Jakarta – Kalau kamu pernah mendengar cerita tentang Mexicali—kota perbatasan di Baja California—kamu akan tahu mengapa banyak orang di sana tumbuh dengan watak “tidak banyak basa-basi”. Udara panas, ritme hidup cepat, dan garis perbatasan yang dekat membuat kota itu seperti ruang latihan mental: siapa pun yang ingin bertahan harus kuat, dan siapa pun yang ingin bermimpi harus lebih keras lagi.
Dari kota itulah Édgar Cháirez lahir pada 27 Januari 1996. Di UFC, ia membawa nama kampung halamannya sebagai panji dengan julukan yang terdengar seperti teriakan kebanggaan: “Puro Chicali”.
Di atas kertas, Cháirez adalah flyweight dengan profil fisik yang langsung mengundang rasa penasaran: tinggi 5’7” (170 cm), jangkauan 71 inci (180 cm), stance orthodox.
Reach sepanjang itu di kelas 125 pon terasa seperti “tali” ekstra—bisa dipakai untuk menahan jarak saat striking, dan bisa menjadi alat pengikat ketika pertarungan masuk ke clinch atau scramble.
Namun, yang benar-benar membedakan Cháirez bukan sekadar ukuran. Ia berbeda karena cara ia menang. Rekornya (basis data besar seperti ESPN/Tapology/Sherdog) mencatat 12–6 dan pola kemenangan yang tajam: 4 KO/TKO dan 8 submission—nyaris seluruh kemenangan datang lewat penyelesaian, bukan lewat keputusan juri.
Di divisi tercepat UFC, menjadi petarung seperti ini berarti satu hal: melawan Cháirez, kamu tidak boleh lengah sedetik pun.
Profil singkat Édgar Cháirez
-
- Nama: Édgar Cháirez
- Julukan: Puro Chicali
- Lahir: 27 Januari 1996, Mexicali, Baja California, Meksiko
- Divisi: Flyweight UFC
- Tinggi / reach: 170 cm / 180 cm
- Stance: Orthodox
- Rekor: 12–6 (berdasarkan profil ESPN/Tapology/Sherdog)
- Pola kemenangan: 4 KO/TKO, 8 submission
- Team (ESPN): Entram Gym
“Striking untuk membuka pintu, submission untuk menutup cerita”
Gaya Cháirez sering terasa seperti dua bab yang saling menyambung.
Bab pertama adalah striking: ia orthodox, nyaman berdiri, berani bertukar, dan cukup tajam untuk membuat lawan menghormati ancaman pukulannya. Ini terlihat dari fakta bahwa ia punya sejumlah kemenangan KO/TKO.
Bab kedua adalah tempat ia paling mematikan: submission. Delapan kemenangan kuncian bukan angka kecil—itu tanda kebiasaan. Ada petarung yang bisa melakukan submission jika situasi “diberikan”; Cháirez terlihat seperti petarung yang menciptakan situasi itu.
Di flyweight, transisi adalah segalanya. Serangan cepat memaksa reaksi cepat. Satu langkah yang salah bisa membuat punggung terbuka. Dan ketika itu terjadi, lengan sepanjang 180 cm reach milik Cháirez seperti menemukan fungsi aslinya.
Pintu pertama bernama DWCS: datang, diuji, lalu ditolak
Banyak orang mengingat nama petarung ketika ia “masuk UFC”. Tapi kisah Cháirez justru menarik karena ia pernah berada di depan pintu lebih dulu—dan pintu itu menolaknya.
Pada Dana White’s Contender Series (DWCS) Season 6 Week 3 (Agustus 2022), hasil resmi UFC mencatat: Clayton Carpenter mengalahkan Édgar Cháirez via unanimous decision.
Kalah di DWCS sering terasa seperti cap: “belum cukup.” Banyak karier berhenti di sana. Tapi untuk sebagian petarung—terutama yang tumbuh dari kota yang mengajari keras kepala—kekalahan itu justru menjadi peta: di mana kamu kalah, di mana kamu harus memperbaiki, dan apa yang harus kamu bawa saat kesempatan berikutnya datang.
Cháirez tidak menunggu pintu terbuka sendiri. Ia kembali mengumpulkan bukti.
Debut UFC yang tidak ramah: langsung dilempar ke ujian bernama Tatsuro Taira
Kesempatan UFC akhirnya datang pada 8 Juli 2023 di UFC 290. Lawannya bukan petarung “aman” untuk debut: Tatsuro Taira, salah satu prospek yang dikenal disiplin dan rapi. Di catatan pertarungan, Cháirez kalah via unanimous decision.
Di titik ini, banyak orang mulai menilai petarung secara cepat: “oh, dia belum level.” Padahal debut semacam itu sering bekerja seperti baptism by fire—pembaptisan dengan api. Kamu dipaksa memahami: seberapa rapi detail di level UFC, seberapa mahal satu kesalahan kecil, dan seberapa cepat kamu harus beradaptasi.
Cháirez memang kalah. Tapi ia mendapat sesuatu yang lebih bernilai dari sekadar “pengalaman”: ia mendapat ukuran. Dan petarung yang punya ukuran biasanya kembali dengan versi diri yang lebih praktis.
Kontroversi Daniel Lacerda: ketika kemenangan tidak langsung menjadi kemenangan
Lalu karier Cháirez memasuki bab yang membuat namanya semakin sering disebut—bukan hanya karena teknik, tetapi karena drama aturan.
Di catatan riwayatnya, ia sempat menghadapi Daniel Lacerda dan laga itu berujung no contest—sebuah hasil yang sering muncul ketika ada insiden prosedural atau pelanggaran yang membuat hasil awal “dibatalkan.”
Bagi petarung, no contest bisa terasa seperti kemenangan yang dicabut dari tangan. Dan di sinilah mental “Puro Chicali” biasanya diuji: apakah kamu mengeluh, atau kamu meminta kesempatan lagi?
Cháirez memilih cara kedua. Ia kembali bertemu Lacerda dan akhirnya menang lewat submission di ronde pertama.
Dalam bahasa petarung, itu seperti kalimat singkat: kali ini, jangan ada yang bisa membantah.
Naik-turun itu normal di flyweight: kalah poin, lalu menang dengan “tangan besi” di Mexico City
Flyweight adalah divisi yang brutal karena cepat. Kamu bisa terlihat bagus di satu laga, lalu terlihat tertinggal di laga berikutnya hanya karena lawan memiliki footwork sedikit lebih rapat atau cardio sedikit lebih stabil.
Cháirez juga merasakannya. Riwayatnya mencatat periode awal yang campuran—termasuk kekalahan angka melawan Joshua Van.
Namun bab yang paling “menghidupkan” identitasnya datang ketika ia bertarung di Meksiko. UFC menerbitkan artikel pada April 2025 yang menyorot bahwa Cháirez menang submission via face crank pada 29 Maret 2025—menegaskan ia sedang “mengumpulkan momentum.”
SofaScore juga mencatat hasil laga itu: Cháirez menang submission ronde 1 atas C.J. Vergara (detail waktu tampil sebagai R1).
Momen seperti ini biasanya punya efek psikologis yang besar. Menang di depan publik sendiri bukan hanya menambah angka di rekor—itu mengembalikan “rasa” seorang petarung. Kamu merasa rencana berhasil. Kamu merasa tanganmu bekerja. Kamu merasa identitasmu sah.
Dan buat Cháirez, identitas itu adalah: finisher.
Mengapa “Puro Chicali” adalah tipe lawan yang membuat orang bertarung lebih hati-hati
Ada petarung yang menakuti lawan dengan power. Ada yang menakuti lawan dengan pace. Cháirez menakuti lawan dengan sesuatu yang lebih senyap: ancaman akhir yang selalu ada.
-
- Dengan stance orthodox, ia bisa membangun serangan lurus dan hook untuk memancing guard naik.
- Dengan reach panjang, ia bisa mengikat posisi saat clinch dan transisi.
- Dengan kebiasaan menang via submission, ia memaksa lawan menahan diri saat scramble—dan menahan diri di flyweight sering berarti tertinggal poin.
Itu dilema klasik menghadapi finisher: kalau kamu terlalu aman, kamu kalah ronde; kalau kamu terlalu berani, kamu memberi celah.
Bab berikutnya: jadwal duel di Mexico City
Per akhir sumber yang tampil paling baru, beberapa basis data pertarungan menuliskan bahwa laga berikutnya Cháirez dijadwalkan melawan Felipe Bunes pada 28 Februari 2026 di Mexico City. ESPN menampilkan “Next Fight” tersebut, dan Sherdog juga memuat event yang sama.
Ini menarik karena Felipe Bunes dikenal berlatar Brazilian Jiu-Jitsu (di listing ESPN), sementara Cháirez punya identitas submission yang kuat.
Kalau laga itu terjadi sesuai jadwal, ini bisa menjadi ujian: apakah Cháirez bisa tetap menjadi “finisher” ketika berhadapan dengan lawan yang juga nyaman di tanah, dan apakah reach serta striking-nya bisa menjadi pembeda sebelum grappling benar-benar menjadi perang.
Jalan terjal yang justru membentuk karakter
Karier Édgar Cháirez bukan karier yang “mulai menang, lalu terus menang.” Ia lebih mirip karier petarung sejati: mencoba masuk lewat DWCS dan kalah, debut UFC yang berat, bab kontroversi no contest, fase naik-turun, lalu momen kebangkitan lewat submission di rumah sendiri.
Tetapi kalau kamu ingin merangkum Cháirez dalam satu kalimat, mungkin ini yang paling pas:
Ia petarung yang selalu membawa kemungkinan akhir di tangannya.
Dan di flyweight UFC—divisi yang mengubah momen kecil menjadi tragedi atau kemenangan—petarung seperti itu selalu punya tempat: sebagai ancaman, sebagai ujian, dan kadang sebagai spoiler yang merusak rencana orang lain.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda