Jakarta – Dunia MMA wanita tengah menyaksikan lahirnya generasi baru petarung yang tidak hanya tangguh di stand-up fighting, tetapi juga mematikan di ground game. Di antara bintang yang tengah bersinar, nama Michelle Montague menjadi salah satu yang paling diperhitungkan. Lahir pada 25 November 1993 di Matamata, Waikato, Selandia Baru, Montague datang ke octagon UFC dengan reputasi mengerikan: rekor sempurna 6-0, dan seluruh kemenangannya didapat lewat submission.
Julukannya, “The Wild One”, bukan sekadar hiasan. Julukan itu mencerminkan gaya bertarungnya yang agresif, energik, dan tanpa kompromi. Setiap kali memasuki arena, ia membawa aura predator yang siap memburu mangsanya hingga ke tanah.
Fondasi dari Tanah Kiwi
Matamata dikenal dunia sebagai kampung halaman Hobbiton dari seri film The Lord of the Rings. Namun bagi Michelle, tanah kelahirannya adalah tempat di mana ia menanamkan prinsip kerja keras dan disiplin.
Sejak kecil, Montague terbiasa dengan aktivitas fisik. Ia aktif dalam berbagai olahraga, termasuk rugby, olahraga yang sangat populer di Selandia Baru. Rugby membentuk fisiknya yang tangguh dan mentalitas team player, sementara atletik melatih kecepatannya.
Namun, titik balik datang ketika ia mulai mengenal Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) dan gulat. Ia jatuh cinta pada seni pertarungan ini karena menggabungkan strategi, teknik, dan kekuatan fisik dalam satu paket. Tak butuh waktu lama baginya untuk menunjukkan bakat alami, menguasai teknik dasar dan lanjut, lalu berkompetisi di tingkat lokal dan nasional.
Dominasi di Dunia Grappling
Sebelum melangkah ke MMA profesional, Montague sudah membangun reputasi solid di dunia grappling. Ia menorehkan sejumlah prestasi penting:
-
- Juara Nasional Grappling Selandia Baru.
- Dua kali juara Full Force Sub-Only Absolute, turnamen tanpa batas waktu yang menguji stamina dan mental.
Keberhasilannya ini menegaskan bahwa ia bukan hanya kompeten di ground game, tetapi juga mendominasi lawan dengan kontrol penuh. Keahliannya dalam transition cepat dari takedown ke submission menjadi ciri khas yang sulit diantisipasi lawan.
Transisi ke MMA – Mengasah Serangan Lengkap
Memiliki pondasi grappling yang kuat membuat Montague percaya diri untuk beralih ke Mixed Martial Arts. Ia mulai mempelajari disiplin striking seperti Muay Thai dan kickboxing untuk melengkapi kemampuannya, sehingga ia tidak hanya berbahaya di bawah, tetapi juga mampu memberi ancaman dari jarak jauh.
Perjalanan awalnya di MMA dimulai dari panggung regional, namun kemampuannya cepat mengantarkannya ke ajang internasional. Ia tampil di Professional Fighters League (PFL) dan Bellator MMA, dua organisasi besar yang dikenal melahirkan bintang UFC.
PFL dan Bellator – Panggung Pembukuan
Di PFL Challenger Series, Montague mencuri perhatian penonton dan pengamat MMA global. Ia menunjukkan ketegasan strategi: menekan lawan sejak awal, melakukan takedown bersih, lalu mengakhiri laga lewat submission. Penampilan itu memantapkan statusnya sebagai spesialis penyelesaian cepat.
Tak hanya di PFL, saat tampil di Bellator MMA, Montague kembali membuktikan konsistensinya. Lawan-lawannya dibuat frustrasi dengan tekanan tanpa henti, tak memberi ruang untuk bangkit atau mengatur strategi.
Gaya Bertarung – Tekanan Konstan dan Penyelesaian Cepat
Michelle Montague bukan tipe petarung yang bermain aman. Setiap kali bel ronde berbunyi, ia maju dengan niat mengakhiri laga secepat mungkin. Karakteristik gaya bertarungnya meliputi:
-
- Pressure Grappling Intens – Mengunci lawan di sudut cage dan memaksa pertarungan ke clinch atau ground.
- Transisi Cepat – Bergerak dari posisi dominan ke submission dalam hitungan detik.
- Variasi Submission Mematikan – Mulai dari rear-naked choke, armbar, hingga guillotine choke.
- Agresivitas Terkontrol – Menyerang tanpa jeda, namun tetap memperhitungkan risiko.
Mimpi yang Jadi Kenyataan
Tidak semua petarung mendapat kesempatan langsung masuk ke UFC tanpa melalui jalur Dana White’s Contender Series atau The Ultimate Fighter. Namun, Montague adalah pengecualian. Reputasi dan performanya yang konsisten membuat UFC merekrutnya secara langsung.
Debutnya di UFC akan berlangsung pada UFC Fight Night 260, 27 September 2025 di Perth, Australia, melawan Luana Carolina. Pertarungan ini akan menjadi ujian pertama bagi Montague untuk membuktikan bahwa teknik grapplingnya tetap efektif melawan lawan di level tertinggi dunia.
Prestasi dan Rekor Penting
-
- Rekor MMA profesional: 6-0 (seluruh kemenangan via submission).
- Juara Nasional Grappling Selandia Baru.
- Dua kali juara Full Force Sub-Only Absolute.
- Pemenang PFL Challenger Series dan penampilan impresif di PFL Playoffs.
- Pernah bertarung di Bellator MMA dengan kemenangan dominan.
- Dijuluki “The Wild One” karena gaya bertarung agresif dan penuh energi.
Timeline Karier Michelle Montague
2015 – 2017
Mulai fokus di Brazilian Jiu-Jitsu dan gulat, menjuarai kompetisi nasional dan internasional di grappling.
2018 – 2019
Menjadi juara nasional grappling Selandia Baru dan dua kali menjuarai Full Force Sub-Only Absolute.
2020
Debut MMA di panggung lokal Selandia Baru, mencatat kemenangan submission cepat.
2021 – 2023
Bergabung dengan Professional Fighters League (PFL) dan mencatat kemenangan di Challenger Series serta Playoffs.
2024
Tampil di Bellator MMA dengan kemenangan dominan melalui rear-naked choke.
2025
Resmi menandatangani kontrak dengan UFC dan dijadwalkan debut melawan Luana Carolina di UFC Fight Night 260.
Masa Depan – Potensi Menuju Puncak Divisi Bantamweight
Dengan kombinasi grappling kelas dunia, mental baja, dan rekor tak terkalahkan, banyak pengamat memprediksi Montague bisa masuk ke jajaran Top 10 UFC Bantamweight dalam dua tahun pertama kariernya di UFC.
Jika ia terus mempertahankan rekor impresifnya dan mengembangkan kemampuan striking, bukan tidak mungkin Michelle Montague menjadi salah satu kandidat penantang gelar di masa depan.
(PR/timKB).
Sumber foto: cagesidepress.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda