Koq seperti tagline sebuah produk lampu? atau seperti lirik lagu dangdut yang identik dengan mati lampu. Bisa jadi kita teringat ke kedua hal itu. Atau, bisa saja kita hubungkan antara cedera dengan “gelap” prestasi dan terang dengan “tumpukan” prestasi. Siapa pun atletnya, pasti akan mengalami dua hal, yaitu: berprestasi dan berhenti untuk sementara atau selamanya. Tetapi, ternyata ada fase istimewa yang menggambarkan daya juang atlet untuk kembali dari cedera atau minim prestasi.
Ahsan/Hendra
Tahun 2019 adalah momen kebangkitan pasangan ganda asal Indonesia. Menjadi juara All England dengan mengalahkan Chia/Yik, ganda asal Malaysia, melalui permainan tiga set. Bagi pasangan Indonesia, juara tersebut adalah yang kedua kali. Sedangkan bagi pasangan Malaysia, final tersebut adalah pengalaman pertama mereka. Bahkan, isi sebuah berita dari laman BWF (Badminton World Federation) menyebut Ahsan/Hendra sebagai “The old lions aren’t done yet.” Sebuah ungkapan yang pas kepada mereka karena terkait umur, “Semakin tua, semakin jadi.”
Merujuk kepada data BWF, Ahsan/Setiawan bahkan telah “puasa” gelar selama tiga tahun. Gelar terakhir mereka sebelum juara All England 2019 adalah Dubai World Superseries 2015. Hingga saat ini, menurut data PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia), Ahsan/Hendra berada di peringkat nomor tiga dunia, dengan 296 kali menang dan 97 kali kalah.
Klay Thompson
Pebola basket yang bermain untuk klub Golden State Warriors pada kompetisi NBA di Amerika Serikat, sejak dipilih oleh klub tersebut pada draft tahun 2011 hingga kini. Klay mengalami cedera ACL (Anterior Cruciate Ligaments), terjadi robekan pada lutut, pada final NBA 2019.
Ia kehilangan kesempatan bermain sebanyak 941 hari sebelum kembali pada awal tahun 2022. Kembali setelah cedera adalah sebuah hadiah bagi Klay dan Warriors karena berhasil menjadi juara NBA 2022. Mereka mengalahkan Boston Celtics dengan 4-2 di gim keenam, dari tujuh pertandingan yang harus dijalani dalam partai final.
Dari data NBA, performa Klay Thompson setelah absen bermain selama dua musim, ada di peringkat 26 dari seluruh pemain. Walaupun statistik waktu bermain, tahun terakhir saat cedera dan tahun kembali setelah cedera masih jauh. Pada musim 2018-2019, Klay bermain pada 78 pertandingan. Pada musim 2021-2022, Klay hanya bermain 32 pertandingan.
Tetapi, dalam hal statistik bola yang masuk dan tembakan tiga angka, angkanya tidak berbanding jauh, saat sebelum cedera dan saat setelah cedera. Sebelum cedera, Klay mencetak presentase 8.4 untuk poin yang dicetak dan 3.1 untuk tembakan tiga angka. Setelah cedera, presentasenya 7.7 untuk poin yang dicetak dan 3.6 untuk tembakan tiga angka. Sebuah pencapaian yang luar biasa dan membutuhkan latihan penuh disiplin demi sebuah kemenangan.
Pelajaran Bagi Kita (Yang Bukan Atlet) Untuk Bangkit
Cerita kembali dari para atlet untuk berprestasi, jadi teringat sebuah istilah dalam tenis, “Sunshine Double.” Ditujukan bagi petenis yang berhasil memenangi dua turnamen berturut-turut, yaitu: Indian Wells dan Miami Open, dalam tahun yang sama. Kita pun bisa mengalami “Sunshine Double” setelah banyak yang dilakukan agar berhasil, walaupun melakukan banyak kesalahan.
Elizabeth Day, penulis ‘Failosophy: A Handbook For When Things Go Wrong’, bisa menyemangati kita untuk tidak larut dalam “cedera” semangat akibat melakukan kesalahan. Ia menjelaskan tentang tujuh prinsip tentang kesalahan. Pertama, kesalahan adalah fakta, yang menghidupi seperti oksigen, jadi tidak usah dihindari karena semua orang bisa melakukan kesalahan. Kedua, kita tidak dalam pikiran yang terburuk, beri pikiran kita ruang untuk hal yang indah. Ketiga, kebanyakan orang berpikir bahwa mereka telah gagal di umur 20-an, karena pada umur tersebut harapan dan pengalaman kita sangat beragam. Keempat, melepaskan bukan berarti sebuah tragedi, kadang kita harus ambil waktu untuk beristirahat, menikmati hidup. Kelima, kesalahan adalah sebuah bentuk akuisisi data, ada proses pertumbuhan setelah kesalahan yang kita lakukan, ada perubahan. Keenam, masa depan ditentukan oleh kemauan diri, jangan terapkan standar diri yang terlalu tinggi, harus realistis. Ketujuh, terbuka tentang kelemahan kita bisa menjadi sumber kekuatan sesungguhnya, kita akan baik-baik saja saat bilang bahwa kita sebenarnya tidak dalam kondisi yang baik.
Ayo semangat lagi. Bukankah Dostoyevsky pernah berkata ‘The darker the night, the brighter the stars’. Bahkan dalam kelamnya kesalahan atau “cedera”, kita masih bisa bersinar terang. Azeeekkk…
(BS/timKB)
Sumber foto: Amazon