Jared Cannonier: Perjalanan Sang Killa Gorilla Di UFC

Piter Rudai • 23/10/2026 • 3 min read
Jared Cannonier: Perjalanan Sang Killa Gorilla Di UFC

Jakarta – Jared Cannonier merupakan salah satu petarung mixed martial arts (MMA) asal Amerika Serikat yang dikenal karena kekuatan pukulan dan perjalanan kariernya yang tidak biasa. Dijuluki The Killa Gorilla, ia pernah bertanding di tiga divisi berbeda, yakni heavyweight, light heavyweight, dan middleweight. Perjalanannya menuju jajaran elite Ultimate Fighting Championship (UFC) tidak berlangsung instan. Cannonier harus melewati kekalahan, perubahan kelas, dan penyesuaian teknik sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan memperebutkan gelar juara dunia.

Latar Belakang dan Awal Karier

Jared Christopher Cannonier lahir pada 16 Maret 1984 di Dallas, Texas, Amerika Serikat. Sebelum menekuni MMA secara profesional, ia pernah bertugas di Angkatan Darat Amerika Serikat dan bekerja sebagai spesialis sistem transportasi udara di Federal Aviation Administration (FAA). Kehidupannya berubah ketika ia mulai serius berlatih bela diri setelah menetap di Alaska. Ketertarikannya terhadap pertarungan berkembang menjadi keinginan untuk menguji kemampuan di arena profesional.

Cannonier memulai karier profesional MMA pada 2011, ketika berusia sekitar 27 tahun. Ia membangun pengalaman melalui sejumlah pertandingan regional sebelum memperoleh kesempatan tampil di UFC. Debutnya berlangsung pada 3 Januari 2015 di UFC 182 melawan Shawn Jordan dalam kelas heavyweight. Pertandingan tersebut berakhir dengan kekalahan melalui knockout pada ronde pertama. Hasil itu menjadi pengalaman penting yang mendorongnya mengevaluasi kemampuan dan pendekatan bertarungnya.

Perjalanan Lintas Tiga Divisi

Setelah debutnya, Cannonier berusaha membangun kembali momentum dengan meningkatkan kemampuan teknis dan konsistensi penampilannya. Pada 2016, ia mulai bertanding di kelas light heavyweight. Ia meraih kemenangan atas Ion Cutelaba pada Desember tahun tersebut, tetapi juga mengalami kekalahan dari petarung-petarung berpengalaman, termasuk Glover Teixeira, Jan Błachowicz, dan Dominick Reyes. Rangkaian pertandingan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan fisik saja tidak cukup untuk bersaing di tingkat tertinggi.

Pada 2018, Cannonier mengambil keputusan besar dengan turun ke kelas middleweight. Perubahan ini menjadi titik balik dalam kariernya karena ia mulai menemukan performa yang lebih konsisten. Ia mengalahkan David Branch melalui TKO di UFC 230 pada November 2018. Pada 2019, ia kembali mencuri perhatian setelah menghentikan Anderson Silva di UFC 237 dan Jack Hermansson pada September. Kemenangan atas dua petarung berpengalaman tersebut memperkuat posisinya sebagai salah satu penantang potensial di divisi middleweight.

Perkembangannya berlanjut pada 2021 ketika ia mengalahkan Kelvin Gastelum melalui keputusan mutlak. Pada Februari 2022, Cannonier menghentikan Derek Brunson melalui TKO, sehingga membuka jalan menuju kesempatan memperebutkan gelar juara dunia. Ia menghadapi Israel Adesanya di UFC 276 pada Juli 2022. Pertarungan lima ronde itu berakhir dengan kemenangan Adesanya melalui keputusan mutlak. Meski gagal membawa pulang sabuk juara, Cannonier membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing dengan petarung terbaik di kelasnya.

Kebangkitan dan Tantangan Berikutnya

Kegagalan merebut gelar tidak menghentikan langkah Cannonier. Pada Desember 2022, ia mengalahkan Sean Strickland melalui keputusan terbelah. Ia kemudian tampil impresif saat menghadapi Marvin Vettori pada Juni 2023 dan menang melalui keputusan mutlak setelah lima ronde. Pertandingan tersebut menunjukkan daya tahan serta kemampuannya mempertahankan intensitas serangan dalam duel panjang.

Namun, perjalanan Cannonier kembali menghadapi hambatan. Ia kalah dari Nassourdine Imavov pada Juni 2024 dan Caio Borralho pada Agustus 2024. Pada Februari 2025, ia bangkit dengan menghentikan Gregory Rodrigues melalui TKO ronde keempat. Setelah itu, ia mengalami kekalahan dari Michael Page pada Agustus 2025 dan Christian Leroy Duncan pada Juli 2026. Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan posisi di antara petarung elite menjadi tantangan tersendiri seiring bertambahnya usia dan ketatnya persaingan.

Gaya Bertarung dan Mentalitas Kompetitif

Cannonier dikenal sebagai striker yang mengandalkan kekuatan pukulan, ketepatan serangan, dan kemampuan membaca jarak. Ia kerap menggunakan jab untuk membuka pertahanan lawan sebelum melanjutkan dengan kombinasi pukulan keras. Pengalamannya mempelajari jiu-jitsu dan judo juga memberinya dasar untuk menghadapi situasi pertarungan jarak dekat. Meski demikian, kemampuan menyerang dalam posisi berdiri tetap menjadi salah satu senjata utamanya.

Dalam persiapannya, latihan teknik, kekuatan, dan kondisi fisik menjadi bagian penting untuk menjaga performa. Perubahan kelas bertanding juga menuntutnya menyesuaikan kondisi tubuh serta strategi menghadapi lawan. Mentalitas Cannonier tercermin dari kemampuannya bangkit setelah kekalahan dan mengambil keputusan besar demi perkembangan karier. Ia menunjukkan bahwa keberhasilan dalam MMA bukan semata-mata ditentukan oleh kekuatan, melainkan juga kedisiplinan, adaptasi, dan kesiapan menghadapi tekanan.

Hingga Oktober 2026, Cannonier berusia 42 tahun dengan rekor profesional 18 kemenangan dan 10 kekalahan. Catatan kemenangannya mencakup knockout/TKO dan submission, selain kemenangan melalui keputusan juri. Ia belum pernah menjadi juara UFC, tetapi pernah menantang gelar middleweight pada 2022. Perjalanan dari heavyweight menuju middleweight memperlihatkan kemampuannya beradaptasi menghadapi perubahan tuntutan fisik dan teknis. Bagi Cannonier, karier profesional bukan hanya tentang meraih kemenangan, tetapi juga tentang bertahan, belajar, dan terus berkompetisi di tengah persaingan yang semakin berat.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...