Menghadapi Perilaku Pasif-Agresif Dalam Pertemanan

Eva Amelia 30/01/2026 5 min read
Menghadapi Perilaku Pasif-Agresif Dalam Pertemanan

Dalam sebuah hubungan sosial, konflik adalah hal yang wajar. Namun, cara seseorang mengelola konflik tersebut menentukan apakah hubungan itu akan tumbuh semakin kuat atau justru hancur perlahan. Salah satu hambatan terbesar dalam komunikasi yang sehat adalah perilaku pasif-agresif.

Berbeda dengan agresi terbuka seperti bentakan atau kemarahan fisik, perilaku pasif-agresif adalah bentuk kemarahan yang “diselundupkan”. Pelakunya mengekspresikan perasaan negatif secara tidak langsung, menciptakan suasana yang membingungkan, melelahkan secara emosional, dan sering kali membuat korban merasa bersalah tanpa alasan yang jelas. Dalam pertemanan, pola ini bisa menjadi racun yang merusak kepercayaan secara sistematis.

Apa Itu Perilaku Pasif-Agresif?

Secara psikologis, pasif-agresif adalah pola mengekspresikan perasaan negatif, kemarahan, atau kekecewaan secara terselubung. Alih-alih mengatakan, “Aku marah karena kamu terlambat,” seorang teman yang pasif-agresif mungkin akan berkata, “Oh, nggak apa-apa kok, aku sudah biasa menunggu orang yang lebih penting dari aku,” dengan nada bicara yang datar namun tajam.

Mereka sering kali merasa tidak berdaya atau takut akan konfrontasi langsung, sehingga mereka memilih jalur belakang untuk menyalurkan emosinya. Hasilnya? Sebuah siklus komunikasi yang penuh teka-teki.

Tanda-Tanda Utama yang Perlu Diwaspadai

Memahami tanda-tanda ini adalah langkah pertama untuk melindungi kesehatan mental Anda. Berikut adalah eksplorasi mendalam mengenai manifestasi perilaku tersebut dalam pertemanan:

1. Senjata “Silent Treatment” dan Penarikan Diri

Ini adalah bentuk hukuman yang paling umum. Ketika terjadi perselisihan, teman Anda tidak akan mengajak berdiskusi. Sebaliknya, mereka akan mendiamkan Anda, membalas pesan dengan satu kata, atau sengaja tidak menyukai unggahan Anda di media sosial padahal mereka aktif di sana. Saat Anda bertanya apakah ada yang salah, mereka akan menjawab “Nggak ada apa-apa” atau “Aku cuma lagi sibuk,” namun sikap dingin mereka sangat terasa. Ini dirancang untuk membuat Anda merasa gelisah dan akhirnya “memohon” maaf meskipun Anda tidak tahu apa kesalahan Anda.

2. Sarkasme sebagai Topeng Kebencian

Sarkasme sering kali dianggap sebagai humor, tetapi dalam tangan seorang yang pasif-agresif, ia menjadi belati. Mereka mungkin melontarkan ejekan tentang penampilan, pekerjaan, atau pasangan Anda, lalu membungkusnya dengan tawa kecil. Jika Anda menunjukkan wajah tidak suka atau tersinggung, mereka akan segera melakukan gaslighting dengan berkata:

  • “Kamu sensitif banget sih sekarang?”

  • “Aduh, bercanda doang kali, baperan amat.” Ini adalah cara mereka menyerang karakter Anda tanpa harus bertanggung jawab atas serangan tersebut.

3. Pujian yang Menghina (Backhanded Compliments)

Pernahkah Anda menerima pujian yang membuat Anda merasa lebih buruk setelah mendengarnya? Inilah yang disebut backhanded compliment. Teman pasif-agresif menggunakan teknik ini untuk menjatuhkan kepercayaan diri Anda sambil tetap terlihat “baik” di mata orang lain.

  • Contoh: “Wah, kamu berani ya pakai baju itu, kalau aku sih nggak bakal percaya diri kalau punya badan berisi kayak kamu.” Secara teknis mereka memuji keberanian Anda, namun secara substansial mereka sedang mengkritik bentuk tubuh Anda.

4. Sabotase Halus dan Penundaan Sengaja

Teman pasif-agresif sering setuju untuk melakukan sesuatu, namun mereka melaksanakannya dengan setengah hati atau sengaja mengacaukannya. Mereka mungkin “lupa” mengabari detail penting tentang acara kelompok, atau mereka berjanji membawa sesuatu namun datang terlambat dengan seribu alasan. Ini adalah cara mereka menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak ingin membantu, namun tidak punya keberanian untuk berkata “tidak” sejak awal.

5. Bermain Peran sebagai Korban (The Martyr Complex)

Mereka sering merasa bahwa mereka adalah pihak yang paling banyak berkorban namun paling sedikit dihargai. Mereka akan membantu Anda, tetapi kemudian akan mengungkit-ungkit bantuan tersebut di masa depan dengan nada mengeluh. Mereka ingin Anda merasa berutang budi secara permanen. Jika Anda tidak memenuhi ekspektasi mereka, mereka akan mulai bercerita kepada teman lain tentang betapa “tidak tahu terima kasihnya” Anda.

Mengapa Orang Berperilaku Pasif-Agresif?

Penting untuk dipahami bahwa perilaku ini sering kali berakar dari ketidakmampuan untuk mengelola emosi. Beberapa alasannya meliputi:

  • Pola Asuh Masa Kecil: Mungkin mereka tumbuh di lingkungan di mana kemarahan dianggap buruk, sehingga mereka belajar untuk menyembunyikannya.

  • Ketakutan akan Penolakan: Mereka takut jika mereka jujur, mereka akan ditinggalkan atau dibenci.

  • Kebutuhan akan Kontrol: Dengan bersikap ambigu, mereka memegang kendali atas situasi karena Andalah yang harus sibuk mencari tahu apa yang mereka inginkan.

Dampak pada Kesehatan Mental Anda

Menghadapi teman pasif-agresif secara terus-menerus dapat berdampak serius pada kesejahteraan emosional Anda:

  1. Kecemasan Kronis: Anda selalu merasa seperti “berjalan di atas kulit telur” karena takut salah langkah.

  2. Penurunan Kepercayaan Diri: Kritik terselubung mereka mulai merasuki pikiran bawah sadar Anda.

  3. Kelelahan Emosional: Energi Anda habis hanya untuk menebak-nebak perasaan mereka.

Strategi Menghadapi Teman Pasif-Agresif

Jika Anda menghargai pertemanan tersebut dan ingin memperbaikinya, cobalah langkah-langkah berikut:

1. Tetap Tenang dan Jangan Terpancing

Tujuan dari perilaku pasif-agresif adalah memancing reaksi emosional dari Anda agar mereka bisa menyalahkan Anda kembali. Tetaplah tenang. Jangan membalas sarkasme dengan sarkasme, karena itu hanya akan memperburuk situasi.

2. Berikan Ruang untuk Kejujuran

Gunakan pernyataan “Aku” (I-statements) untuk menghindari kesan menuduh.

  • Daripada berkata: “Kamu selalu aja diem kalau marah!”

  • Coba katakan: “Aku merasa bingung dan sedih kalau komunikasi kita jadi dingin. Aku lebih suka kalau kita bisa bicara jujur apa adanya.”

3. Tetapkan Batasan yang Tegas

Jika mereka terus menggunakan sarkasme untuk menjatuhkan Anda, berikan batasan. Katakan dengan tegas namun sopan: “Aku merasa tidak nyaman dengan candaan seperti itu. Tolong jangan diulangi lagi ya.” Jika mereka menjawab dengan “Kamu baperan,” cukup balas dengan, “Mungkin begitu bagi kamu, tapi aku serius minta tolong untuk tidak melakukannya lagi.”

4. Berhenti Menebak-nebak

Jangan terjebak dalam permainan menebak pikiran. Jika mereka berkata “Nggak apa-apa” dengan wajah masam, terima saja jawaban itu secara harfiah. Lanjutkan aktivitas Anda seolah semuanya baik-baik saja. Sering kali, ketika mereka melihat bahwa taktik “diam” mereka tidak membuahkan hasil, mereka akan terpaksa berbicara lebih jujur atau setidaknya berhenti menggunakan taktik tersebut.

5. Evaluasi Hubungan

Terkadang, terlepas dari usaha terbaik kita, orang tersebut tidak ingin berubah. Jika pertemanan tersebut lebih banyak memberikan stres daripada kebahagiaan, mungkin sudah saatnya untuk menjaga jarak atau mengakhiri hubungan demi kesehatan mental Anda sendiri.

Penutup

Pertemanan yang sehat dibangun di atas pondasi kejujuran dan rasa hormat. Perilaku pasif-agresif, meski terlihat halus, adalah bentuk manipulasi yang dapat merusak struktur hubungan tersebut. Dengan mengenali tanda-tandanya sejak dini dan meresponsnya secara asertif, Anda tidak hanya menyelamatkan diri Anda dari beban emosional, tetapi juga memberikan kesempatan bagi hubungan tersebut untuk tumbuh menjadi lebih dewasa dan transparan.

Ingatlah, Anda tidak bertanggung jawab untuk “memperbaiki” emosi orang lain, tetapi Anda bertanggung jawab untuk menjaga kedamaian batin Anda sendiri.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...