Emotional Contagion, Emosi Ternyata Mudah Menular Seperti Flu

Dayana Kristyka 25/03/2023 5 min read
Emotional Contagion, Emosi Ternyata Mudah Menular Seperti Flu

Kebanyakan psikolog percaya bahwa emosi adalah produk dari cara tubuh kita bereaksi terhadap suatu kejadian, bagaimana otak kita mempersepsikannya, dan akhirnya bagaimana kita mengekspresikan diri. Ada banyak faktor yang memengaruhi pengalaman emosi kita. Dampak dari lingkaran sosial kita adalah salah satu faktor yang berpengaruh tersebut.

Selama bertahun-tahun, psikolog berfokus pada rangsangan, gairah, dan bahkan lingkungan tempat kita berada, untuk memahami pengalaman emosi. Namun, studi penelitian lebih lanjut juga telah mempertimbangkan lingkaran sosial individu.

Penularan emosional adalah ketika kita menangkap dan mencerminkan emosi orang-orang di sekitar kita. Memahami emosi orang lain bisa berarti mengaktifkan emosi itu, dan inilah mengapa emosi, seperti flu, bisa menular.

Kita mungkin memiliki teman atau anggota keluarga tertentu yang selalu dalam suasana hati yang baik dan menghabiskan waktu bersama orang-orang ini dapat meningkatkan perasaan kita. Hal ini adalah contoh dari apa yang digambarkan oleh para psikolog sebagai penularan emosi. Misalnya, ketika orang diperlihatkan gambar wajah marah, otot alis mereka sendiri yang terlibat dalam cemberut diaktifkan.

Salah satu studi paling jelas untuk menunjukkan kekuatan penularan emosi pada skala yang lebih luas, adalah memeriksa data yang tersedia dari studi faktor risiko yang terkait dengan penyakit kardiovaskular. Studi ini awalnya dirancang khusus untuk mengukur faktor risiko yang terkait dengan penyakit jantung, obesitas, merokok, penggunaan alcohol, tetapi para peneliti juga bertanya kepada peserta tentang ikatan sosial mereka, anggota keluarga, teman, rekan kerja, dan tetangga.

Orang-orang diminta untuk membuat daftar nama orang yang sering mereka hubungi, dan juga berapa banyak waktu yang mereka habiskan dengan orang tersebut setiap hari. Dan temuan mereka dengan jelas menunjukkan bahwa kebahagiaan itu menular.

Orang-orang yang dikelilingi oleh banyak orang yang bahagia menunjukkan peningkatan kebahagiaan dari waktu ke waktu. Misalnya, memiliki teman bahagia yang tinggal dalam jarak satu mil dari rumah seseorang meningkatkan kemungkinan seseorang bahagia sebesar 25%. Memiliki pasangan yang bahagia, tetangga sebelah atau saudara kandung yang tinggal berdekatan juga meningkatkan kebahagiaan.

Yang sangat luar biasa tentang temuan mereka, bahwa kebahagiaan juga dapat ditingkatkan secara tidak langsung, artinya melalui koneksi yang lebih luas dalam jaringan sosial. Maupun sebaliknya.

Kita mungkin pernah mengalami secara langsung, misalnya dengan mencari musik sedih saat merasa sedih atau curhat kepada orang tersayang saat marah atau kesal.

Hal-hal dapat bekerja dengan cara lain juga. Mendengarkan lagu sedih saat kita mengalami hari yang menyenangkan dapat dengan cepat mengubah suasana hati kita. Jika kita adalah orang yang senang mendengar, kita mungkin akan cepat merasa sedih atau tertekan saat mendengar tentang masalah teman.

Bagaimana ini bisa terjadi? Bisakah emosi benar-benar menyebar seperti pilek atau flu? Sebenarnya ya. Para peneliti menyebutnya penularan emosional. Itu terjadi ketika kita meniru, biasanya tanpa usaha sadar, emosi dan ekspresi orang di sekitar kita.

Mengapa itu terjadi? Ada ilmu tentang saraf memberikan satu penjelasan yang mungkin untuk fenomena ini, yaitu mirror neuron system.

Konsep bermula ketika para peneliti yang mempelajari otak monyet kera menemukan bahwa neuron tertentu mulai bekerja ketika monyet melakukan sesuatu, dan ketika mereka melihat monyet lain melakukan hal yang sama.

Tampaknya proses serupa mungkin terjadi pada manusia. Beberapa ahli percaya bahwa mirror neuron system ini melampaui tindakan fisik dan mungkin menjelaskan bagaimana kita mengalami empati terhadap orang lain.

Foto : Ray William

Para ahli yang mempelajari penularan emosi, percaya bahwa proses tersebut umumnya terjadi dalam tiga tahap: peniruan, umpan balik, dan penularan (pengalaman).

Untuk meniru emosi seseorang, kita harus terlebih dahulu mengenali emosi tersebut. Isyarat emosional seringkali tidak kentara, jadi kita mungkin tidak selalu sadar akan realisasi ini.

Umumnya, peniruan terjadi melalui bahasa tubuh. Saat berbicara dengan teman, misalnya, kita mungkin mulai meniru pose, gerak tubuh, atau ekspresi wajah mereka secara tidak sadar.

Jika kita memulai percakapan dengan rasa cemas atau tertekan, tetapi jika wajah teman kita tampak santai dan terbuka, ekspresi kita sendiri mungkin juga santai.

Peniruan ini dapat membantu kita berhubungan dengan orang lain dengan memahami pengalaman mereka, jadi itu adalah aspek kunci dari interaksi sosial. Tapi itu hanya salah satu bagian dari proses penularan emosi.

Dengan meniru emosi, kita akan mulai mengalaminya. Pada contoh di atas, ekspresi wajah kita yang rileks mungkin dapat membantu kita merasa lebih tenang.

Meniru emosi biasanya membangkitkan emosi itu dalam diri, dan kemudian menjadi bagian dari pengalaman kita sendiri. kita mulai mengungkapkannya atau menghubungkannya dengan orang lain dengan cara yang sama, dan proses penularan selesai.

Penularan emosional tidak selalu merupakan hal yang buruk. Siapa yang tidak ingin menyebarkan kebahagiaan? Tapi ada juga kerugiannya, emosi negatif bisa menyebar dengan mudah.

Tidak ada yang kebal terhadap penularan emosi. Tetapi adalah mungkin untuk mengamati emosi negatif dan mendukung orang-orang di sekitar kita tanpa mengalami kesedihan. Kelilingi diri kita dengan hal-hal yang membuat kita bahagia. Atau misalnya, bawa tanaman ke tempat kerja jika memungkinkan, pasang foto pasangan atau anak-anak di ruangan kerja, atau bisa juga mendengarkan musik yang kita sukai.

Jika kita tidak ingin kenegatifan orang lain memengaruhi kita, cobalah membalikkan keadaan dengan tersenyum dan usahakan agar suara kita tetap ceria. Jika kita sudah mulai merasakan efek dari suasana hati seseorang yang buruk, kita mungkin merasa kurang ingin tersenyum, tetapi cobalah untuk tetap tersenyum.

Tersenyum dapat membantu kita merasa lebih positif, dan mungkin orang lain juga meniru bahasa tubuh kita, dan menangkap suasana hati kita, menjadikannya situasi yang saling menguntungkan.

Apabila kita menangkap suasana hati orang lain, kita mungkin tidak langsung menyadarinya. Kita mungkin merasa tidak enak tanpa benar-benar memahami alasannya. Dibutuhkan banyak kesadaran diri untuk menyadari bahwa perilaku orang lain membuat kita merasa kesal. Menyadari bagaimana perasaan kita terkait dengan pengalaman orang lain dapat memudahkan kita untuk mengatasinya tanpa menindaklanjutinya.

Tertawa dapat membantu meningkatkan suasana hati dan menghilangkan stres. Itu juga dapat menyebar ke orang-orang di sekitar kita. Saat kita merasakan hal-hal negatif merayap masuk, bagikan video lucu, ceritakan lelucon yang bagus, atau nonton video favorit untuk meningkatkan kepositifan.

Penularan emosi berhubungan dengan empati. Jika seseorang yang kita sayangi sedang mengalami masa sulit secara emosional, kita mungkin merespons dengan secara tidak sadar menyerap pengalaman mereka dan terhubung dengan mereka. Ingatlah bahwa ini hanyalah bagian dari menjadi manusia.

Ingatlah bahwa kita tidak bertanggung jawab atas perasaan mereka. Kita mungkin tidak dapat membantu mereka. Kita tidak selalu bisa menolong orang lain, tapi kita pasti mampu menolong diri kita sendiri.

Penularan emosi juga terjadi secara online atau melalui media sosial. Tetaplah menyadari bahwa kita dapat membawa atau mengambil emosi dari postingan orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengevaluasi apa yang bisa masuk dalam media sosial kita.

Seperti yang kita ketahui, orang cenderung memposting apapun tentang hidupnya, baik itu emosi negatif, dan positif. Terkadang postingan positif pun, kita bisa menanggapinya dengan rasa iri, cemburu dan tidak suka.

Pada intinya, kesadaran diri diperlukan dalam kita memilah emosi yang mungkin ditularkan kepada kita. Belajar untuk selalu menyadari tentang hal tersebut. Berlatih mindfulness akan sangat membantu kita dalam mengolah emosi, dan juga membangun kesadaran diri.

(DK-TimKB)

Sumber Foto : Wondrium Daily

Loading next article...