Jakarta – Hari ini, 13 Mei, dalam kalender sejarah sepak bola, terukir dengan tinta emas bagi para pendukung Manchester City. Tepat pada tanggal ini di tahun 2012, setelah penantian panjang selama 44 tahun yang penuh liku dan harapan, The Citizens akhirnya merengkuh trofi Liga Primer Inggris untuk pertama kalinya di era modern. Sebuah momen yang tak hanya mengakhiri dahaga gelar, namun juga melahirkan sebuah legenda dan mengubah lanskap sepak bola Inggris selamanya.
Musim 2011-2012 adalah narasi persaingan sengit yang mendebarkan antara dua rival sekota, Manchester City dan Manchester United. Hingga pekan terakhir, keduanya berbagi puncak klasemen, hanya dipisahkan oleh keunggulan selisih gol yang tipis untuk City. Di bawah komando Roberto Mancini, City menjamu Queens Park Rangers (QPR) di Etihad Stadium, sementara sang juara bertahan, United, bertandang ke Sunderland.
Skenario di awal hari itu tampak sederhana: kemenangan bagi City akan mengunci gelar juara, tak peduli hasil di Stadium of Light. Namun, takdir memiliki rencana yang jauh lebih dramatis dan menyakitkan bagi para pendukung setia.
Pertandingan dimulai dengan harapan tinggi, dan Pablo Zabaleta membawa kegembiraan awal bagi tuan rumah dengan golnya di menit ke-39. Akan tetapi, QPR, yang tengah berjuang menghindari degradasi, menunjukkan perlawanan sengit. Djibril Cissé menyamakan kedudukan tak lama setelah turun minum, dan mimpi buruk City semakin nyata ketika Jamie Mackie membuat QPR berbalik unggul menjadi 2-1.
Di sudut lain Inggris, kabar dari Sunderland mengalir bagai pisau yang mengiris hati para penggemar City. Manchester United telah memastikan kemenangan tipis 1-0, menempatkan tekanan luar biasa di pundak Sergio Agüero dan kolega. Waktu terus berjalan, dan Etihad Stadium dipenuhi dengan campuran kecemasan, frustrasi, dan air mata keputusasaan. Gelar yang sudah di ambang mata terasa semakin menjauh.
Namun, di tengah badai emosi, semangat juang Manchester City tak pernah padam. Roberto Mancini melakukan perubahan taktis, dan para pemain terus menggempur pertahanan QPR. Harapan kembali menyala di menit kedua masa injury time ketika Edin Džeko, melalui sundulan keras memanfaatkan sepak pojok David Silva, berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Stadion bergemuruh, namun waktu terus menipis. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan gelar bagi City. Dan keajaiban itu pun datang, dalam bentuk seorang penyerang Argentina dengan insting pembunuh.
Di menit keempat masa injury time, Sergio Agüero menerima umpan terobosan dari Mario Balotelli di tepi kotak penalti. Dengan gerakan memukau, ia mengecoh dua pemain belakang QPR, sebelum melepaskan tendangan mendatar yang tak mampu dijangkau kiper Paddy Kenny.
Dengan demikian, 13 Mei 2012 akan selamanya menjadi tanggal keramat bagi Manchester City. Hari di mana penantian panjang berakhir dengan cara yang paling tak terduga dan luar biasa. Gol Sergio Agüero bukan hanya mengamankan gelar juara Liga Primer Inggris pertama bagi klub di era modern, tetapi juga mengukuhkan tempatnya dalam sejarah dan memberikan kenangan abadi bagi seluruh komunitas Manchester City. Sebuah “On This Day” yang akan terus dirayakan dan diceritakan dari generasi ke generasi.
(EA/TimKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda