dari tim lawan sehingga gagal membawa Korea lolos dari fase grup, kehadiran Cha memberikan suntikan mental dan pengalaman berharga bagi generasi baru pesepak bola Korea.
Setelah pensiun, Cha memenuhi janjinya untuk kembali ke tanah air dan membangun fondasi sepak bola usia muda dengan mendirikan klinik-klinik sepak bola di Korea Selatan. Ia juga merambah dunia kepelatihan dengan menangani beberapa klub K-League seperti Ulsan Hyundai dan Suwon Samsung Bluewings, serta sempat menakhodai tim nasional Korea Selatan di Piala Dunia 1998 di Prancis.
Kehormatan demi kehormatan terus mengalir bagi sang legenda. Federasi Sejarah dan Statistik Sepak Bola Internasional (IFFHS) menobatkan Cha Bum-kun sebagai “Pemain Asia Abad Ini” untuk periode 1900 hingga 1999. Penghargaan ini menjadi bukti sahih bahwa kualitas dan dampaknya melampaui batas negara. Lebih dari sekadar trofi dan gol, warisan terbesar Cha Bum-kun adalah pembuktian mendasar bahwa pemain sepak bola asal Asia memiliki kapasitas fisik, teknik, dan mental untuk bersaing, dihormati, dan bahkan menjadi bintang utama di panggung tertinggi sepak bola Eropa.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda