Jakarta – Nama Alexander Volkanovski telah menjadi salah satu simbol paling kuat dalam sejarah kelas bulu UFC. Dengan postur yang tidak terlalu besar untuk ukuran petarung MMA, pria asal Australia ini justru membangun reputasi melalui kecepatan, tekanan, kecerdasan bertarung, serta kemampuan beradaptasi yang membuatnya mampu menaklukkan sejumlah nama besar dunia.
Alexander “The Great” Volkanovski lahir di Wollongong, New South Wales, Australia, pada 29 September 1988. Ia memiliki darah Makedonia dari ayahnya dan Yunani dari ibunya. Dunia olahraga sudah menjadi bagian hidupnya sejak usia muda. Volkanovski menekuni gulat Greco-Roman dan bahkan dua kali menjadi juara nasional Australia ketika masih kecil. Namun, pada usia 14 tahun ia meninggalkan gulat dan beralih ke rugby league, olahraga yang kemudian membentuk kekuatan fisik serta mental kompetitifnya.
Volkanovski bermain sebagai front-rower untuk Warilla Gorillas. Ia bukan sekadar pemain biasa. Pada 2010, ia meraih Mick Cronin Medal sebagai pemain terbaik kompetisi dan setahun kemudian membantu Warilla meraih gelar. Di tengah perjalanan sebagai pemain rugby itulah ketertarikannya terhadap mixed martial arts mulai tumbuh. Pada 2011, ia berlatih MMA untuk menjaga kebugaran. Latihan tersebut akhirnya mengubah arah hidupnya. Pada usia 23 tahun, Volkanovski memutuskan meninggalkan rugby dan sepenuhnya mengejar karier sebagai petarung profesional.
Debut profesional MMA-nya berlangsung pada 2012. Perjalanan menuju panggung UFC tidak berlangsung instan. Ia bertarung di berbagai organisasi regional Australia dan Asia, sekaligus mencoba beberapa kelas berat. Pengalaman tersebut membuat Volkanovski berkembang menjadi petarung yang jauh lebih komplet. Ia kemudian mengumpulkan gelar di tingkat regional, termasuk PXC Featherweight Championship dan Australian Fighting Championship Featherweight Championship.
Kesempatan tampil di UFC akhirnya datang pada 2016. Volkanovski menghadapi Yusuke Kasuya dan memenangkan pertarungan melalui TKO pada ronde kedua. Setelah itu, kariernya melesat. Kemenangan atas Mizuto Hirota, Shane Young, Jeremy Kennedy, Darren Elkins dan Chad Mendes membuatnya semakin dekat dengan perebutan gelar. Salah satu kemenangan terpenting datang pada 2019 ketika ia mengalahkan mantan juara UFC, José Aldo, melalui keputusan mutlak.
Momentum tersebut membawanya menghadapi Max Holloway di UFC 245. Volkanovski tampil disiplin selama lima ronde dan mengalahkan Holloway melalui keputusan mutlak untuk merebut gelar kelas bulu UFC. Kemenangan itu menjadi awal dari salah satu periode dominasi paling mengesankan dalam sejarah divisi tersebut.
Rivalitas dengan Holloway kemudian berlanjut. Dalam pertandingan ulang di UFC 251, Volkanovski kembali menang, kali ini melalui keputusan terbelah. Ia kemudian mempertahankan sabuknya melawan Brian Ortega dalam pertarungan dramatis di UFC 266. Setelah itu, ia mengalahkan Chan Sung Jung dan kembali berhadapan dengan Holloway untuk ketiga kalinya di UFC 276. Kemenangan mutlak atas Holloway semakin memperkuat statusnya sebagai penguasa kelas bulu.
Ambisi Volkanovski kemudian membawanya naik ke kelas lightweight. Pada UFC 284, ia menantang Islam Makhachev untuk memperebutkan gelar kelas ringan. Meskipun akhirnya kalah melalui keputusan mutlak, pertarungan tersebut menunjukkan bahwa Volkanovski mampu bersaing dengan salah satu petarung terbaik dunia di kelas yang lebih berat.
Setelah mempertahankan gelar kelas bulu melawan Yair Rodriguez, perjalanan Volkanovski memasuki fase paling sulit. Ia menerima pertandingan ulang melawan Makhachev dalam waktu singkat di UFC 294 dan mengalami kekalahan melalui KO ronde pertama. Beberapa bulan kemudian, pada UFC 298, ia kehilangan sabuk kelas bulu setelah dihentikan Ilia Topuria pada ronde kedua.
Namun, karakter seorang juara terlihat ketika berada dalam situasi sulit. Volkanovski tidak memilih jalan mundur. Ia kembali ke kelas bulu dan pada UFC 314, April 2025, menghadapi Diego Lopes untuk memperebutkan gelar yang kosong. Melalui penampilan lima ronde yang matang, ia memenangkan keputusan mutlak dan merebut kembali sabuk UFC. Pada UFC 325, Januari 2026, ia kembali mengalahkan Lopes melalui keputusan mutlak untuk mempertahankan gelarnya.
Kekuatan utama Volkanovski terletak pada kemampuannya menggabungkan berbagai elemen MMA. Ia memiliki dasar gulat yang kuat, striking yang berkembang pesat, footwork cepat, kemampuan mengubah sudut serangan, serta tekanan konstan. Posturnya yang relatif pendek justru dimanfaatkan untuk bergerak lebih cepat, masuk ke jarak serang, kemudian keluar sebelum lawan dapat membalas secara efektif.
Metode bertarungnya juga mencerminkan filosofi yang sederhana tetapi efektif: persiapan, disiplin, dan kemampuan beradaptasi. Ia tidak selalu berusaha memenangkan pertarungan dengan satu serangan spektakuler. Sebaliknya, Volkanovski sering membangun kemenangan melalui akumulasi tekanan, perubahan ritme, serangan kombinasi, serta kemampuan membaca pola lawan sepanjang pertandingan.
Perjalanannya dari lapangan rugby hingga menjadi juara dunia menunjukkan bahwa ukuran fisik bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan dalam MMA. Hingga September 2026, Volkanovski memiliki rekor profesional 28 kemenangan dan 4 kekalahan, termasuk 13 kemenangan KO/TKO dan 3 kemenangan submission. Dengan dua periode sebagai juara kelas bulu UFC dan serangkaian pertarungan melawan elite MMA dunia, Alexander Volkanovski telah meninggalkan jejak yang sulit dihapus dari sejarah olahraga tarung modern.
(PR/timKB)
Sumber foto google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda