Jakarta – Di panggung ONE Championship—terutama atmosfer ONE Friday Fights di Lumpinee—banyak petarung tampil seperti kembang api: ledakan cepat, sorak keras, lalu selesai. Tapi ada jenis petarung lain yang justru lebih “kejam” dengan cara yang tidak selalu langsung terlihat: ia tidak meledak, ia mengikis. Ia memenangi ruang sedikit demi sedikit, memenangi jarak setengah langkah demi setengah langkah, memenangi clinch satu detik lebih lama daripada lawan, lalu menutup ronde dengan serangan yang cukup bersih untuk membuat juri tidak ragu.
Jaruadsuk Sor Jor Wichitpadriew masuk ke kategori itu.
Lahir pada 17 Mei 2000, kini berusia 25 tahun, Jaruadsuk adalah petarung Muay Thai asal Thailand dengan tinggi 175 cm. Ia bertarung di rentang bantamweight/catchweight (sekitar 61–63 kg / 135–140 lbs) di ONE Championship. Ia berafiliasi dengan Sor Takainthong, dan dikenal sebagai southpaw dengan spesialisasi Muay Thai klasik: tendangan keras, clinch kuat, serta siku presisi—senjata tradisional yang jika dipakai dengan tempo modern, bisa membuat lawan seperti tersedot ke dalam pertarungan yang tidak mereka pilih.
Rekam jejaknya di ONE memperlihatkan pola yang jelas: Jaruadsuk bukan petarung yang mengejar menang cepat setiap saat. Ia petarung yang percaya pada cara paling “bersih” untuk menang: mendominasi ronde demi ronde. Kemenangan keputusan atas nama-nama seperti Sherzod Kabutov dan Amir El Dakkak menjadi contoh bagaimana ia memaksakan ritme, menjaga stamina, dan mengontrol jarak sampai bel terakhir.
Profil Singkat
-
- Nama: Jaruadsuk Sor Jor Wichitpadriew
- Tanggal lahir: 17 Mei 2000
- Usia: 25 tahun
- Kebangsaan: Thailand
- Tinggi: 175 cm
- Divisi: Bantamweight/catchweight (±61–63 kg / 135–140 lbs) di ONE Championship
- Gym: Sor Takainthong
- Gaya: Southpaw, Muay Thai klasik (tendangan, clinch, siku)
- Sorotan hasil: Menang keputusan atas Sherzod Kabutov dan Amir El Dakkak
Sor Takainthong: Sekolah “Muay Thai Rapi” yang Membentuk Identitas
Di Thailand, nama gym sering terasa seperti marga. Ketika seorang petarung membawa nama camp, ia membawa tradisi—cara bergerak, cara memukul, cara mengunci lawan di clinch, bahkan cara mengatur napas saat ronde makin berat. Sor Takainthong dikenal sebagai tempat yang menuntut disiplin teknis: bukan sekadar keras, tapi rapi.
Dan Jaruadsuk tampak sebagai produk dari disiplin itu.
Ia tidak bertarung dengan gaya “sembarangan”. Ia menekan dengan metode. Ia memaksa lawan berjalan di jalur yang ia gambar sendiri—dan jika lawan mencoba keluar jalur, ada dua hal yang biasanya menunggu: tendangan kiri yang menahan langkah, atau clinch yang mengunci pinggang dan leher.
Southpaw: Keuntungan Sudut yang Selalu Mengganggu Lawan
Di Muay Thai, southpaw bukan hanya soal “tangan kiri dominan”. Southpaw adalah matematika sudut.
Banyak petarung orthodox terbiasa melihat serangan datang dari jalur tertentu. Ketika berhadapan dengan southpaw, jalur itu berubah. Tendangan kiri ke badan datang dari sisi yang berbeda, straight kiri masuk melalui celah yang tidak biasa, dan perputaran kaki lawan sering “terbalik” dibanding kebiasaan.
Jaruadsuk memanfaatkan itu dengan cara klasik—bukan dengan gaya eksperimental, melainkan dengan fondasi tradisional:
-
- Tendangan kiri untuk mencetak poin dan merusak ritme
- Kontrol jarak agar lawan selalu berada di ujung serangan
- Timing masuk clinch saat lawan mulai frustrasi dan memaksa brawl
Southpaw yang disiplin adalah teka-teki yang menyulitkan, karena ia tidak perlu menang dengan drama. Ia cukup membuat lawan kehilangan kenyamanan.
Muay Thai Klasik Versi Jaruadsuk: Tiga Senjata yang Menjadi Tanda Tangan
1. Tendangan keras sebagai “pagar”
Tendangan—terutama ke badan—bukan hanya untuk menyakitkan. Ia adalah pagar. Setiap kali lawan ingin masuk, tendangan memaksa mereka berhenti atau mengubah langkah. Ketika langkah berubah, timing lawan hilang.
Jaruadsuk terlihat mengandalkan tendangan sebagai cara untuk “mengatur halaman” pertarungan: lawan boleh maju, tapi harus membayar.
2. Clinch kuat sebagai alat kontrol
Clinch yang kuat bukan sekadar memeluk. Clinch adalah cara mengontrol kepala, bahu, pinggang, dan posisi kaki lawan. Di ONE Friday Fights yang ritmenya cepat, clinch yang efektif adalah alat untuk:
-
- merusak tempo lawan,
- menguras tenaga,
- menambah poin lewat lutut,
- dan memaksa lawan berpikir ulang sebelum masuk lagi.
Untuk petarung southpaw, clinch juga memberi kesempatan menciptakan sudut siku—dan di situlah senjata ketiga masuk.
3. Siku presisi sebagai “hukuman”
Siku yang baik jarang dipakai sembarangan. Siku dipakai saat lawan terlalu berani masuk di garis lurus, atau saat posisi clinch memberi ruang sepersekian detik.
Siku presisi adalah senjata yang tidak selalu menghasilkan KO, tapi selalu menghasilkan efek: luka, keraguan, atau perubahan strategi lawan. Dan begitu lawan mulai ragu, kontrol ronde menjadi lebih mudah.
Seni Menguasai Ronde
Banyak penonton menganggap kemenangan keputusan itu “kurang menarik”. Tapi bagi petarung teknis seperti Jaruadsuk, kemenangan keputusan justru bisa menjadi pernyataan paling kuat: ia bisa mengendalikan pertarungan tanpa harus memaksa finish.
Kemenangan keputusan atas Sherzod Kabutov dan Amir El Dakkak adalah contoh bagaimana petarung Muay Thai klasik bisa sukses di panggung yang sering menuntut aksi cepat. Cara seperti ini biasanya terlihat lewat:
-
- mencuri awal ronde dengan tendangan bersih,
- mengunci tengah ronde dengan clinch,
- menutup akhir ronde dengan kombinasi yang terlihat jelas di mata juri.
Ini kemenangan yang “diam-diam” tetapi tegas. Lawan merasa bertarung, namun tidak pernah benar-benar memegang kendali.
Stamina dan “Menang di Menit-Menit Kecil”
Jika ada satu aset yang sering tidak terlihat di highlight, itu adalah stamina. Banyak petarung bisa terlihat bagus di satu menit pertama. Tidak banyak yang terlihat bagus di menit terakhir.
Gaya Jaruadsuk cocok untuk pertarungan yang panjang karena ia tidak membakar diri sendiri. Ia bekerja dengan ritme yang stabil. Ia mengulang pola yang sederhana, tapi efektif: tendangan—jarak—clinch—siku—ulang.
Dan di Muay Thai, pola yang diulang dengan disiplin adalah hal yang mematahkan mental lawan. Karena lawan mulai sadar: “Saya sudah coba banyak cara, tapi ia tetap punya jawaban yang sama.”
Kenapa Jaruadsuk Layak Dipantau di ONE
1. Usia ideal untuk “naik kelas”
Di usia 25 tahun, ia berada di fase yang ideal: fisik sudah matang, pengalaman sudah cukup, dan ruang berkembang masih sangat panjang.
2. Southpaw teknis selalu jadi matchup berbahaya
Divisi bantamweight/catchweight ONE penuh petarung agresif dan cepat. Southpaw teknis sering menjadi “pengganggu” yang mematahkan pola agresif itu.
3. Gaya klasik yang cocok untuk evolusi modern
Muay Thai klasik bukan berarti ketinggalan zaman. Jika dipadukan dengan pace modern ONE Friday Fights, gaya klasik justru bisa menjadi senjata yang membuat lawan frustasi—karena ia memaksa pertarungan kembali ke “dasar-dasar”: jarak, clinch, dan timing.
4. Jalur kemenangan yang stabil
Kemenangan keputusan menunjukkan ring IQ. Dalam ekosistem ONE, ring IQ yang stabil sering menjadi fondasi untuk mendapatkan lawan yang lebih besar dan kesempatan yang lebih tinggi.
Petarung yang Menang Seperti Arus—Tenang, Konsisten, dan Tidak Bisa Dihentikan
Jaruadsuk Sor Jor Wichitpadriew bukan petarung yang harus selalu “meledak” untuk menang. Ia menang seperti arus: tenang, konsisten, dan lama-lama membuat lawan tenggelam. Southpaw dari Sor Takainthong ini membawa Muay Thai klasik ke panggung modern ONE—tendangan keras untuk mengunci jarak, clinch kuat untuk menguras, dan siku presisi untuk menghukum.
Jika ia terus menjaga disiplin yang sama—dan menambah sedikit “penegas” agar kemenangan semakin jelas—Jaruadsuk bisa menjadi nama yang makin sulit dihindari dalam peta bantamweight Muay Thai ONE Championship. Karena pada akhirnya, petarung yang paling berbahaya bukan hanya yang bisa KO cepat… tapi yang bisa menang kapan saja, dengan cara apa saja—dan tetap terlihat tenang saat melakukannya.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda