Jakarta – Di Muay Thai, ada petarung yang menang dengan rapi. Ada pula petarung yang bertarung seolah-olah setiap ronde adalah undangan untuk membuat penonton berdiri dari kursinya. Yodphupa Petkiapet termasuk golongan kedua. Ia bukan tipe atlet yang datang ke ring untuk bermain aman. Ia datang untuk menekan, memaksa lawan bereaksi, dan membuka peluang knockout dari kombinasi pukulan serta tendangan keras yang menjadi ciri khasnya. Itu sebabnya namanya cepat melekat di benak penggemar. ONE sendiri menggambarkannya sebagai salah satu petarung bantamweight Muay Thai yang paling fan-friendly, sementara profil resminya menempatkannya sebagai atlet Thailand dari Team Petkiatpet dengan tinggi 167 cm dan batas divisi 65,8 kg.
Menurut data biografis yang Anda berikan, Yodphupa lahir pada 5 Desember 2003 di Chaiyaphum, Thailand. Profil resmi ONE saat ini tidak menampilkan kota lahir secara lengkap di potongan hasil pencarian, tetapi menegaskan bahwa ia berasal dari Thailand, berusia 22 tahun, dan bertanding di divisi bantamweight Muay Thai. ONE juga menulis bahwa ia mulai berlatih Muay Thai pada usia 12 tahun di kampung halamannya, lalu menjadikan olahraga ini sebagai jalan untuk membantu keluarganya sebelum kariernya berkembang ke level yang lebih tinggi.
Dari Chaiyaphum ke dunia Muay Thai profesional
Banyak kisah besar Muay Thai Thailand lahir jauh dari lampu panggung. Mereka berawal dari provinsi-provinsi yang keras, dari gym lokal, dan dari anak-anak muda yang belajar bahwa ring bukan sekadar tempat bertarung, tetapi juga ruang untuk mengubah hidup. Chaiyaphum memberi latar seperti itu bagi Yodphupa. Saat mulai berlatih pada usia 12 tahun, ia belum berada di panggung besar. Ia masih berada di titik ketika Muay Thai lebih dekat dengan disiplin hidup daripada ketenaran. Namun seiring waktu, latihan berubah menjadi kesempatan, kesempatan berubah menjadi penghasilan, dan penghasilan itu membuat Muay Thai punya makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar olahraga.
Ada sesuatu yang khas dari petarung Thailand yang tumbuh dari jalur tradisional. Mereka biasanya tidak datang dengan teknik setengah matang. Tubuh mereka telah lama mengenal ritme, jarak, timing, dan rasa sakit. Pada Yodphupa, fondasi itu terasa jelas. Ia tidak terlihat seperti petarung yang masih mencari identitas di atas ring. Ia sudah punya bentuk yang tegas: maju, aktif, keras, dan selalu mencari celah untuk mengubah tekanan menjadi kerusakan. Karena itulah sebutan striker agresif terasa begitu pas untuk dirinya. Gaya bertarungnya bukan tempelan; ia seperti lahir dari proses yang panjang dan jujur.
Jalan menuju ONE Championship
Karier Yodphupa tidak meledak dalam semalam. ONE mencatat bahwa salah satu titik balik terbesarnya datang pada 2022, ketika ia diundang bertarung di Road to ONE: Thailand untuk memperebutkan kontrak bernilai besar dengan organisasi tersebut. Turnamen atau jalur seleksi semacam itu selalu penting bagi petarung muda, karena di sana bakat harus diterjemahkan menjadi hasil nyata di bawah tekanan yang jauh lebih tinggi. Yodphupa tidak hanya lolos, ia menang dengan cara yang paling kuat untuk menarik perhatian: tiga knockout dalam perjalanannya merebut kontrak.
Tiga kemenangan KO itu bukan sekadar statistik. Itu adalah deklarasi identitas. Ia seperti mengatakan kepada semua orang bahwa jika diberi panggung lebih besar, ia tidak akan berubah menjadi petarung yang pasif. Ia justru akan tetap menjadi dirinya sendiri: ofensif, tegas, dan mencari penyelesaian. Dari sana, Yodphupa masuk ke ONE Championship bukan sebagai nama anonim, melainkan sebagai petarung muda Thailand yang sudah membawa reputasi sebagai knockout artist.
Perjalanan di ONE Championship: naik, jatuh, lalu terus bergerak
Perjalanan Yodphupa di ONE tidak lurus, dan justru di situlah kisahnya terasa hidup. Anda menyebut rekornya saat ini 5 kemenangan dan 3 kekalahan. Namun profil resmi ONE yang tersedia sekarang menunjukkan catatan yang sudah diperbarui: Yodphupa memiliki 6 kemenangan dan 4 kekalahan di organisasi tersebut. Hasil terbaru yang tampil di profil resminya mencakup kemenangan unanimous decision atas Adam Benwarwar di ONE Friday Fights 144 pada 27 Februari 2026. Jadi, untuk kondisi terkini, rekor yang lebih akurat adalah 6-4.
Kalau hanya melihat angka, orang bisa salah paham terhadap nilai perjalanan itu. Rekor 6-4 memang tidak terlihat sempurna, tetapi konteksnya menunjukkan hal yang lebih penting: Yodphupa telah diuji berkali-kali oleh lawan yang berbeda gaya dan kualitas. Ia pernah menang majority decision atas Soner Sen di ONE Friday Fights 63, kalah dari Parham Gheirati di ONE Friday Fights 74, serta mengalami laga-laga ketat lain melawan Komawut FA Group dan Mavlud Tifiyev. Rekam jejak seperti ini menunjukkan bahwa ia hidup di tengah persaingan yang sesungguhnya, bukan dibangun dari lawan-lawan mudah.
Pertarungan lawan Antar Kacem: ketika nama Yodphupa benar-benar terasa “hidup”
Kalau ada satu bagian yang paling menggambarkan kenapa Yodphupa begitu menarik untuk ditonton, itu adalah duel-duelnya melawan Antar Kacem. ONE menyoroti kemenangan split decision Yodphupa atas Kacem di ONE Friday Fights 21 sebagai pertarungan sengit yang penuh knockdown dan pertukaran serangan liar. Narasi resmi organisasi bahkan menekankan betapa panas dan kerasnya duel tersebut. Ini bukan sekadar menang di kartu juri; ini adalah jenis kemenangan yang membangun identitas. Penonton mengingatnya bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi karena drama yang terjadi sepanjang laga.
Lalu datang pertemuan kedua, ketika Kacem membalas dengan kemenangan KO atas Yodphupa di ONE Friday Fights 28. Dari sudut pandang naratif, hasil ini justru menambah lapisan pada cerita Yodphupa. Ia bukan petarung yang bersembunyi dari risiko. Ia masuk lagi ke pertarungan berbahaya, dan dalam olahraga seperti Muay Thai, keberanian semacam itu punya nilai besar di mata penggemar. Bahkan dalam kekalahan, petarung seperti Yodphupa tetap meninggalkan jejak, karena ia selalu membuat pertarungan terasa penting.
Pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah Yodphupa menarik ditonton. Itu sudah jelas. Pertanyaannya adalah seberapa jauh ia bisa berkembang dari petarung fan-friendly menjadi ancaman yang lebih lengkap di divisi bantamweight Muay Thai. Untuk mencapai level itu, ia mungkin tidak perlu mengubah jati dirinya. Ia hanya perlu menambahkan lapisan baru: lebih sabar saat momentum belum hadir, lebih hemat dalam pengeluaran energi, dan lebih tajam dalam memilih kapan harus meledak. Jika itu terjadi, gaya ofensifnya justru bisa menjadi lebih mematikan. Ini adalah inferensi dari pola karier dan gaya bertarungnya, bukan klaim resmi dari ONE.
Yodphupa Petkiapet adalah gambaran petarung muda Thailand yang tumbuh dari akar Muay Thai tradisional lalu membawa semangat itu ke panggung modern. Ia mulai berlatih pada usia 12 tahun, bertarung demi membantu keluarganya, menembus ONE lewat tiga knockout di Road to ONE: Thailand, dan kini tercatat di profil resmi organisasi sebagai atlet bantamweight Muay Thai dengan rekor 6 kemenangan dan 4 kekalahan, tinggi 167 cm, serta afiliasi dengan Team Petkiatpet.
Tetapi yang membuatnya layak diingat bukan hanya biodata atau rekor itu. Yang membuat Yodphupa menonjol adalah caranya bertarung. Ia datang dengan naluri menyerang, dengan keberanian membuka duel, dan dengan kemampuan membuat penonton merasa bahwa selalu ada kemungkinan KO di depan mata. Dalam dunia Muay Thai modern, itu adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Dan sejauh ini, Yodphupa menjalani keduanya dengan cara yang sangat jujur: terus maju, terus bertarung, dan terus memberi alasan bagi orang untuk menunggu penampilan berikutnya.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda