Jakarta – Dari kota kecil Bacchus Marsh, Victoria, lahir seorang petarung yang kini mulai diperhitungkan di panggung MMA internasional, Jack Jenkins. Lahir pada 3 November 1993, Jenkins membawa semangat juang khas Australia ke dalam setiap laga. Ia kini bertarung di divisi Featherweight UFC, salah satu divisi paling kompetitif yang dihuni banyak petarung berbakat. Dengan gaya freestyle yang fleksibel dan agresif, Jenkins menjelma menjadi salah satu talenta terbaik Negeri Kanguru.
Dari Bacchus Marsh ke Dunia Bela Diri
Bacchus Marsh, yang dikenal lebih banyak dengan suasana pedesaan dan komunitas kecilnya, bukanlah tempat yang sering melahirkan bintang olahraga internasional. Namun, dari sanalah Jack Jenkins menapaki jalannya. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang penuh energi dan kompetitif. Ia gemar berolahraga, terutama olahraga fisik yang menantang.
Jalan menuju seni bela diri dimulai ketika ia berkenalan dengan gulat. Dari sinilah pondasi teknik dasar grappling Jenkins terbentuk. Tak puas hanya dengan satu disiplin, Jenkins kemudian merambah ke Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) dan striking seperti tinju serta Muay Thai. Semangat belajarnya membuat ia cepat berkembang, dan pada akhirnya gaya bertarungnya dikenal sebagai freestyle—fleksibel, kreatif, namun tetap agresif.
Meniti Tangga dari Regional
Jack Jenkins memulai karier profesionalnya di kancah regional Australia. Ajang seperti Eternal MMA menjadi rumah awal baginya untuk mengasah kemampuan dan membuktikan diri. Di sana, ia tampil dominan, mencatat kemenangan demi kemenangan, dan memperlihatkan gaya bertarung yang serba bisa.
Kemenangan Jenkins bukanlah hasil kebetulan. Ia dikenal disiplin dalam latihan, mempelajari kelemahan lawan, serta mampu membaca arah pertarungan. Dengan kombinasi striking cepat, tendangan presisi, dan kemampuan menyelesaikan lawan lewat submission, Jenkins menempatkan dirinya di radar promotor besar.
Dana White’s Contender Series
Kesempatan emas datang ketika Jenkins dipanggil untuk bertarung di ajang Dana White’s Contender Series musim ke-6. Bagi banyak petarung, DWCS adalah pintu gerbang menuju UFC. Pertarungan ini bukan hanya soal kemenangan, melainkan soal menunjukkan kualitas dan potensi di hadapan Dana White langsung.
Di ajang tersebut, Jenkins menghadapi Emiliano Linares. Pertarungan berlangsung sengit, namun Jenkins mampu mendikte jalannya laga dengan strategi matang. Pada ronde ketiga, ia berhasil meraih kemenangan TKO yang meyakinkan. Dana White terkesan, dan kontrak UFC pun akhirnya resmi diberikan kepadanya.
Karier di UFC: Ujian Sejati
Masuk ke UFC berarti harus menghadapi lawan-lawan kelas dunia di divisi Featherweight. Jenkins tahu betul bahwa tantangan sesungguhnya baru dimulai. Namun, ia tetap tampil berani.
Dalam beberapa laganya, Jenkins memperlihatkan bahwa ia bukan sekadar pendatang baru. Dengan 6 kemenangan KO/TKO dan 3 kemenangan submission (termasuk rear-naked choke dan triangle choke), ia membuktikan diri sebagai finisher sejati. Rekornya memperlihatkan fleksibilitas luar biasa—ia bisa menutup pertarungan dengan tangan kosong atau dengan teknik kuncian mematikan.
Fleksibel, Agresif, dan Efisien
Jack Jenkins adalah contoh nyata petarung modern dengan gaya freestyle. Ia tidak terpaku pada satu strategi. Jika lawannya kuat di striking, Jenkins bisa membalas dengan grappling. Jika lawannya dominan di ground, ia bisa menjaga pertarungan tetap berdiri.
Dalam striking, ia mengandalkan kombinasi pukulan lurus, hook, serta tendangan rendah yang merusak pertahanan lawan. Sementara di ground, kemampuan BJJ dan latar belakang gulatnya memberinya keunggulan. Ia tidak ragu untuk memanfaatkan peluang kecil menjadi submission cepat.
Prestasi dan Catatan Penting
-
- Juara Eternal MMA sebelum bergabung ke UFC.
- 6 kemenangan via KO/TKO dan 3 kemenangan via submission dalam karier profesionalnya.
- Meraih kontrak UFC melalui Dana White’s Contender Series musim ke-6 dengan kemenangan TKO atas Emiliano Linares.
- Dikenal sebagai petarung Featherweight yang memiliki kemampuan finishing tinggi.
Julukan dan Persona
Meski tidak memiliki julukan resmi seperti banyak petarung UFC lainnya, Jenkins sering disebut penggemar sebagai “anak Bacchus Marsh yang membawa nama Australia.” Persona ini menggambarkan dirinya sebagai sosok pekerja keras yang berangkat dari akar sederhana menuju panggung terbesar MMA dunia.
Menuju Jajaran Elit Featherweight
Divisi Featherweight UFC dihuni nama-nama besar, namun Jenkins diyakini memiliki potensi untuk menembus jajaran elite. Dengan usia produktif, gaya bertarung fleksibel, dan mentalitas pantang menyerah, ia berpeluang besar mencatatkan namanya sebagai salah satu petarung top Australia di UFC.
Penggemar menunggu momen ketika Jenkins menghadapi petarung papan atas, untuk membuktikan sejauh mana “anak Bacchus Marsh” bisa melangkah.
Jack Jenkins adalah simbol kerja keras dan tekad. Dari kota kecil di Victoria, ia kini bertarung di panggung dunia, membela nama Australia di UFC. Dengan gaya bertarung freestyle yang fleksibel dan finishing rate yang tinggi, Jenkins bukan hanya seorang petarung, tetapi juga inspirasi bagi banyak anak muda yang bermimpi meniti karier di MMA.
Perjalanannya masih panjang, namun satu hal jelas: Jenkins adalah nama yang layak diperhitungkan di divisi Featherweight UFC.
(PR/timKB).
Sumber foto: instagram
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda