Salvatore Schillaci: Sang Pahlawan Tak Terduga Dari Italia

Eva Amelia 07/01/2026 4 min read
Salvatore Schillaci: Sang Pahlawan Tak Terduga Dari Italia

Jakarta – Kisah Salvatore Schillaci, atau yang akrab disapa “Totò”, adalah salah satu narasi paling dramatis dan mengharukan dalam sejarah Piala Dunia. Ia adalah personifikasi dari pahlawan tak terduga, seorang penyerang yang dalam sekejap mata bangkit dari ketidakjelasan di kancah internasional menjadi bintang global, meraih penghargaan top skorer dan pemain terbaik di Piala Dunia FIFA 1990 di tanah kelahirannya, Italia.

Masa Awal dan Perjalanan Karier Klub

Lahir pada 1 Desember 1964, di Palermo, Sisilia, dari keluarga miskin, perjalanan Schillaci menuju puncak sepak bola jauh dari mulus. Sisilia pada umumnya kurang diperhatikan oleh pemandu bakat klub-klub besar Italia. Karier profesionalnya dimulai di klub lokal Messina pada tahun 1982, di Serie C. Di Messina, Totò secara bertahap menunjukkan naluri mencetak golnya yang tajam, menghabiskan tujuh tahun di sana dan mencetak 61 gol dalam 219 penampilan. Puncaknya adalah ketika ia menjadi top skorer Serie B pada musim 1988–89 dengan 23 gol.

Penampilan impresifnya menarik perhatian klub raksasa Serie A, Juventus. Pada tahun 1989, Schillaci pindah ke Turin dan melakukan debutnya di Serie A. Di Juventus, ia mulai bersinar di level tertinggi, mencetak 15 gol di liga pada musim debutnya dan membantu tim memenangkan Coppa Italia dan Piala UEFA (UEFA Cup) pada musim yang sama. Penampilan inilah yang akhirnya membawanya ke radar tim nasional Italia, tepat pada waktunya untuk turnamen terbesar. Setelah tiga musim di Juventus, ia pindah ke Internazionale (Inter Milan) dari tahun 1992 hingga 1994, di mana ia kembali memenangkan Piala UEFA pada musim 1993–94.

Pada tahun 1994, Schillaci membuat langkah yang tidak biasa untuk pemain Italia pada masa itu: ia pindah ke Jepang untuk bermain dengan Júbilo Iwata di J1 League. Ia menjadi pemain Italia pertama yang bermain di liga Jepang dan menikmati masa karier yang sukses di sana, bahkan memenangkan gelar liga pada tahun 1997 dan menjadi top skorer J1 League pada musim 1994–95.

Italia ’90: Panggung Transformasi Instan

Meskipun karier klubnya mulai menanjak, panggilan ke tim nasional Italia untuk Piala Dunia 1990 yang diselenggarakan di rumah sendiri terasa sangat mengejutkan bagi banyak pihak, termasuk dirinya sendiri. Sebelum turnamen, Schillaci hanya memiliki satu penampilan internasional dan belum pernah mencetak gol untuk Azzurri. Pelatih saat itu, Azeglio Vicini, memasukkannya ke dalam skuad, awalnya sebagai pilihan penyerang cadangan, di belakang pemain seperti Gianluca Vialli, Roberto Baggio, dan Andrea Carnevale.

Namun, Schillaci mengubah narasi itu dalam pertandingan pembuka Italia melawan Austria. Masuk sebagai pemain pengganti, ia hanya membutuhkan empat menit untuk menanduk bola dari umpan silang Gianluca Vialli ke gawang, mencetak gol internasional pertamanya, dan memberikan kemenangan 1-0 yang krusial bagi Italia. Sorot matanya yang liar dan penuh gairah setelah mencetak gol dengan cepat menjadi ikon.

Dalam pertandingan grup kedua melawan Amerika Serikat, ia kembali masuk dari bangku cadangan tetapi gagal mencetak gol. Namun, penampilannya yang tak kenal lelah dan naluri predatornya di kotak penalti meyakinkan Vicini untuk memberinya starting berth di pertandingan grup terakhir melawan Cekoslowakia. Schillaci membalas kepercayaan itu dengan gol lagi, yang juga merupakan gol pembuka, di menit ke-9, dalam kemenangan 2-0.

Setelah itu, ia tak terhentikan. Schillaci menjadi pilihan utama Vicini di sisa turnamen. Ia mencetak gol di setiap pertandingan berikutnya:

  • Babak 16 Besar melawan Uruguay.

  • Perempat Final melawan Republik Irlandia.

  • Semi Final melawan Argentina, meskipun Italia harus takluk melalui adu penalti.

Di perebutan tempat ketiga melawan Inggris, Schillaci mencetak gol keenamnya dari titik penalti, menyegel kemenangan 2-1 bagi Italia. Gol ini memastikan ia meraih Sepatu Emas (Golden Boot) sebagai pencetak gol terbanyak turnamen dengan enam gol. Lebih luar biasa lagi, ia juga dianugerahi Bola Emas (Golden Ball) sebagai pemain terbaik turnamen, mengungguli Lothar Matthäus dan Diego Maradona.

Dalam kurun waktu tiga minggu, Schillaci telah melampaui semua ekspektasi, mengubah dirinya dari seorang outsider menjadi pahlawan nasional yang dielu-elukan. Ia dan Paolo Rossi adalah satu-satunya pemain Italia yang pernah memenangkan kedua penghargaan individu utama Piala Dunia dalam satu turnamen.

Akhir Karier dan Warisan

Sayangnya, kilauan Schillaci di panggung internasional berumur sangat pendek. Setelah Piala Dunia 1990, ia hanya mencetak satu gol lagi untuk Italia dalam empat penampilan, dan karier internasionalnya berakhir pada tahun 1991, menjadikannya salah satu kasus paling mencolok tentang meteor yang bersinar terang dan cepat dalam sejarah sepak bola. Total, ia hanya memiliki 16 penampilan dan 7 gol untuk tim nasional—enam di antaranya terjadi di Piala Dunia 1990.

Meski singkat, warisan Salvatore Schillaci jauh melampaui statistik. Ia mewakili mimpi yang menjadi kenyataan bagi seorang anak laki-laki dari Palermo yang berjuang keras. Momen “Malam-Malam Ajaib” (Notti Magiche) di Italia ’90 akan selalu identik dengan Totò, seorang penyerang gesit yang dikenal karena antisipasi, reaksi cepat, dan posisi yang luar biasa, yang memungkinkannya sering kali “berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.”

Kisah Schillaci adalah pengingat abadi bahwa dalam sepak bola, kejutan dan takdir dapat mengubah karier seseorang dalam sekejap, menjadikannya legenda yang dikenang selamanya oleh negaranya sebagai pahlawan dari Piala Dunia di rumah sendiri.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...