Pengalaman masa kecil kita dapat membentuk suatu emosi dan memori tertentu yang menetap lalu bersembunyi di dalam diri kita. Sekumpulan peristiwa masa kecil, buruk atau baik, akhirnya membentuk kepribadian kita sekarang.
Banyak hal yang kita lalui, baik suka maupun duka. Mungkin kita melewati masa kecil yang pedih, dan ketika kita beranjak dewasa kita tidak menyadari bahwa kita menyimpan kepedihan itu sampai kita dewasa. Seakan kita lupa bahwa kita pernah melewati masa yang menyebabkan sang diri kecil atau inner child kita terluka.
Di awal kehidupan kita, di masa kecil kita banyak kejadian yang menjadi tahapan perkembangan psikologis. Dan apabila ada fase yang tidak terpenuhi, seperti rasa aman, nyaman, damai dan tentram, akhirnya membentuk ingatan di memori kita, terbawa sampai dewasa dan menjadi karakter kita.
Banyak keluarga yang hanya memperhatikan kebutuhan fisik sang anak, mereka kurang memperhatikan kebutuhan emosi dan sosial. Saat kita bertumbuh di keluarga yang seperti itu, kita menjadi pribadi yang kurang bisa mengutarakan perasaan, atau kita melakukan luapan emosi itu, tapi dianggap suatu kesalahan. Akhirnya pada saat kita dewasa, kita menjadi pribadi yang sulit mengungkapkan emosi karena merasa tidak aman.
Contoh lain misalnya ketika kita mengalami kritik atau bully di masa kecil, memori itu menetap hingga kita dewasa. Dan ketika kita dewasa, kita menjadi pribadi yang tidak percaya diri.

Inner child adalah sang diri kecil yang tidak pernah pergi, tinggal di alam bawah sadar kita, lalu mempengaruhi perjalanan hidup kita. Perasaan tidak dicintai atau dihargai, sulit percaya kepada orang lain, selalu cemas, tidak percaya diri, mudah marah adalah perilaku yang menjadi hasil dari memori luka inner child.
Sang diri kecil yang terluka bisa kita sadari lalu menyembuhkannya. Jika tidak, memori ini bisa mengambil alih kendali hidup kita, dan membuat kita tidak bisa tenang dan damai.
Hal yang bisa kita lakukan untuk bertemu dan menyembuhkan sang diri kecil atau inner child, dengan mencoba untuk mengingat memori-memori itu. Bayangkan sang diri kecil kita di saat itu, betapa kecil dan rapuhnya dia, betapa sedih dan marahnya dia. Gambarkan dia ada di depan kita, dan katakan padanya bahwa semuanya baik-baik saja. Rangkul lah dia dengan kasih dan rangkul juga semua emosi yang dirasakan.
Jika dirasa hal ini tidak mudah jika dilakukan sendiri, kita bisa mencari pertolongan dari tempat lain. Misalnya dengan mengunjungi tempat meditasi, bertemu seorang life councelor ataupun psikolog.
(DK-TimKB)
Sumber Foto : LonerWolf