Jakarta – Di dunia Muay Thai, tidak mudah menemukan petarung Eropa muda yang berani menghadapi kerasnya kompetisi Thailand — terlebih lagi di panggung sebesar ONE Championship. Namun, dari Prancis lahirlah seorang anak muda bernama Elies Abdelali, seorang petarung berbakat kelahiran tahun 2003, yang membawa semangat baru ke dalam dunia Muay Thai internasional.
Meski usianya baru menginjak awal 20-an, Elies telah menapaki jalur yang penuh ambisi dan keberanian, jauh dari tanah kelahirannya di Prancis. Ia memilih untuk menguji dirinya di tempat yang dianggap pusat dari seni bela diri ini — di Lumpinee Boxing Stadium, Bangkok — lokasi yang dijuluki sebagai “rumah suci Muay Thai.”
Mimpi Besar dari Prancis
Prancis telah menjadi salah satu negara Eropa dengan perkembangan Muay Thai tercepat. Generasi muda di sana terinspirasi oleh legenda-legenda seperti Fabio Pinca dan Rafi Bohic, petarung Eropa yang sukses di Thailand. Di tengah lingkungan kompetitif inilah Elies Abdelali tumbuh.
Sejak remaja, Elies sudah akrab dengan:
-
- latihan keras di gym lokal,
- disiplin teknik tendangan dan kombinasi pukulan,
- serta sparring melawan petarung-petarung senior.
Ia menunjukkan karakter yang berbeda dari rekan-rekannya. Elies memiliki drive yang kuat, ambisi untuk tidak hanya menjadi juara regional Prancis, tetapi juga untuk membuktikan diri di panggung dunia.
Keputusannya mengejar karier ke tingkat internasional bukanlah hal yang tiba-tiba. Ia tumbuh dengan impian untuk bertarung di Thailand — negara yang menjadi pusat seni bela diri yang ia cintai.
Debut di ONE Championship
Mimpi itu berubah menjadi kenyataan pada 27 Juni 2025, ketika nama Elies Abdelali diumumkan sebagai salah satu petarung dalam acara ONE Friday Fights. Ajang ini berlangsung di venue yang sangat legendaris: Lumpinee Boxing Stadium.
Dalam debutnya, ia menghadapi petarung lokal Thailand, Apichart Farm. Lawan yang jauh lebih berpengalaman dan lahir dari kultur Muay Thai yang mendalam. Namun, bagi Elies, ini adalah sebuah kehormatan — sekaligus ujian batu.
Atmosfer Lumpinee bukan seperti arena lainnya:
-
- ritme drum tradisional yang memompa adrenalin,
- sorakan keras para penonton lokal,
- dan aura sakral ring yang penuh sejarah.
Hanya sedikit petarung muda asing yang berani menginjakkan kaki di sana, dan lebih sedikit lagi yang mampu tampil dengan kepala tegak.
Elies hadir dengan ketenangan, rasa hormat, dan keberanian yang menandakan masa depan cerah.
Muay Thai Tradisional dengan Sentuhan Mobilitas Eropa
Salah satu hal yang membuat Elies Abdelali menonjol di antara petarung muda Eropa lainnya adalah perpaduan gaya bertarungnya.
-
- Teknik Muay Thai Tradisional Thailand. Elies benar-benar mempelajari teknik-teknik inti Muay Thai, antara lain:tendangan keras ke tubuh dan kaki, pukulan kombinasi yang rapat, permainan jarak tengah yang disiplin, dan kemampuan membaca ritme serangan. Ia bukan sekadar petarung agresif — ia teknikal dan memahami struktur Muay Thai klasik.
- Mobilitas ala Eropa. Berbeda dari petarung Thailand yang lebih mengandalkan clinch dan serangan beruntun, Elies membawa sentuhan Eropa: footwork cepat dan lincah, pergerakan maju-mundur yang dinamis, kontrol jarak dengan speed, dan taktik memancing lawan keluar ritme. Gaya hybrid inilah yang membuatnya dinamis dan sulit diprediksi.
- Agresivitas dan Timing. Salah satu ciri khas tekniknya adalah agresivitas terkontrol. Ia tidak maju membabi buta, tetapi: menunggu timing yang tepat, masuk dengan kombinasi cepat, lalu kembali menjaga jarak dengan aman. Catatan ini menunjukkan bahwa meski muda, Elies memiliki kematangan strategi.
Langkah Awal Menuju Panggung Dunia
ONE Championship dikenal sebagai salah satu organisasi yang memberi ruang besar bagi petarung muda berbakat. Dengan memberikan kesempatan debut di ONE Friday Fights, mereka menunjukkan keyakinan pada potensinya.
Karier Elies masih panjang dan terbuka lebar. Namun debutnya di panggung besar menandai fase penting:
ia kini berada di radar komunitas Muay Thai internasional,
ia mendapatkan eksposur dari fans global,
dan ia kini memikul tanggung jawab sebagai wakil Prancis di ajang elite Asia.
Dengan perkembangan Muay Thai Eropa yang pesat, Elies berpotensi menjadi salah satu wajah baru dari perkembangan tersebut.
Prestasi Awal dan Jalan Menuju Kesuksesan Lebih Besar
Walau baru memulai karier di ONE, Elies membawa beberapa poin penting:
-
- Debut internasional di usia sangat muda (22 tahun)
- Bertarung langsung di Lumpinee — bukti tingkat kepercayaan tinggi dari ONE
- Gaya bertarung adaptif yang cocok untuk panggung global
- Potensi besar untuk berkembang dalam beberapa tahun mendatang
Dengan bimbingan pelatih tepat dan eksposur kompetitif yang terus meningkat, tidak tertutup kemungkinan bagi Elies untuk:
-
- naik ke ranking featherweight Muay Thai,
- mendapatkan laga-laga besar melawan petarung Thailand terkemuka,
- dan menjadi inspirasi bagi petarung-petarung muda Eropa.
Masa Depan Muay Thai Eropa di ONE Championship
Kisah Elies Abdelali bukan sekadar kisah seorang petarung muda yang melakukan debut internasional. Ini adalah kisah tentang keberanian menantang tradisi, tentang generasi baru petarung Eropa yang berani berdiri di ring Thailand, dan tentang mimpi besar yang mulai terwujud.
Dengan gaya bertarung yang agresif namun cerdas, teknik hybrid antara Muay Thai tradisional dan mobilitas Eropa, serta mental baja yang ia tunjukkan di Lumpinee Stadium, Elies Abdelali adalah salah satu talenta paling menarik untuk diikuti dalam beberapa tahun mendatang.
ONE Championship telah melihat potensinya — dan kini, dunia juga mulai memperhatikannya.
(PR/timKB).
Sumber foto: tapology
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita lainya
Duel PSM Makassar Kontra Persebaya Berakhir Tanpa Pemenang
The Gunners Tumbang Di Tangan Aston Villa
George Russell Tercepat Di FP3 Formula 1 Abu Dhabi