Jacob Malkoun: Juara ADCC Yang Jadi Bintang Middleweight UFC

Piter Rudai 23/12/2025 7 min read
Jacob Malkoun: Juara ADCC Yang Jadi Bintang Middleweight UFC

Jakarta – Jacob Malkoun adalah petarung mixed martial arts (MMA) asal Australia yang lahir pada 26 Agustus 1995 di Sydney, New South Wales. Ia berkompetisi di divisi middleweight UFC dan dikenal dengan julukan “Mamba”, sebuah penghormatan langsung kepada mendiang legenda NBA, Kobe Bryant.

Bertarung dengan stance ortodoks, Malkoun memadukan boxing teknikal dan Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) tingkat tinggi. Ia memegang sabuk hitam BJJ dan berlatih di Gracie Jiu Jitsu Smeaton Grange, sasana yang juga menjadi rumah bagi mantan juara UFC Robert Whittaker, sekaligus rekan latihannya sejak awal karier.

Secara profesional, Malkoun memiliki rekor 8 kemenangan dan 3 kekalahan di MMA, dengan rincian 3 kemenangan via KO/TKO dan 5 via keputusan. Rekor tersebut menggambarkan sosok petarung yang bukan hanya berbahaya di darat, tetapi juga mampu mendominasi duel lima belas menit penuh dengan kontrol dan volume serangan.

Dari Prop Rugby ke Dunia MMA

Sebelum menjadi petarung UFC, perjalanan Malkoun justru dimulai di dunia rugby league. Sebagai remaja, ia bermain di posisi prop dengan berat badan mencapai sekitar 115 kg. Energi besar dan fisik yang kuat membuatnya mudah menonjol, tapi sang ayah melihat bahwa bakat dan energinya bisa disalurkan ke disiplin yang lebih terarah.

Di usia 16 tahun, sang ayah membawanya ke sebuah gym boxing lokal. Niat awal hanya “menurunkan berat badan”, tetapi keputusan itu menjadi titik balik hidupnya. Di gym inilah ia mulai jatuh cinta pada seni bela diri, menaruh minat serius pada striking, dan perlahan meninggalkan lapangan rugby.

Tak lama kemudian, ia diperkenalkan ke dunia Brazilian Jiu-Jitsu dan grappling. Kombinasi boxing dan BJJ ini ternyata sangat natural baginya. Dengan disiplin tinggi, ia berkembang bukan hanya sebagai petarung, tapi juga sebagai kompetitor grappling kelas dunia.

Fakta menarik: Di balik karakter tenang dan kerja kerasnya, julukan “Mamba” yang diambil dari Kobe Bryant mencerminkan filosofi kerjanya — fokus, obsesif pada pengembangan diri, dan pantang puas.

ADCC & Pan Pacific Champion

Sebelum dikenal sebagai petarung UFC, nama Jacob Malkoun sudah bergaung di dunia grappling internasional.

Beberapa pencapaian pentingnya antara lain:

    • Juara ADCC Asian & Oceanic Trials 2019 di kelas 99 kg, sebuah ajang kualifikasi bergengsi menuju kejuaraan dunia ADCC.
    • Pan Pacific Champion 2019 di BJJ No-Gi, menegaskan kualitas teknisnya di atas matras.
    • Rekam jejak 3–0 di tinju profesional, yang memperkuat reputasinya sebagai striker murni sebelum sepenuhnya fokus ke MMA.

Fondasi grappling ini kelak menjadi senjata utama di UFC: ia bukan sekadar petarung yang bisa melakukan takedown, tetapi grappler sistematis yang mampu mengontrol lawan selama tiga ronde penuh, memadukan ground-and-pound dan ancaman submission.

Dominasi di Skena Regional Australia

Jacob Malkoun memulai karier profesional MMA pada tahun 2017. Debutnya berlangsung di ajang BRACE 47, di mana ia mengalahkan Cam Rowston lewat keputusan mutlak.

Perjalanannya di skena regional Australia berlangsung impresif:

    • Menorehkan rekor 4–0 sebelum dipanggil ke UFC.
    • Kemenangan TKO atas Ryan Heketa (Hex Fight Series 17) dan Christophe Van Dijk (Wollongong Wars 7).
    • Kemenangan keputusan mutlak atas Sebastian Temesi di Eternal MMA 48.

Di periode ini, Malkoun mulai dikenal sebagai grappler yang lengkap: ia bisa menekan lawan dengan takedown dan kontrol clinch, tetapi juga punya tangan yang cukup berat untuk memaksa lawan berhenti. Kombinasi inilah yang membuat namanya masuk dalam radar pencari bakat UFC — terlebih statusnya sebagai rekan latihan utama Robert Whittaker memperbesar sorotan media.

Perjalanan di UFC: Dari Debut Pahit ke Kebangkitan

Debut di UFC 254: Pukulan Realitas

Malkoun resmi menginjakkan kaki di panggung UFC pada UFC 254 (Oktober 2020) dan langsung dihadapkan pada Phil Hawes. Laga ini tidak berjalan sesuai harapan: Malkoun kalah lewat KO hanya dalam 18 detik di ronde pertama.

Bagi banyak petarung, kegagalan secepat itu bisa mematahkan mental. Namun bagi Malkoun, kekalahan tersebut justru menjadi pemicu evaluasi total. Ia mengakui bahwa moment besar itu datang cepat, dan ia harus meningkatkan fokus, disiplin, serta kesiapan mental untuk level UFC.

Abdul Razak Alhassan & AJ Dobson

Pada April 2021, Malkoun kembali ke oktagon melawan Abdul Razak Alhassan di UFC on ESPN 22. Banyak yang memfavoritkan pukulan keras Alhassan, tetapi Malkoun menunjukkan blueprint kemenangan yang sangat jelas: takedown berulang, kontrol posisi, dan disiplin game plan. Ia menang lewat keputusan mutlak, mendominasi dari awal hingga akhir.

Kemenangan itu seolah menjadi pernyataan: Malkoun bukan sekadar “teman latihan Whittaker”, melainkan petarung UFC yang sah dan berbahaya.

Pada UFC 271 (Februari 2022), ia menghadapi AJ Dobson. Pola yang sama kembali terlihat: tekanan grappling, volume takedown, dan kontrol yang membuat lawan kehabisan opsi. Malkoun kembali menang lewat keputusan mutlak, memperpanjang momentumnya.

Ujian Berat: Brendan Allen & Nick Maximov

Di UFC 275 (Juni 2022), Malkoun berhadapan dengan Brendan Allen, seorang grappler berbahaya dengan kemampuan submission tinggi. Laga ini menjadi duel teknik di ground. Malkoun kalah lewat keputusan juri, tetapi banyak pengamat menilai performanya tetap kompetitif dan menunjukkan bahwa ia mampu bersaing dengan grappler papan atas.

Ia bangkit pada UFC Fight Night 212 (Oktober 2022) menghadapi Nick Maximov. Lagi-lagi, Malkoun tampil disiplin: memadukan striking secukupnya dengan kontrol grappling efektif. Ia menang lewat keputusan mutlak, mengukuhkan reputasinya sebagai “grinder” di divisi middleweight, petarung yang siap menghabisi tiga ronde dengan tempo tinggi.

Kontroversi vs Cody Brundage dan Kebangkitan di 2024

Pada September 2023, Malkoun dijadwalkan melawan Aliaskhab Khizriev, lalu lawannya berganti dua kali hingga akhirnya bertemu Cody Brundage di UFC Fight Night: Fiziev vs Gamrot. Laga ini berakhir antiklimaks: Malkoun dinyatakan kalah lewat diskualifikasi setelah menyarangkan siku ilegal ke belakang kepala Brundage.

Meski kontroversial, insiden itu menjadi pelajaran besar lain soal kontrol emosi dan presisi eksekusi di level tertinggi.

Momen kebangkitan datang pada UFC on ESPN: Blanchfield vs Fiorot (Maret 2024) ketika ia menghadapi Andre Petroski. Dalam laga ini, Malkoun tampil dominan dan menang lewat TKO di ronde kedua melalui serangan ke tubuh (soccer kick) yang memaksa wasit menghentikan pertandingan.

Kemenangan tersebut bukan hanya menambah angka di kolom win, tetapi juga menegaskan bahwa:

Ia mampu finishing dari posisi atas.
Grappling-nya tidak sekadar kontrol, tetapi juga berorientasi pada kerusakan.

Pada 2025, ia sempat dijadwalkan menghadapi spesialis grappling Rodolfo Vieira namun mundur karena cedera. Untuk ke depan, ia dijadwalkan bertarung melawan Torrez Finney di UFC 325 (1 Februari 2026), laga yang bisa menjadi batu loncatan berikutnya di divisi middleweight.

Tekanan Maju, Grappling Sistematis

Secara teknis, Jacob Malkoun bisa digambarkan sebagai campuran antara:

    • Boxer teknikal dengan jab rapi dan kombinasi sederhana namun efektif.
    • Grappler pekerja keras yang mengandalkan volume takedown dan kontrol.

Beberapa ciri khas gaya bertarungnya:

    • Tekanan Maju Konstan
      Dengan stance ortodoks, ia maju perlahan namun terus menerus, memaksa lawan mundur dan kehilangan ruang. Ia menggunakan jab dan straight kanan untuk memaksa respon, lalu masuk ke clinch atau level change untuk takedown.
    • Takedown dan Kontrol Ground
      Latar belakang BJJ dan grappling kompetitif menjadikannya sangat nyaman begitu pertarungan menyentuh matras. Ia sering:
    • Melakukan chain wrestling;
    • Menjaga posisi top control yang berat;
    • Mengancam dengan ground-and-pound atau submission.
    • BJJ Sabuk Hitam: Ancaman Submission Serius
    • Meskipun di UFC banyak kemenangannya datang lewat keputusan, statusnya sebagai sabuk hitam BJJ dan juara ADCC Trials berarti ia selalu punya kartu as di ground. Lawan harus berhati-hati dengan:
    • Back takes dari scrambles;
    • Choke dari posisi depan;
    • Kontrol side mount yang menguras energi.
    • Cardio dan Kedisiplinan Game Plan
    • Salah satu keunggulan terbesar Malkoun adalah kemampuan menjaga intensitas selama tiga ronde penuh. Ia jarang panik, tetap sabar mengeksekusi rencana, dan nyaman “menggiling” lawan dari awal sampai akhir.

Prestasi dan Pencapaian Penting

Di MMA & UFC

    • Rekor profesional: 8–3 di MMA.
    • Kemenangan penting atas Abdul Razak Alhassan, AJ Dobson, Nick Maximov, dan Andre Petroski.
    • Petarung middleweight aktif di UFC sejak 2020.

Di Grappling & BJJ

    • Juara ADCC Asian & Oceanic Trials 2019 (99 kg).
    • Pan Pacific Champion 2019 di BJJ No-Gi.
    • Sabuk hitam BJJ dan instruktur di Gracie Jiu Jitsu Smeaton Grange.

Di Tinju

    • Rekor 3–0 di tinju profesional sebelum fokus penuh ke MMA.
    • Kombinasi prestasi di tiga dunia — BJJ, grappling, dan tinju — menjadikan Malkoun salah satu paket lengkap di divisi middleweight.

Aspek Menarik di Luar Oktagon

Beberapa hal menarik tentang Jacob Malkoun yang menambah dimensi ceritanya:

    • Julukan “Mamba”
      Nama ini diambil dari Kobe Bryant, sosok yang ia kagumi. Filosofi “Mamba Mentality” — fokus ekstrem, kerja keras, dan tidak kompromi dalam pengembangan diri — sangat resonan dengan pendekatan Malkoun terhadap latihan dan kariernya.
    • Rekan Latihan Robert Whittaker
      Ia berlatih di tim yang sama dengan mantan juara middleweight UFC, Robert Whittaker. Hal ini tidak hanya memberinya akses ke sparring kelas dunia, tetapi juga pengalaman teknis dan mental bertarung di level tertinggi.
    • Instruktur BJJ
      Di sela jadwal bertarung, Malkoun juga menjadi instruktur BJJ. Peran ini membuatnya terus mengasah detail teknis, karena mengajar menuntut pemahaman konsep yang sangat dalam.
    • Perjalanan Mental dari Kekalahan ke Kebangkitan
      Debut pahit di UFC 254 dan kekalahan DQ melawan Cody Brundage adalah titik-titik yang mudah membuat karier seseorang merosot. Namun, Malkoun justru menjadikannya bahan bakar untuk kembali lebih disiplin — sesuatu yang terlihat jelas saat ia menundukkan Andre Petroski pada 2024.

Masa Depan “Mamba” di Divisi Middleweight

Dengan usia yang masih berada di puncak masa atletik dan rekam jejak grappling sekaligus striking yang kuat, Jacob Malkoun berada di jalur yang menarik di divisi middleweight UFC. Ia bukan tipe petarung yang hanya mengandalkan satu pukulan KO, melainkan tekanan konstan, volume takedown, dan kecerdasan taktis.

Ke depan, pertarungan melawan nama-nama seperti Torrez Finney dan potensi laga melawan grappler elit lain akan menjadi ujian berikutnya. Jika ia mampu terus mengasah striking dan mempertahankan intensitas grappling-nya, bukan mustahil “Mamba” dari Sydney ini menjadi salah satu “dark horse” paling berbahaya di kelas 185 lbs.

(PR/timKB).

Sumber foto: youtube

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...