Jakarta – Di dunia seni bela diri campuran (MMA), hanya sedikit cerita yang sekuat dan sekeras perjalanan Ramon Taveras. Lahir pada 9 Januari 1994 di New York, Taveras kini dikenal sebagai salah satu petarung paling menjanjikan di divisi Bantamweight UFC. Dengan julukan “The Savage”, ia tampil sebagai sosok penuh agresivitas, keberanian, dan semangat pantang menyerah.
Taveras tidak hanya mengandalkan teknik, tetapi juga menghadirkan determinasi yang membara di setiap pertarungan. Dari kegagalannya di Dana White’s Contender Series (DWCS) hingga kemenangan kilat yang membuka pintu menuju UFC, kisahnya adalah cermin bahwa kerja keras dan keberanian untuk bangkit setelah terjatuh bisa mengubah segalanya.
Dari New York ke Jacksonville
Ramon Taveras tumbuh di lingkungan penuh dinamika di New York, kota besar yang selalu menuntut kerja keras dan daya juang tinggi. Seiring bertambahnya usia, ia memutuskan menetap di Jacksonville, Florida, tempat ia kini berlatih dan membangun karier profesionalnya.
Jacksonville memberinya kesempatan untuk fokus mengasah kemampuan, dikelilingi komunitas bela diri yang mendukung. Dari sanalah ia mulai menggabungkan latar belakang striking yang tajam dengan grappling modern, menciptakan gaya freestyle MMA yang agresif, fleksibel, dan sangat eksplosif.
Dari Regional hingga DWCS
Sebelum mencatatkan namanya di UFC, Taveras aktif bertarung di ajang-ajang regional Amerika. Penampilannya mencuri perhatian karena gaya bertarungnya yang jarang membiarkan pertarungan berakhir lewat keputusan juri.
Striking mematikan: Ia mencatat 5 kemenangan KO/TKO, mayoritas diraih di ronde awal.
Submission berbahaya: Ia juga memiliki 3 kemenangan lewat submission, dengan teknik andalan seperti rear-naked choke dan guillotine choke.
Dominasi di panggung lokal membawanya ke Dana White’s Contender Series musim ke-7, gerbang yang telah melahirkan banyak bintang UFC. Namun, jalan Taveras tidak langsung mulus.
Drama di Dana White’s Contender Series
DWCS menjadi titik balik besar dalam perjalanan karier Taveras.
Laga pertama: Ia berhadapan dengan Serhiy Sidey. Pertarungan tersebut berakhir dengan kekalahan, sebuah pukulan berat yang hampir menutup mimpinya menuju UFC. Namun, bagi Taveras, kekalahan itu bukan akhir. Ia bertekad bangkit, belajar dari kesalahan, dan kembali lebih kuat.
Laga kedua: Kesempatan kedua datang melawan Cortavious Romious. Kali ini, Taveras tidak membuang waktu. Hanya dalam 29 detik ronde pertama, ia menumbangkan lawannya dengan KO brutal. Penampilan kilat itu membuat Dana White kagum dan tanpa ragu langsung memberinya kontrak UFC.
Kisah comeback Taveras di DWCS menjadi salah satu cerita paling inspiratif, membuktikan bahwa satu kekalahan tidak menentukan akhir perjalanan seorang petarung.
Debut dan Perjalanan di UFC
Ramon Taveras akhirnya menjalani debut resminya di UFC pada Januari 2024. Meski baru memasuki kompetisi tertinggi, ia langsung menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pengisi divisi.
Dengan gaya freestyle MMA, Taveras mampu menyesuaikan strategi melawan lawan yang berbeda-beda. Ia bisa bermain cepat dengan kombinasi pukulan keras, atau mengajak lawan ke ground untuk menyelesaikan laga dengan submission. Agresivitasnya membuatnya menjadi petarung yang selalu ditunggu penampilannya oleh penggemar.
Divisi Bantamweight dikenal sebagai salah satu kelas tersulit di UFC, dengan deretan petarung top yang memiliki teknik tinggi dan stamina luar biasa. Namun, Taveras menghadapi tantangan ini dengan mental baja dan rasa percaya diri penuh.
Gaya Bertarung: “The Savage” yang Tak Kenal Ampun
Julukan “The Savage” bukan hanya tempelan, melainkan gambaran nyata gaya bertarung Taveras di oktagon.
Agresif sejak awal: Taveras gemar langsung menekan lawan sejak bel awal, menciptakan tekanan konstan.
Striking eksplosif: Kombinasi jab cepat, hook keras, dan pukulan lurus menjadi senjata utama yang telah menghasilkan KO spektakuler.
Submission efektif: Kemampuannya di ground tidak kalah menakutkan. Rear-naked choke dan guillotine choke sudah beberapa kali menjadi penutup cerita lawan-lawannya.
Freestyle adaptif: Ia tidak terpaku pada satu strategi. Jika pintu untuk KO tertutup, ia mencari peluang submission. Jika ground tidak memungkinkan, ia tetap nyaman bertarung berdiri.
Gaya bertarung ini membuat Taveras sulit ditebak sekaligus menegangkan untuk ditonton.
Prestasi dan Pencapaian
Rekor profesional impresif, dengan mayoritas kemenangan diraih lewat KO/TKO dan submission.
Kemenangan KO tercepat (29 detik) di DWCS melawan Cortavious Romious yang memberinya kontrak UFC.
Debut UFC pada Januari 2024, memperlihatkan potensi besar sebagai salah satu rising star di divisi Bantamweight.
Julukan “The Savage” yang kian melekat di hati penggemar berkat gaya bertarung agresif dan buas.
Bintang Baru Bantamweight
Dengan usia yang masih produktif, Ramon Taveras memiliki masa depan cerah di UFC. Potensi untuk menembus jajaran 15 besar Bantamweight terbuka lebar jika ia terus konsisten dan meningkatkan aspek teknisnya.
Penggemar MMA kini menantikan kapan “The Savage” akan menghadapi lawan papan atas. Dengan kombinasi pengalaman, agresivitas, dan semangat pantang menyerah, Taveras berpeluang besar menjadi salah satu ikon baru UFC
Kisah Ramon Taveras adalah cerita tentang kegigihan dan kebangkitan. Dari kekalahan di DWCS hingga mencetak KO kilat yang mengubah kariernya, ia membuktikan bahwa tekad kuat mampu membalikkan keadaan. Kini, dengan kontrak UFC di tangan dan masa depan yang penuh peluang, “The Savage” siap mencatatkan namanya di sejarah divisi Bantamweight.
(PR/timKB).
Sumber foto: youtube
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda