Kisah Perseteruan Dassault Di Balik Imperium Adidas Dan Puma

Eva Amelia 28/06/2026 6 min read
Kisah Perseteruan Dassault Di Balik Imperium Adidas Dan Puma

Jakarta – Dalam sejarah industri olahraga dunia, tidak ada rivalitas yang begitu mengakar, personal, dan mengubah lanskap mode serta atletik sedalam perseteruan antara Adidas dan Puma. Di balik logo tiga garis yang elegan dan siluet kucing besar yang melompat dinamis, terdapat sekat permusuhan keluarga yang membelah sebuah kota kecil di Jerman menjadi dua kubu yang saling bungkam. Ini bukan sekadar cerita tentang dua korporasi raksasa yang berebut pasar global, melainkan kisah perang saudara antara dua saudara kandung yang ego, kecemburuan, dan ambisinya mendikte alas kaki para pahlawan olahraga terbesar di dunia.

Awal Mula di Lembah Aurach: Sinergi Dua Saudara

Nukleus dari perseteruan megah ini bermula di Herzogenaurach, sebuah kota kecil yang tenang di Bavaria, Jerman. Di kota inilah dua bersaudara Dassler lahir: Rudolf “Rudi” Dassler yang lahir pada tahun 1898, dan Adolf “Adi” Dassler yang lahir dua tahun kemudian pada tahun 1900. Keduanya tumbuh dengan kepribadian yang bertolak belakang namun saling melengkapi. Adi adalah seorang introvert yang tenang, seorang perajin visioner yang menghabiskan waktu berjam-jam di bengkel ibunya untuk bereksperimen menciptakan sepatu atletik yang lebih ringan dan mencengkeram lapangan. Sementara Rudi adalah kebalikannya: seorang ekstrovert yang karismatik, pandai bergaul, dan memiliki bakat alami sebagai seorang salesman ulung.

Pada tahun 1924, mereka menggabungkan kekuatan dan mendirikan Gebrüder Dassler Schuhfabrik (Pabrik Sepatu Dassler Bersaudara). Sinergi mereka awalnya berjalan sangat masif. Adi bertugas merancang dan memproduksi sepatu terbaik, sementara Rudi menjelajahi berbagai tempat untuk memasarkannya. Visi mereka sederhana namun revolusioner: menciptakan sepatu spesifik untuk setiap cabang olahraga demi meningkatkan performa sang atlet. Keberhasilan awal mereka terlihat ketika banyak atlet Jerman mulai mengenakan sepatu buatan Dassler bersaudara dalam berbagai kompetisi lokal.

Panggung Olimpiade 1936 dan Kejeniusan yang Menembus Batas

Titik balik besar bagi bisnis Dassler bersaudara terjadi pada Olimpiade Berlin tahun 1936. Adi Dassler, dengan keberanian dan keyakinan mutlak pada kualitas produknya, berkendara dari Herzogenaurach ke perkampungan atlet di Berlin dengan membawa koper penuh sepatu yang dilengkapi dengan paku (spikes) khusus. Targetnya tidak main-main: Jesse Owens, pelari cepat legendaris asal Amerika Serikat.

Adi berhasil meyakinkan Owens untuk mencoba sepatu buatannya. Hasilnya menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah olahraga. Mengenakan sepatu Dassler, Jesse Owens mendominasi Olimpiade Berlin dengan menyabet empat medali emas di hadapan rezim Nazi yang saat itu mengagungkan superioritas ras tertentu. Kemenangan Owens bukan hanya menjadi tamparan bagi propaganda politik saat itu, melainkan juga menjadi katalisator yang melambungkan nama Dassler Bersaudara ke panggung internasional. Tiba-tiba saja, seluruh dunia menginginkan sepatu dari Herzogenaurach. Surat pesanan dari berbagai penjuru bumi membanjiri meja kerja mereka, dan bisnis keluarga ini meledak menjadi industri yang sangat menguntungkan.

Keretakan yang Tak Terobati: Kecurigaan di Tengah Perang

Namun, seiring dengan meroketnya kesuksesan finansial, hubungan personal antara Adi dan Rudi justru mulai retak. Ketegangan yang awalnya berupa gesekan kecil di tempat kerja perlahan berubah menjadi api permusuhan yang dipicu oleh perbedaan ideologi, kecemburuan antar-istri yang tinggal di rumah yang sama, dan diperparah oleh situasi mencekam Perang Dunia II.

Puncak keretakan yang membuat hubungan mereka tidak pernah bisa diperbaiki terjadi saat pemboman kota oleh pasukan Sekutu. Ketika alarm udara berbunyi, Adi dan istrinya bergegas masuk ke dalam bungker perlindungan yang ternyata sudah diisi oleh Rudi dan keluarganya. Saat melangkah masuk, Adi bergumam, “Bajingan-bajingan itu datang lagi,” yang sebenarnya merujuk pada pesawat pengebom Sekutu. Namun, Rudi yang diliputi rasa tidak aman salah mengartikan ucapan tersebut, meyakini bahwa Adi sedang mencaci dirinya dan keluarganya.

Ketidakpercayaan ini mencapai titik nadir ketika Rudi wajib militer dan kemudian ditangkap oleh pasukan Amerika atas tuduhan menjadi anggota SS (pasukan elite Nazi). Rudi merasa sangat yakin bahwa Adilah yang melaporkan dirinya kepada pihak Sekutu agar Adi bisa menguasai perusahaan sendirian. Meskipun tuduhan tersebut tidak pernah terbukti secara hukum, kecurigaan itu telah membakar habis sisa-sisa ikatan darah di antara mereka.

Kota yang Terbelah Dua: Lahirnya Adidas dan Puma

Pada tahun 1948, setelah perang usai dan kebencian mereka tidak lagi bisa dibendung, Dassler Bersaudara secara resmi membubarkan perusahaan mereka. Mereka membagi aset, mesin, dan para pekerja menjadi dua bagian yang sama rata. Adi tetap berada di pabrik lama di tepi utara Sungai Aurach dan mendirikan perusahaan baru bernama Adidas—sebuah akronim yang diambil dari nama panggilan dan nama belakangnya (Adi Dassler). Sementara itu, Rudi menyeberang ke tepi selatan sungai dan mendirikan perusahaannya sendiri yang awalnya diberi nama Ruda, sebelum akhirnya diubah menjadi Puma demi mencerminkan kelincahan dan kecepatan seekor kucing besar.

Perpecahan ini secara harfiah membelah kota Herzogenaurach menjadi dua kubu yang saling bermusuhan. Kota ini kemudian dikenal dengan julukan “Kota Leher Menunduk” (the town of bent necks), karena setiap kali orang asing atau penduduk lokal bertemu, hal pertama yang mereka lakukan adalah menunduk untuk melihat merek sepatu apa yang sedang dikenakan lawan bicaranya. Toko roti, kedai bir, hingga klub sepak bola lokal terbagi secara tegas: ada yang khusus untuk pekerja Adidas dan ada yang hanya menerima pendukung Puma. Pernikahan silang antara keluarga pekerja Adidas dan Puma dipandang sebagai sebuah tabu sosial yang besar saat itu. Kedua saudara ini menghabiskan sisa hidup mereka dengan saling berkompetisi secara ekstrem tanpa pernah bertegur sapa lagi hingga akhir hayat.

Perang Bintang di Lapangan Hijau: Pele, Cruyff, dan Lahirnya Pemasaran Modern

Perseteruan pribadi Adi dan Rudi bertransformasi menjadi perang strategi pemasaran global yang sangat agresif. Medan pertempuran utama mereka adalah kaki-kaki para atlet terbaik dunia. Kedua perusahaan mulai menyadari bahwa cara terbaik untuk menjual sepatu ke masyarakat luas adalah dengan memastikan bahwa atlet yang mengangkat trofi juara mengenakan logo mereka.

Adidas meraih kemenangan psikologis besar pada Piala Dunia 1954 di Swiss. Dalam pertandingan final legendaris yang dikenal sebagai The Miracle of Bern, Jerman Barat berhasil mengalahkan tim legendaris Hungaria yang saat itu dinilai mustahil ditaklukkan. Adi Dassler hadir langsung di tepi lapangan, menyediakan sepatu Adidas dengan pul (cleats) yang bisa diganti-ganti sesuai dengan kondisi lapangan yang saat itu basah karena hujan deras. Kemenangan Jerman Barat melambungkan Adidas sebagai raja teknologi sepak bola.

Puma tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan melakukan inovasi pemasaran yang sangat cerdik pada era 1960-an dan 1970-an. Momen paling spektakuler terjadi pada Piala Dunia 1970 di Meksiko, menampilkan legenda terbesar sepak bola, Pelé. Sebelum kick-off pertandingan perempat final dimulai, Pelé sengaja meminta wasit untuk menghentikan laga sejenak agar ia bisa mengikat tali sepatunya. Kamera televisi dari seluruh dunia melakukan zoom-in ke lapangan, dan jutaan pasang mata menyaksikan Pelé sedang mengikat sepatu Puma King miliknya. Itu adalah aksi pemasaran gerilya (guerrilla marketing) paling sukses dalam sejarah yang seketika mengangkat citra Puma ke tingkat tertinggi.

Rivalitas ini terus berlanjut melalui sosok Johan Cruyff pada Piala Dunia 1974. Cruyff yang dikontrak secara eksklusif oleh Puma menolak mengenakan seragam timnas Belanda yang memiliki desain tiga garis khas Adidas. Demi menghormati sponsor pribadinya, Cruyff bermain dengan jersi khusus yang hanya memiliki dua garis di lengannya—sebuah kompromi unik yang memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh perseteruan Dassler dalam politik olahraga.

Warisan Perseteruan yang Mengubah Dunia

Bahkan setelah Adi Dassler wafat pada tahun 1978 dan Rudi Dassler pada tahun 1974—keduanya dimakamkan di pemakaman yang sama di Herzogenaurach namun di ujung yang saling berjauhan—semangat kompetisi antara Adidas dan Puma tidak pernah benar-benar padam. Rivalitas ekstrem ini memaksa kedua perusahaan untuk terus berinovasi, melampaui batas-batas teknologi tekstil, dan menciptakan industri pakaian olahraga modern seperti yang kita kenal hari ini.

Perang saudara Dassler membuktikan bahwa kebencian yang mendalam pun dapat bertransformasi menjadi kekuatan kreatif yang luar biasa. Tanpa adanya ego besar dari Adi dan Rudi yang saling ingin menjatuhkan satu sama lain, dunia mungkin tidak akan pernah melihat inovasi sepatu bot modern, kontrak sponsor atlet bernilai jutaan dolar, atau kultur sneakers yang kini mendominasi mode jalanan global. Sepatu bintang olahraga dunia tidak sekadar dirancang untuk kenyamanan; di dalam setiap jahitannya, ada sejarah perseteruan keluarga yang menolak untuk kalah dari garis keturunan mereka sendiri.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...