Cuju: Sejarah Sepak Bola Kuno Dari Tiongkok

Eva Amelia 23/12/2025 4 min read
Cuju: Sejarah Sepak Bola Kuno Dari Tiongkok

Jakarta – Cuju atau Tsu’ Chu (berarti “menendang bola”) bukan sekadar permainan kuno, melainkan sebuah artefak budaya dan olahraga yang telah diakui secara resmi oleh FIFA sebagai bentuk permainan bola paling awal yang tercatat secara historis. Berasal dari Tiongkok, olahraga yang telah berusia lebih dari 2.300 tahun ini menawarkan jendela unik menuju kehidupan militer, budaya istana, dan interaksi sosial masyarakat Tiongkok kuno. Kisahnya adalah narasi tentang evolusi, dari alat latihan militer yang keras hingga menjadi tontonan artistik yang elegan, sebelum akhirnya meredup dan menjadi warisan sejarah yang berharga.

Asal-Usul Militer dan Dinasti Han (Abad ke-3 SM – 220 M)

Catatan tertulis paling awal mengenai Cuju ditemukan dalam Zhan Guo Ce (Strategi Negara-Negara Berperang), sebuah panduan militer yang ditulis antara abad ke-5 dan ke-3 Sebelum Masehi (SM). Pada masa awal ini, Cuju memiliki tujuan yang sangat praktis: pelatihan fisik bagi prajurit. Permainan ini dirancang untuk meningkatkan ketangkasan, kekuatan kaki, dan ketepatan tendangan prajurit, menjadikannya latihan pemanasan yang penting bagi kavaleri.

Era Dinasti Han (206 SM – 220 M) menjadi titik balik penting dalam sejarah Cuju. Popularitasnya meluas dari barak militer hingga ke istana kekaisaran dan kalangan elit. Kaisar Han Wu, salah satu penguasa paling berpengaruh, dikatakan sangat menikmati permainan ini.

Selama periode Han, Cuju mulai distandarisasi dan aturan-aturan formal pun ditetapkan. Permainannya kala itu sangat kompetitif dan keras. Bola yang digunakan pada mulanya adalah bola kulit yang diisi dengan bulu atau rambut. Lapangan Cuju didirikan di istana, dan pertandingan besar sering diadakan. Aturan mendasar Cuju adalah bahwa pemain harus menendang bola ke dalam gawang tanpa menggunakan tangan—sebuah prinsip yang kelak menjadi inti dari sepak bola modern.

Seni dan Estetika di Dinasti Tang (618–907 M)

Jika Dinasti Han meletakkan dasar Cuju yang kompetitif, Dinasti Tang mengubahnya menjadi sebuah seni pertunjukan yang elegan dan halus. Perkembangan teknologi yang revolusioner adalah penggantian bola. Bola yang awalnya padat digantikan dengan bola kulit yang diisi dengan udara (sejenis kandung kemih hewan) dan memiliki lapisan ganda. Bola yang lebih ringan dan memantul ini memungkinkan pemain untuk melakukan trik dan kontrol yang jauh lebih rumit, mengubah sifat permainan secara drastis.

Pada masa Tang, muncul dua variasi utama Cuju:

Gawang Tiang Tunggal: Ini adalah bentuk yang lebih artistik. Gawangnya berupa jaring melingkar kecil yang digantungkan tinggi-tinggi di antara dua tiang bambu. Tujuannya adalah menendang bola melewati lubang jaring. Bentuk ini lebih menekankan pada keterampilan individu, akurasi, dan freestyle daripada kompetisi antar tim yang keras. Seringkali dimainkan dengan iringan musik untuk menghibur penonton.

Gawang Jaring Ganda: Bentuk ini lebih menyerupai pertandingan tim, di mana dua tim berjuang untuk mencetak gol di gawang yang dijaga ketat di kedua sisi lapangan.

Popularitas Cuju pada masa Tang mencakup semua lapisan masyarakat. Permainan ini tidak hanya dimainkan oleh bangsawan pria; wanita juga aktif berpartisipasi dalam permainan Cuju. Di ibu kota, Chang’an, lapangan-lapangan khusus Cuju didirikan, dan tim-tim profesional mulai bermunculan, lengkap dengan pelatih dan basis penggemar.

Puncak Kejayaan di Dinasti Song (960–1279 M)

Cuju mencapai puncak kejayaannya dan formalisasi pada masa Dinasti Song. Pada periode ini, Cuju bertransformasi sepenuhnya menjadi olahraga profesional.

Klub dan Organisasi: Pemain Cuju profesional membentuk klub dan liga. Yang paling terkenal adalah organisasi bernama Qi Yun She (atau Yuan She), sebuah persatuan Cuju yang memiliki aturan keanggotaan, mengadakan turnamen, dan bahkan menerbitkan buku panduan permainan. Klub ini sangat mirip dengan klub sepak bola modern, berfungsi sebagai badan pengatur dan pengembang bakat.

Baida (百打): Aturan yang lebih fokus pada keterampilan murni tanpa gawang menjadi populer. Permainan dimainkan di lapangan yang ditandai, di mana para pemain harus menjaga bola tetap di udara melalui tendangan akurat secara bergiliran. Penilaian didasarkan pada jumlah kesalahan yang dibuat. Permainan ini membutuhkan konsentrasi dan kontrol bola yang luar biasa.

Budaya Rakyat: Cuju tidak hanya dimainkan di istana, tetapi juga menjadi tradisi masyarakat, dimainkan di alun-alun umum, sekolah, dan selama festival rakyat.

Pada masa Song, Cuju adalah lambang kemakmuran dan hiburan di masyarakat. Gambar-gambar dari periode ini sering menggambarkan pemain Cuju profesional dengan kostum khas, menunjukkan betapa formalnya olahraga ini.

Penurunan dan Warisan (Dinasti Yuan dan Ming)

Sayangnya, nasib Cuju mulai meredup setelah Dinasti Song. Selama Dinasti Yuan (1271–1368) di bawah kekuasaan Mongol, olahraga ini kehilangan banyak dukungan resmi. Para kaisar Mongol kurang tertarik pada Cuju Tiongkok dan lebih memilih olahraga tradisional mereka.

Penurunan drastis terjadi pada Dinasti Ming (1368–1644). Kaisar Ming Taizu, pendiri dinasti, secara keras melarang para pejabat dan perwira militer untuk bermain Cuju, memandangnya sebagai pengalihan dari tugas-tugas penting negara. Larangan ini efektif menghancurkan basis dukungan Cuju di kalangan elit dan militer.

Meskipun masih dimainkan di kalangan rakyat biasa, Cuju tidak pernah lagi mencapai tingkat popularitas dan profesionalisme seperti di masa Song.

Pengaruh Global

Meskipun Cuju akhirnya menghilang di tempat asalnya, warisannya menyebar ke negara-negara tetangga. Di Jepang, permainan ini memengaruhi pengembangan Kemari (dikenal sebagai “menendang bola”), yang muncul setelah tahun 600 Masehi. Kemari adalah permainan seremonial non-kompetitif di mana pemain bekerja sama untuk menjaga bola tetap di udara. Di Korea, permainan serupa dikenal sebagai Chuk-guk juga mendapatkan pengaruh dari Cuju.

Sebagai bukti pengakuan atas perannya, FIFA pada tahun 2004 secara resmi mengakui Cuju sebagai bentuk sepak bola paling awal. Cuju membuktikan bahwa, jauh sebelum aturan modern dibentuk di Inggris pada abad ke-19, konsep menendang bola ke gawang tanpa menggunakan tangan telah menjadi bagian integral dari sejarah olahraga manusia, mengukuhkan posisinya sebagai cikal bakal budaya sepak bola global.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...