Jakarta – Di dunia kickboxing modern, hanya sedikit nama yang mampu mempertahankan reputasi sebagai striker elite selama lebih dari satu dekade. Marat Grigorian adalah salah satunya. Petarung kelahiran Armenia yang kemudian membangun karier di Belanda ini dikenal sebagai sosok yang menggabungkan teknik khas kickboxing Eropa dengan mentalitas petarung Kaukasus yang pantang menyerah. Bertarung di divisi featherweight ONE Championship dengan tinggi 176 sentimeter dan berat sekitar 70,4 kilogram, Grigorian telah mengoleksi lebih dari 80 pertarungan profesional dan menjadi salah satu striker paling disegani di dunia. Rekornya yang mencapai 70 kemenangan dan 14 kekalahan menjadi bukti konsistensi luar biasa di level tertinggi, sementara reputasinya sebagai pemilik pukulan keras telah mengantarkannya meraih tiga gelar juara dunia GLORY Kickboxing.
Lahir pada 29 Mei 1991 di Yerevan, Armenia, Grigorian menghabiskan masa kecilnya sebelum keluarganya bermigrasi ke Belgia. Kepindahan tersebut menjadi titik awal perjalanan hidup yang mengubah masa depannya. Di lingkungan barunya, ia mulai mengenal olahraga bela diri sebagai sarana membangun disiplin sekaligus kepercayaan diri. Ketertarikannya terhadap kickboxing berkembang pesat sejak usia muda, hingga akhirnya ia memilih menekuni olahraga tersebut secara serius. Bakat alaminya kemudian diasah di Hemmers Gym, Belanda, salah satu sasana kickboxing paling bergengsi di Eropa yang telah melahirkan banyak juara dunia. Di bawah bimbingan pelatih berpengalaman, Grigorian membentuk fondasi teknik yang kuat, terutama dalam kombinasi tinju, tendangan rendah, dan tekanan agresif yang kelak menjadi identitasnya.
Karier profesional Grigorian berkembang melalui berbagai ajang kickboxing internasional sebelum namanya benar-benar melejit di GLORY. Di organisasi inilah ia membangun reputasi sebagai petarung yang mampu mengalahkan lawan-lawan terbaik dunia. Keberhasilannya menjuarai turnamen GLORY Lightweight World Championship sebanyak tiga kali menempatkannya dalam daftar petarung terbaik pada generasinya. Tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, Grigorian juga dikenal memiliki kemampuan membaca ritme pertarungan dengan sangat baik. Ia jarang terburu-buru mencari penyelesaian, tetapi ketika menemukan celah, serangan kombinasinya sering kali berakhir dengan knockdown atau knockout yang spektakuler.
Sepanjang kariernya, Grigorian mencatat sejumlah kemenangan yang mempertegas statusnya sebagai striker elite. Salah satu yang paling dikenang adalah kemenangan KO atas Superbon Banchamek pada era sebelum keduanya bertemu kembali di ONE Championship. Saat itu, Grigorian hanya membutuhkan waktu singkat untuk menghentikan salah satu striker terbaik Thailand tersebut. Ia juga tampil impresif ketika menumbangkan Kaito Ono melalui KO pada ronde pertama, memperlihatkan akurasi pukulan kiri dan kanan yang sangat berbahaya. Selain itu, kemenangan mutlak atas Rukiya Anpo melalui unanimous decision menunjukkan kemampuannya bertarung cerdas selama tiga ronde penuh, sementara kemenangan KO ronde kedua atas Abdelali Zahidi kembali menegaskan reputasinya sebagai spesialis penyelesai laga.
Kesuksesan di Eropa membawanya bergabung dengan ONE Championship, tempat ia kembali menguji kemampuannya menghadapi jajaran striker terbaik Asia dan dunia. Di organisasi ini, Grigorian langsung menjadi salah satu kandidat kuat perebut gelar dunia featherweight kickboxing. Ia dua kali memperoleh kesempatan menantang sabuk juara dunia melawan Superbon. Meski tampil kompetitif dan mampu memberikan tekanan sepanjang pertandingan, kedua kesempatan tersebut berakhir dengan kekalahan angka yang tipis. Hasil itu memang mengecewakan, tetapi juga memperlihatkan bahwa Grigorian tetap mampu bersaing di level tertinggi meski menghadapi salah satu juara paling dominan dalam sejarah divisi tersebut.
Di balik reputasinya sebagai petarung agresif, Grigorian memiliki filosofi bertarung yang berakar pada disiplin dan kesabaran. Ia percaya bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh kekuatan pukulan, tetapi juga kemampuan menjaga fokus selama setiap detik pertarungan. Latihannya di Hemmers Gym terkenal sangat intensif, memadukan latihan teknik, sparring berkualitas tinggi, penguatan fisik, serta pengondisian mental. Rutinitas tersebut membuatnya tetap kompetitif meski telah bertahun-tahun bertarung melawan lawan kelas dunia. Pengalaman panjang juga membentuk mentalitasnya menjadi lebih matang; setiap kekalahan dijadikan bahan evaluasi untuk kembali tampil lebih baik pada laga berikutnya.
Secara teknis, gaya bertarung Grigorian sangat mudah dikenali. Ia merupakan pressure fighter yang gemar berjalan maju sambil melepaskan kombinasi pukulan keras ke arah kepala dan tubuh lawan. Low kick bertenaga menjadi salah satu senjata utamanya untuk mengurangi mobilitas lawan sebelum membuka ruang bagi serangan tinju. Ia juga memiliki pertahanan yang solid, keseimbangan tubuh yang baik, serta kemampuan menjaga tekanan tanpa kehilangan disiplin taktis. Kombinasi pengalaman, kekuatan, dan efisiensi membuatnya tetap menjadi ancaman bagi siapa pun yang berdiri di hadapannya, bahkan ketika menghadapi petarung yang lebih muda.
Kini, setelah melalui perjalanan panjang sebagai juara dunia dan penantang gelar ONE Championship, Marat Grigorian kembali berada di persimpangan penting dalam kariernya. Ia dijadwalkan menghadapi Mamuka Usubyan dalam ajang ONE SAMURAI Featherweight Kickboxing Tournament, sebuah kesempatan untuk kembali membuktikan bahwa dirinya masih layak bersaing memperebutkan gelar juara dunia. Dengan rekor profesional 70 kemenangan dan 14 kekalahan, pengalaman menghadapi hampir seluruh elite kickboxing dunia, serta mental juara yang telah teruji, Grigorian tetap menjadi salah satu nama paling dihormati dalam olahraga ini. Bagi petarung asal Armenia tersebut, setiap pertarungan bukan sekadar mempertahankan reputasi, melainkan langkah berikutnya dalam upaya mengukuhkan warisannya sebagai salah satu kickboxer terbaik di era modern.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda