Paskah dikenal sebagai perayaan umat Kristiani, untuk merayakan kebangkitan Yesus pada hari Minggu. Setelah sebelumnya pada umat memperingati masa prapaskah. Bagi umat Kristiani, perayaan Paskah adalah suatu momentum perayaan yang memiliki arti sangat besar. Di seluruh dunia, perayaan tersebut memiliki kegembiraan tersendiri, dengan hadirnya kelinci dan telur Paskah.
Untuk beberapa kalangan, mungkin muncul pertanyaan, dari mana asal kelinci Paskah? Apa hubungan kelinci dengan hari raya keagamaan?
Sementara legenda mengatakan bahwa kelinci Paskah adalah hewan berekor kapas dan bertelinga panjang, yang melompat dari rumah ke rumah untuk mengantarkan keranjang Paskah. Ada lebih banyak cerita sejarahnya yang mungkin tidak kita ketahui, tentang bagaimana seekor kelinci diasosiasikan dengan telur Paskah dan bagaimana ia menjadi simbol yang begitu dicintai anak-anak selama bertahun-tahun.
Seperti yang mungkin sudah diketahui orang Kristen, Alkitab tidak menyebutkan tentang mitos kelinci yang memberikan telur kepada anak-anak pada hari kebangkitan Yesus Kristus. Jadi, mengapa kelinci menjadi bagian yang menonjol dari salah satu perayaan kelahiran kembali? Satu teori, menurut Time, adalah bahwa simbol kelinci berasal dari tradisi pagan kuno yang mendasari banyak tradisi Paskah, festival Eostre, yang menghormati dewi kesuburan dan musim semi. Simbol binatang sang dewi yaitu kelinci, yang secara tradisional melambangkan kesuburan karena tingkat reproduksinya yang tinggi.
Adapun bagaimana karakter Kelinci Paskah sampai ke Amerika, History.com melaporkan bahwa karakter kelinci pertama kali diperkenalkan pada tahun 1700-an oleh imigran Jerman ke Pennsylvania, yang kabarnya membawa tradisi kelinci bertelur bernama “Osterhase” atau “Oschter Haws“. Legenda mengatakan, kelinci akan bertelur warna-warni sebagai hadiah untuk anak-anak yang baik, jadi anak-anak akan membuat sarang di mana kelinci dapat meninggalkan telurnya dan bahkan kadang-kadang meletakkan wortel jika kelinci lapar. Akhirnya, kebiasaan tersebut menyebar hingga menjadi tradisi Paskah yang tersebar luas.

Dalam tradisi Kristen, telur Paskah mewakili kebangkitan Yesus dan kemunculannya dari kubur. Menurut History.com, tradisi mendekorasi telur untuk Paskah mungkin sudah ada sejak abad ke-13, ketika telur secara tradisional dianggap sebagai makanan terlarang selama masa Prapaskah. Itulah mengapa orang menghiasinya saat masa puasa berakhir, untuk menjadikan memakannya sebagai cara yang lebih meriah untuk berpesta di hari Minggu Paskah.
Orang Mesir kuno, Persia, Fenisia, dan Hindu semuanya percaya bahwa dunia dimulai dengan telur, sehingga telur sebagai simbol kehidupan baru telah ada selama ribuan tahun. Detailnya mungkin berbeda, tetapi sebagian besar budaya di seluruh dunia menggunakan telur sebagai simbol kehidupan baru dan kelahiran kembali.
Dari sudut pandang Kristen, telur melambangkan kebangkitan Yesus. Buku pertama yang menyebutkan nama telur Paskah ditulis 500 tahun yang lalu. Namun, suku Afrika Utara yang telah menjadi Kristen jauh sebelumnya memiliki kebiasaan mewarnai telur pada hari Paskah. Musim dingin yang panjang dan keras sering kali berarti sedikit makanan, dan telur segar untuk Paskah merupakan hadiah yang luar biasa.
Alasan lain mengapa telur menjadi simbol Paskah adalah karena sejak awal, umat Kristiani tidak hanya pantang makan daging tetapi juga menghindari telur selama masa Prapaskah sebelum Paskah. Oleh karena itu, Paskah adalah kesempatan pertama untuk menikmati telur dan daging setelah lama berpantang.
Melukis dan menghias telur sudah terjadi pada zaman kuno ketika cangkang yang dihias menjadi bagian dari ritual musim semi. Namun, alih-alih telur ayam, telur burung unta digunakan. Orang Kristen pertama yang mengadopsi tradisi ini berasal dari Mesopotamia, dan mereka mewarnai telurnya dengan warna merah, untuk mengenang darah Kristus. Metodenya termasuk menggunakan kulit bawang dan menempatkan bunga atau daun di atas cangkang sebelum diwarnai untuk membuat pola. Negara-negara Eropa Timur menggunakan batik tahan lilin untuk membuat desain tulisan dengan wax. Saat ini, pewarna makanan adalah yang paling umum.
Pada perayaan Paskah, banyak yang akrab dengan perburuan telur Paskah, tetapi negara lain memiliki tradisi berbeda dalam menggunakan telur Paskah. Beberapa anak Eropa pergi dari rumah ke rumah meminta telur Paskah, seperti trick-or-treat saat Halloween. Disebut pace-egging, itu berasal dari kata lama untuk Paskah, Pasch.
Permainan lainnya adalah gulungan telur Paskah, yang diadakan Gedung Putih setiap tahun. Penggulungan telur adalah pemeragaan simbolis dari penggulingan batu dari kubur Kristus. Negara yang berbeda memiliki aturan mainnya sendiri, misalnya, anak-anak mendorong telur mereka dengan sendok kayu, sedangkan di Jerman anak-anak menggelindingkan telur mereka ke jalur yang terbuat dari tongkat.
Apapun dan bagaimanapun kita memaknai setiap perayaan, yang paling terpenting adalah bagaimana kita ikut bersukacita pada setiap perayaan keagamaan apapun, tanpa mendiskriminasi ataupun menilainya. Cinta kasih dan saling menghargai, adalah cara kita hidup sebagai makhluk Tuhan yang mulia.
Selamat Paskah, dan mari kita memulai kehidupan yang baru, seperti yang dilambangkan oleh telur Paskah. Dan mari kita senantiasa bertumbuh subur dalam kebajikan dan cinta kasih, seperti yang dilambangkan oleh kelinci Paskah.
(DK-TimKB)
Sumber Foto : Canva