Jakarta – Johnny Walker lahir dengan nama Walker Johnny Silva Barra de Souza pada 30 Maret 1992 di Belford Roxo, Rio de Janeiro, Brasil. Masa kecilnya jauh dari kehidupan mewah. Dalam tulisan personal yang dimuat Sherdog pada 2025, Walker menceritakan bahwa ayahnya pergi sebelum ia lahir, sementara keluarganya pernah hidup dalam keterbatasan ekonomi. Saat berusia 19 tahun, ia justru menemukan jalan keluar melalui dunia bela diri. Awalnya, Walker mengikuti kelas dansa untuk meningkatkan kepercayaan diri. Studio dansa tersebut berbagi tempat dengan sasana Muay Thai, dan seorang pelatih kemudian mengajaknya mencoba latihan. Ia langsung jatuh cinta pada Muay Thai, lalu mempelajari Brazilian jiu-jitsu dan MMA. Menariknya, Walker tidak pernah menjalani karier amatir dan hanya beberapa bulan setelah mulai berlatih sudah beralih menjadi petarung profesional.
Debut profesional Walker terjadi pada Desember 2013. Pada fase awal karier, ia bertanding di Brasil dan mengumpulkan rekor 10 kemenangan dan tiga kekalahan, dengan seluruh kemenangan diraih melalui penghentian sebelum keputusan juri. Ia kemudian merantau demi mendapatkan lingkungan latihan yang lebih baik, sempat berada di Skotlandia sebelum pindah ke Inggris. Di sana Walker mulai menemukan fondasi penting bagi kariernya. Ia merebut gelar European Beatdown Light Heavyweight dan UCMMA Light Heavyweight pada 2018, sekaligus mendapatkan kesempatan mengikuti Dana White’s Contender Series. Pada Agustus 2018, Walker mengalahkan Henrique da Silva melalui unanimous decision. Kemenangan tersebut memberinya kontrak UFC dan membuka pintu menuju panggung terbesar MMA dunia.
Debut UFC Walker pada November 2018 langsung memperlihatkan potensi luar biasanya. Menghadapi Khalil Rountree Jr. di Argentina, ia menang KO melalui serangan siku pada ronde pertama. Tiga bulan kemudian, Justin Ledet menjadi korban berikutnya. Walker hanya membutuhkan 15 detik untuk mengakhiri pertarungan dengan KO. Tidak lama berselang, Misha Cirkunov juga dihentikannya hanya dalam 36 detik. Tiga kemenangan pertama di UFC tersebut membuat Walker melejit sebagai salah satu prospek paling berbahaya di kelas light heavyweight. Ia juga mengantongi tiga bonus Performance of the Night secara beruntun. Namun, selebrasi kemenangan atas Cirkunov justru berujung cedera bahu setelah Walker melakukan gerakan “worm”, memaksanya menjalani operasi dan rehabilitasi.
Momentum Walker kemudian terganggu oleh Corey Anderson. Pada UFC 244, November 2019, Anderson menghentikannya melalui TKO ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi titik balik. Walker mulai memahami bahwa kemampuan eksplosif saja tidak cukup untuk bertahan di level elite. Ia kemudian memperluas pengalaman latihan ke berbagai negara dan akhirnya menetap cukup lama di SBG Ireland bersama John Kavanagh. Di sana permainannya mulai lebih terstruktur. Walker belajar mengendalikan agresivitas, memilih momen serangan, serta tidak selalu mengejar penyelesaian secepat mungkin. Pendekatan itu tercermin dari pengakuannya kepada UFC bahwa kesabaran menjadi salah satu aspek penting yang harus dikembangkan dalam kariernya.
Perjalanan berikutnya tetap penuh pasang surut. Walker mengalahkan Ryan Spann melalui TKO pada ronde pertama pada 2020, tetapi kemudian kalah dari Thiago Santos dan Jamahal Hill. Ia bangkit dengan kemenangan submission atas Ion Cuțelaba pada 2022 dan TKO terhadap Paul Craig pada Januari 2023. Beberapa bulan kemudian, ia mendapatkan salah satu kemenangan paling penting dalam kariernya dengan mengalahkan mantan penantang gelar Anthony Smith melalui unanimous decision. Pertarungan tersebut menarik karena Walker tidak memperoleh kemenangan lewat ledakan singkat seperti yang menjadi cirinya di awal UFC, melainkan mampu menyelesaikan tiga ronde dan menyerahkan hasil kepada juri.
Salah satu rivalitas terpentingnya kemudian datang melawan Magomed Ankalaev. Pertemuan pertama pada UFC 294 berakhir no contest setelah Walker tidak dapat melanjutkan pertandingan menyusul knee ilegal. Rematch pada Januari 2024 berakhir lebih pahit karena Ankalaev menghentikannya melalui KO ronde kedua. Beberapa bulan kemudian, Volkan Oezdemir juga mengalahkan Walker pada ronde pertama. Setelah periode tersebut, Walker mengalami cedera dan beberapa pertarungan yang direncanakan batal. Ia baru kembali pada Agustus 2025 dan langsung membuat pernyataan kuat dengan menghentikan Zhang Mingyang melalui TKO ronde kedua. Kemenangan itu sekaligus memberinya bonus Performance of the Night kelima dalam karier UFC-nya.
Walker kemudian menghadapi Dominick Reyes pada UFC 327, 11 April 2026. Pertarungan berlangsung tiga ronde dan berakhir dengan kekalahan Walker melalui split decision. Hasil tersebut membuat rekor profesionalnya menjadi 22 kemenangan, 10 kekalahan, dan satu no contest, dengan 17 kemenangan melalui KO/TKO, tiga submission, dan dua keputusan juri. Meski kalah, Walker masih memiliki modal besar berupa ukuran tubuh, atletisme, pengalaman serta kemampuan menciptakan serangan dari sudut yang tidak biasa. Dengan tinggi sekitar 198 cm dan reach 208 cm, ia merupakan striker yang sangat berbahaya ketika mampu menjaga jarak dan memaksimalkan keunggulan fisiknya.
Menariknya, Walker kini mulai membuka babak baru dengan mempertimbangkan perpindahan permanen ke kelas heavyweight. Ia mengaku pemotongan berat badan menuju batas 205 pound sering menguras energi dan membatasi kualitas latihannya. Selama berlatih di Las Vegas, ia juga mendapatkan kesempatan berlatih dengan nama-nama besar seperti Francis Ngannou dan Sean Strickland. Bagi Walker, latihan tersebut memberikan keyakinan bahwa tubuhnya mampu menghadapi petarung yang lebih besar. Ia dijadwalkan menjalani debut heavyweight melawan Mick Parkin pada 3 Oktober 2026 di UFC 332.
Gaya bertarung Walker pada dasarnya adalah perpaduan striking eksplosif, Muay Thai, kreativitas dan kemampuan grappling yang terus berkembang. Siku, tendangan, pukulan berputar dan serangan dari posisi tak terduga menjadi bagian dari senjatanya. Namun, perjalanan panjangnya membuat filosofi Walker berubah: bukan lagi sekadar menyerang secepat mungkin, melainkan menemukan keseimbangan antara agresivitas dan kontrol. Ia pernah menggambarkan pendekatannya sebagai controlled violence. Kini, setelah melewati kemiskinan, perpindahan negara, cedera, kekalahan dan berbagai perubahan tim latihan, Walker memasuki fase baru dalam kariernya. Heavyweight bukan sekadar perpindahan kelas, tetapi kesempatan untuk membuktikan apakah energi dan daya ledaknya dapat kembali membawanya mendekati jajaran elite UFC.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda