Jakarta – Dalam dunia seni bela diri, ada kisah-kisah menakjubkan tentang atlet yang berani melangkah keluar dari zona nyaman demi menantang diri mereka di arena yang lebih besar. Salah satu kisah itu datang dari Yousri Belgaroui, seorang petarung dengan darah campuran Tunisia–Belanda, lahir pada 2 Juni 1992 di Amsterdam, Belanda. Dikenal luas dengan julukan “Baby Face Assassin”, Belgaroui bukanlah nama asing bagi penggemar olahraga tarung. Ia pernah menjadi Juara 3 kali pada Middleweight Championship challenger di ajang GLORY, organisasi kickboxing paling prestisius di dunia, sebelum akhirnya mengubah haluan kariernya dengan menapaki jalan baru di Ultimate Fighting Championship (UFC). Transisinya dari dunia kickboxing menuju MMA bukanlah hal mudah, namun perjalanan inilah yang membuat kisah Belgaroui begitu menarik untuk diikuti.
Masa Kecil dan Awal Ketertarikan pada Seni Bela Diri
Belgaroui tumbuh di Amsterdam, kota yang dikenal multikultural sekaligus memiliki tradisi panjang dalam kickboxing Belanda. Dari usia remaja, ia sudah menunjukkan minat besar pada seni bela diri. Ia menghabiskan banyak waktunya di sasana, berlatih keras dengan disiplin tinggi.
Darah petarungnya seakan sudah mengalir sejak dini, dan dengan cepat ia menonjol sebagai salah satu talenta muda berbakat di Belanda. Postur tinggi semampai, atletis, serta semangat kompetitif membuatnya menjadi kandidat sempurna untuk menapaki panggung kickboxing internasional.
Karier Kickboxing – Dari Amsterdam Menuju GLORY
Perjalanan profesional Yousri Belgaroui dalam kickboxing mencapai puncaknya ketika ia bergabung dengan GLORY Kickboxing, organisasi yang telah melahirkan banyak legenda.
Di GLORY, Belgaroui tampil di divisi Middleweight dan segera dikenal sebagai salah satu striker paling berbahaya. Gaya bertarungnya yang ortodoks, tajam, agresif, serta akurat, membuat lawan-lawannya kewalahan menghadapi kombinasi pukulan lurus, jab cepat, dan tendangan keras khas sekolah Belanda.
Puncak pencapaiannya datang ketika ia berhasil meraih gelar juara 3 kali pada Glory Middleweight Championship challenger, menempatkannya dalam jajaran elite kickboxer dunia. Julukan “Baby Face Assassin” pun semakin melekat, karena di balik wajah muda yang tenang, tersembunyi naluri pembunuh yang selalu mencari penyelesaian cepat di dalam ring.
Langkah Berani: Transisi ke MMA
Meski sudah sukses di dunia kickboxing, Belgaroui tidak puas hanya berhenti di sana. Ia merasa membutuhkan tantangan baru yang lebih kompleks, dan jawabannya adalah Mixed Martial Arts (MMA).
Namun, transisi dari kickboxing ke MMA bukanlah hal sederhana. Dunia MMA menuntut petarung menguasai lebih dari sekadar striking—ada aspek gulat, Brazilian Jiu-Jitsu, serta kontrol ground yang harus dipelajari. Banyak petarung striker gagal beradaptasi karena sulit menghadapi grappler.
Belgaroui memilih jalan sulit ini dengan penuh keyakinan. Ia menambah jam latihannya, mendalami grappling, serta mengasah pertahanan takedown agar tidak mudah dieksploitasi. Proses adaptasi ini penuh perjuangan, namun ia membuktikan dirinya mampu berkembang.
Dana White’s Contender Series – Ujian Menuju UFC
Kesempatan untuk masuk ke UFC datang lewat Dana White’s Contender Series (DWCS), ajang pencarian bakat MMA yang digagas oleh presiden UFC, Dana White.
-
- DWCS 2023 menjadi percobaan pertamanya. Saat itu, Belgaroui gagal meraih kemenangan. Namun, meski kalah, ia tetap mendapat sorotan karena memperlihatkan kualitas striking kelas dunia.
- DWCS 2024 menjadi titik balik. Belgaroui tampil lebih matang, disiplin, dan mampu memadukan striking dengan pertahanan grappling yang solid. Ia meraih kemenangan impresif, yang langsung mengantarnya mendapatkan kontrak resmi UFC.
Dua kali percobaan ini menjadi bukti karakter pantang menyerah Belgaroui. Ia belajar dari kegagalan dan kembali lebih kuat, menjadikan dirinya sebagai contoh nyata bahwa kerja keras akan membuahkan hasil.
Striker Kelas Dunia di Dunia MMA
Sebagai mantan juara kickboxing, tentu saja kekuatan utama Yousri Belgaroui ada pada striking-nya. Namun, kini ia semakin dikenal sebagai petarung MMA yang komplet.
-
- Striking Khas Belanda: Kombinasi pukulan lurus, jab cepat, dan tendangan middle kick keras.
- Agresif dengan Kontrol Jarak: Ia piawai menjaga lawan tetap di zona serangan favoritnya.
- Adaptasi Grappling: Meskipun striker sejati, Belgaroui telah memperlihatkan kemampuan bertahan dari takedown serta mulai membangun ancaman di clinch dan ground.
- Stamina Tinggi: Pengalaman lima ronde di kickboxing membuatnya mampu menjaga tempo pertarungan yang intens.
Dengan gaya bertarung seperti ini, Belgaroui dipandang sebagai salah satu striker paling mematikan di divisi Middleweight UFC, sekaligus ancaman nyata bagi siapa pun yang menghadapinya di oktagon.
Prestasi dan Pencapaian Yousri Belgaroui
-
- Juara 3 kali pada GLORY Middleweight Championship challenger – prestasi terbesar dalam karier kickboxingnya.
- Pernah Menghadapi Petarung Elite Dunia di GLORY, memperkaya pengalaman internasionalnya.
- DWCS 2023 – debut di MMA tingkat tinggi, meskipun berakhir dengan kekalahan.
- DWCS 2024 – kemenangan gemilang yang membuka jalan ke UFC.
- Kontrak UFC – kini resmi menjadi bagian dari petarung UFC di divisi Middleweight.
Masa Depan Sang “Baby Face Assassin”
Kini, Yousri Belgaroui tengah menapaki babak baru dalam hidupnya. Masuk ke UFC, ia akan menghadapi para petarung terbaik dunia seperti Israel Adesanya, Robert Whittaker, Sean Strickland, hingga Dricus Du Plessis. Tantangannya jelas tidak ringan, tetapi Belgaroui memiliki modal kuat: pengalaman sebagai juara dunia kickboxing, disiplin latihan, serta semangat pantang menyerah.
Usianya yang masih berada di awal 30-an juga memberinya keuntungan: masa emas karier seorang petarung MMA. Dengan waktu yang tepat untuk berkembang, bukan tidak mungkin “Baby Face Assassin” akan menjadi salah satu nama besar yang ditakuti di UFC.
Perjalanan Yousri Belgaroui adalah kisah tentang keberanian melangkah keluar dari zona nyaman. Dari Amsterdam, ia menorehkan sejarah di dunia kickboxing sebagai juara dunia, lalu beralih ke MMA dengan tekad untuk membuktikan dirinya di panggung terbesar, Ultimate Fighting Championship.
Dengan kombinasi gaya bertarung agresif, striking tajam, serta mental baja, Belgaroui kini siap melanjutkan perjalanannya. Dunia mungkin pernah mengenalnya sebagai juara kickboxing, tetapi di UFC, ia punya kesempatan untuk menulis bab baru—sebagai striker mematikan yang bisa mengguncang divisi Middleweight.
Julukan “Baby Face Assassin” kini bukan hanya sekadar nama, melainkan sebuah identitas: wajah tenang yang menyimpan naluri predator, selalu siap menghabisi lawan di oktagon.
(PR/timKB).
Sumber foto: yahoosport
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda