Jakarta – Setiap era selalu melahirkan nama besar yang mendominasi pada jamannya. Seperti yang terjadi di ajang lombajet darat, Formula 1. Di era 70an tidak ada nama yang melebihi kebesaran seorang pembalap bernama NIki Lauda. Niki Lauda, sosok yang dijuluki “the rat,” “SuperRat,” dan terakhir “King Rat,” adalah salah satu pembalap legendaris dalam sejarah Formula Satu. Lahir pada 22 Februari 1949 di Wina, Austria, Lauda telah meninggalkan warisan yang tak tergoyahkan dalam dunia balap mobil.
Dari masa kecilnya, Lauda sudah menunjukkan minat yang kuat dalam balap. Meskipun orang tuanya mengharapkan dia menekuni bisnis, dia bertekad untuk mengejar karir sebagai pembalap. Meskipun keluarganya tidak setuju dengan pilihan karirnya, tekadnya tak terbendung. Lauda tidak begitu tertarik dengan pendidikan formal dan lebih memilih untuk mengabdikan dirinya pada balap.
Perjalanan Lauda sebagai pembalap dimulai pada tanggal 15 April 1968, ketika ia mengikuti balapan di Mühlbacken. Dalam debutnya di bawah tim Ferrari, ia berhasil meraih posisi kedua pada Grand Prix Argentina pada tahun 1974. Penampilannya yang mengesankan membuatnya menjadi sorotan dalam dunia balap. Tahun 1975 menjadi tahun yang luar biasa bagi Lauda. Ia berhasil memenangkan lima balapan dan finis di posisi kedua dalam dua balapan lainnya. Prestasi ini membuatnya meraih gelar Juara Dunia pada tahun yang sama. Lauda juga berhasil mempertahankan gelar Juara Dunia pada tahun berikutnya, menunjukkan dominasinya dalam dunia balap.
Namun, nasib tragis menimpa Lauda pada tanggal 1 Agustus 1976. Saat balapan putaran kedua German Grand Prix, ia mengalami kecelakaan parah yang hampir merenggut nyawanya. Cedera serius pada kepala meninggalkan bekas luka permanen yang mengubah penampilannya. Meskipun menghadapi cedera yang serius, semangat juang Lauda tidak tergoyahkan.
Hanya dalam waktu enam minggu setelah kecelakaan yang mengerikan, Lauda kembali ke lintasan balap. Dengan kepala yang masih diperban, ia mengikuti Grand Prix Italia dan hanya kehilangan dua balapan. Keberaniannya dan tekadnya untuk kembali menjadi juara menginspirasi banyak orang di seluruh dunia.
Pada tahun 1984, Lauda berhasil memenangkan Kejuaraan Dunia untuk ketiga kalinya. Prestasinya semakin berarti karena ia juga menjadi orang Austria pertama yang memenangkan Grand Prix Austria. Setelah itu, pada tahun 1985, Lauda mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia balap untuk selamanya. Meskipun pensiun, namanya tetap terpatri dalam sejarah balap.
Kehidupan Lauda tidak berhenti setelah pensiun. Pada September 2012, ia ditunjuk sebagai ketua non-eksekutif Mercedes-AMG Petronas Motorsport. Dia terlibat dalam negosiasi kontrak tiga tahun dengan Lewis Hamilton, yang pada tahun 2013 bergabung dengan tim Mercedes.
Tidak hanya menjadi seorang pembalap ulung, Lauda juga tampil dalam dunia perfilman. Pada tahun 2013, ia muncul sebagai cameo dalam film Rush yang menceritakan persaingannya dengan James Hunt, pembalap legendaris lainnya. Keberanian, ketangguhan, dan semangat juangnya ditampilkan dengan apik dalam film tersebut.
Penghargaan pun mengalir untuk Lauda atas prestasi dan dedikasinya dalam balap. Ia telah menjadi Juara Dunia tiga kali, mengukuhkannya sebagai salah satu pembalap paling sukses dalam sejarah Formula Satu. Selain itu, ia juga meraih gelar “Juara UNESCO” pada tahun 2002 dan 2004. Prestasinya diakui oleh dunia olahraga dan membuat namanya terpatri dalam sejarah balap.
(EA/timKB).
Sumber foto: gridoto.com