Maria Esther Bueno: Ratu Tenis Dengan 19 Gelar Grand Slam

Eva Amelia 15/05/2025 4 min read
Maria Esther Bueno: Ratu Tenis Dengan 19 Gelar Grand Slam

Jakarta – Maria Esther Andion Bueno, lahir pada 11 Oktober 1939 di São Paulo, Brasil, adalah salah satu atlet tenis paling luar biasa sepanjang sejarah. Ia tidak hanya menjadi ikon olahraga di negaranya, tetapi juga di seluruh dunia, terutama dalam dunia tenis. Bueno mencetak sejarah dengan memenangkan 19 gelar utama (Grand Slam), dan gaya bermainnya yang anggun membuatnya menjadi salah satu figur yang paling disegani di lapangan tenis pada era 1950-an hingga 1960-an. Julukan “Ratu Tenis Brasil” tak diraih begitu saja—ini merupakan buah dari kerja keras, dedikasi, dan bakat alaminya yang tak tertandingi.

Awal Kehidupan dan Asal Mula Karirnya

Maria Bueno tumbuh dalam lingkungan yang mendukung minatnya dalam olahraga, terutama tenis. Ayahnya adalah seorang dokter, sementara ibunya adalah seorang instruktur tenis. Pada usia enam tahun, Bueno sudah diperkenalkan dengan raket tenis, dan sejak itu, kecintaannya pada olahraga ini terus berkembang. Ia menunjukkan potensi besar sejak dini dan mulai berkompetisi di tingkat lokal serta nasional.

Pada usia 14 tahun, Bueno memenangkan Kejuaraan Tenis Nasional Brasil, yang menjadi titik awal bagi karier internasionalnya. Kemenangan ini membawa perhatian pelatih dan pengamat tenis internasional, yang melihat potensi besar dalam diri remaja berbakat tersebut. Setelah beberapa tahun mengasah keterampilannya, Bueno memutuskan untuk merambah dunia tenis profesional dan bersiap menghadapi kompetisi di level dunia.

Debut Internasional dan Terobosannya

Pada akhir 1950-an, Bueno mulai tampil di berbagai turnamen tenis besar di Eropa dan Amerika Serikat. Karier internasionalnya melejit setelah memenangkan Wimbledon pada tahun 1959, gelar tunggal Grand Slam pertamanya. Kemenangan ini menjadikannya pemain Amerika Selatan pertama yang meraih gelar Grand Slam, sebuah pencapaian monumental yang mencatatkan namanya dalam sejarah tenis.

Namun, Bueno tidak berhenti di situ. Pada tahun yang sama, dia juga berhasil menjuarai AS Terbuka, mengokohkan posisinya sebagai salah satu pemain top dunia. Bueno dikenal dengan gaya bermain yang sangat efisien, cepat, dan elegan. Dengan servis yang keras dan voli yang cermat, ia sering kali mematahkan pertahanan lawannya dengan mudah. Gayanya yang anggun membuat banyak orang kagum, dan ia sering kali disebut sebagai salah satu pemain paling estetis yang pernah bermain di lapangan tenis.

Dominasi di Era 1960-an

Dekade 1960-an adalah puncak kejayaan Maria Esther Bueno. Selama periode ini, ia berhasil memenangkan total 19 gelar Grand Slam, yang terdiri dari tujuh gelar di nomor tunggal, 11 di nomor ganda, dan satu di nomor ganda campuran. Di Wimbledon, Bueno memenangkan tiga gelar tunggal putri (1959, 1960, dan 1964), sementara di AS Terbuka, dia meraih empat gelar tunggal putri (1959, 1963, 1964, dan 1966).

Di nomor ganda, Bueno juga mendominasi dengan memenangkan 11 gelar Grand Slam di berbagai turnamen, termasuk Wimbledon, AS Terbuka, Prancis Terbuka, dan Australia Terbuka. Kehebatannya dalam bermain di sektor ganda membuktikan kemampuan strategis dan kecerdasannya dalam membaca permainan lawan.

Salah satu momen paling berkesan dalam kariernya adalah ketika ia menjadi juara Wimbledon tanpa kehilangan satu set pun, sebuah prestasi yang sangat langka. Keberhasilannya ini tidak hanya membuktikan bahwa ia adalah pemain yang sulit dikalahkan, tetapi juga mengukuhkan namanya di jajaran legenda tenis dunia.

Gaya Bermain yang Anggun dan Inovatif

Maria Esther Bueno dikenal sebagai pemain yang sangat anggun di lapangan. Gayanya yang halus dan kontrol bola yang sempurna membuatnya terlihat seperti menari di atas lapangan. Kombinasi antara kekuatan dan ketepatan dalam setiap pukulan membuatnya sulit dikalahkan oleh lawan-lawannya. Dia memiliki servis yang keras dan andal, serta kemampuan voli yang sangat akurat, yang kerap menjadi senjata utamanya dalam meraih poin penting.

Tidak hanya diakui karena tekniknya yang luar biasa, Bueno juga dipuji karena kepribadiannya yang tenang dan rendah hati. Meski mencapai puncak dunia tenis, ia tetap dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan rendah hati. Sikapnya yang ramah dan bersahabat membuatnya sangat dicintai oleh penggemar tenis di seluruh dunia.

Cedera dan Masa Pensiun

Meskipun kariernya cemerlang, cedera akhirnya menjadi tantangan terbesar bagi Maria Esther Bueno. Pada akhir 1960-an, ia mengalami berbagai cedera, terutama di bagian bahu, yang memaksanya absen dari beberapa turnamen penting. Meskipun begitu, ia masih mampu bersaing di level tinggi hingga awal 1970-an sebelum memutuskan untuk pensiun dari dunia tenis profesional.

Setelah pensiun, Bueno tetap terlibat dalam dunia tenis sebagai komentator dan pelatih. Ia sering diundang sebagai tamu kehormatan di berbagai acara tenis, dan pengaruhnya terhadap generasi muda pemain tenis, terutama di Brasil, sangat signifikan. Banyak pemain tenis Brasil yang menganggapnya sebagai inspirasi utama mereka dalam mengejar karier di dunia olahraga.

Penghormatan dan Warisan

Pengaruh Maria Esther Bueno terhadap tenis tidak dapat dipandang sebelah mata. Hingga saat ini, ia masih diakui sebagai salah satu pemain tenis wanita terhebat sepanjang masa. Bueno menjadi pemain Amerika Selatan pertama yang meraih gelar Grand Slam, dan kesuksesannya di Wimbledon serta AS Terbuka membuka jalan bagi pemain-pemain tenis dari Brasil dan Amerika Latin lainnya.

Dia dilantik ke dalam International Tennis Hall of Fame pada tahun 1978, sebagai pengakuan atas kontribusinya yang luar biasa dalam dunia tenis. Meskipun sudah tiada, warisan Maria Esther Bueno terus hidup. Gaya bermainnya yang anggun, kerja kerasnya, dan prestasi gemilangnya akan selalu dikenang oleh para penggemar tenis di seluruh dunia.

Akhir Kehidupan dan Wafatnya

Pada 8 Juni 2018, dunia olahraga kehilangan salah satu bintang terbesarnya. Maria Esther Bueno meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker mulut. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi penggemar tenis, terutama di Brasil, di mana ia dianggap sebagai legenda dan sumber kebanggaan nasional. Warisan yang ia tinggalkan, baik dalam hal prestasi maupun inspirasinya kepada generasi penerus, akan terus hidup selamanya.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...