The Art of Doing Nothing: Mengenal Niksen

Eva Amelia 28/03/2026 4 min read
The Art of Doing Nothing: Mengenal Niksen

Jakarta – Di dunia yang memuja produktivitas, sibuk sering kali dianggap sebagai lambang kesuksesan. Kita merasa bersalah jika duduk diam tanpa memegang ponsel, merasa cemas jika agenda harian tidak penuh, dan merasa berdosa jika menghabiskan sore hari hanya dengan menatap awan. Kita terjebak dalam budaya “hustle” yang menuntut kita untuk selalu menghasilkan sesuatu, belajar sesuatu, atau memperbaiki sesuatu. Namun, di tengah kebisingan tuntutan hidup modern ini, muncul sebuah konsep dari Belanda yang menawarkan penawar yang radikal namun sederhana: Niksen.

Secara harfiah, Niksen berarti “tidak melakukan apa-apa”. Ini bukan meditasi yang membutuhkan teknik pernapasan khusus, bukan pula mindfulness yang menuntut kesadaran penuh pada momen saat ini. Niksen adalah seni membiarkan pikiran berkelana tanpa tujuan, tanpa rencana, dan tanpa rasa bersalah. Ini adalah tentang menjadi tidak produktif secara sengaja.

Apa Itu Niksen dan Mengapa Berbeda?

Banyak orang menyamakan Niksen dengan kemalasan atau melamun. Namun, ada perbedaan mendasar. Kemalasan sering kali dipandang sebagai sifat negatif atau pengabaian tanggung jawab. Sebaliknya, Niksen adalah tindakan sadar untuk mengambil jeda demi kesehatan mental. Berbeda dengan meditasi yang terkadang terasa seperti “tugas” untuk fokus, Niksen justru melepaskan semua kendali.

Bayangkan Anda duduk di kursi goyang dan hanya memperhatikan burung yang terbang di luar jendela. Atau Anda berdiri di balkon sambil merasakan embusan angin tanpa memikirkan apa yang akan Anda masak untuk makan malam. Anda tidak sedang mencoba memecahkan masalah, Anda tidak sedang mendengarkan podcast edukasi, dan Anda tidak sedang menggulir media sosial. Anda hanya ada di sana, membiarkan waktu berlalu. Itulah inti dari Niksen.

Mengapa Otak Kita Membutuhkan “Waktu Kosong”?

Secara biologis, otak manusia tidak dirancang untuk bekerja dalam mode aktif 24 jam sehari. Ketika kita terus-menerus memproses informasi—baik itu email pekerjaan, berita, atau video pendek di internet—otak kita berada dalam kondisi kelelahan kognitif. Kondisi ini meningkatkan kadar kortisol, hormon stres yang jika menumpuk dapat menyebabkan burnout, kecemasan, dan insomnia.

Menariknya, saat kita melakukan Niksen, otak kita sebenarnya tidak berhenti bekerja. Sebaliknya, ia berpindah ke mode yang disebut Default Mode Network (DMN). DMN adalah area otak yang menjadi aktif ketika kita tidak fokus pada tugas luar tertentu. Di sinilah keajaiban terjadi. Saat DMN aktif, otak mulai menghubungkan ide-ide yang tampaknya tidak berhubungan, memproses memori, dan mengonsolidasi pengalaman. Inilah alasan mengapa ide-ide brilian sering kali muncul saat kita sedang mandi atau melamun, bukan saat kita duduk kaku di depan meja kerja.

Manfaat Luar Biasa dari Menjadi “Tidak Berguna”

Menerapkan Niksen dalam kehidupan sehari-hari membawa dampak positif yang luas bagi kesehatan mental dan fisik. Pertama adalah penurunan tingkat stres. Dengan melepaskan tuntutan untuk selalu produktif, sistem saraf parasimpatik kita memiliki kesempatan untuk mengambil alih, menurunkan detak jantung, dan memberikan sinyal “aman” ke seluruh tubuh.

Kedua, Niksen meningkatkan kreativitas. Pikiran yang terlalu penuh tidak memiliki ruang untuk imajinasi. Dengan memberikan ruang kosong melalui Niksen, kita memberikan izin bagi kreativitas untuk tumbuh secara organik. Banyak penulis, ilmuwan, dan seniman besar yang mengandalkan waktu melamun mereka untuk menemukan solusi dari kebuntuan kreatif.

Ketiga, seni tidak melakukan apa-apa ini meningkatkan ketahanan emosional. Di dunia yang penuh stimulasi, kita sering kehilangan kontak dengan diri sendiri. Niksen memberikan kesempatan bagi emosi yang terpendam untuk muncul dan berlalu dengan tenang, tanpa kita harus segera “memperbaikinya”. Ini adalah bentuk perawatan diri yang paling murni karena tidak membutuhkan biaya atau peralatan apa pun.

Tantangan dalam Mempraktikkan Niksen

Meskipun terdengar mudah, melakukan Niksen sebenarnya sangat sulit bagi masyarakat modern. Kita telah dikondisikan untuk merasa bahwa diam adalah pemborosan waktu. Saat kita mencoba duduk diam selama lima menit, pikiran kita sering kali mulai menyerang dengan daftar tugas yang belum selesai atau rasa malu karena tidak melakukan sesuatu yang “berguna”.

Ada juga tantangan dari teknologi. Ponsel pintar kita adalah musuh terbesar bagi Niksen. Saat ada celah waktu luang sesedikit apa pun—misalnya saat mengantre atau menunggu lift—refleks pertama kita adalah merogoh saku dan mengecek ponsel. Hal ini memutus kesempatan otak untuk masuk ke mode istirahat dan justru menambah beban informasi yang harus diproses.

Cara Memulai Seni Melakukan “Niksen”

Untuk mulai mempraktikkan Niksen, Anda tidak perlu mengubah seluruh gaya hidup Anda. Anda bisa memulainya dengan langkah-langkah kecil:

Jadwalkan Waktu Kosong: Mulailah dengan 5 hingga 10 menit sehari. Tandai di kalender Anda sebagai “Waktu Niksen”. Anggap ini sebagai janji penting dengan diri sendiri yang tidak boleh dilanggar.
Ciptakan Lingkungan yang Mendukung: Temukan satu sudut di rumah yang nyaman—mungkin kursi di dekat jendela atau taman belakang. Jauhkan semua perangkat elektronik. Jika Anda merasa gelisah, Anda bisa memegang bantal atau secangkir teh hangat untuk membantu tubuh merasa tenang.
Biarkan Pikiran Berkelana: Jangan mencoba mengosongkan pikiran. Biarkan pikiran Anda mengalir seperti air. Jika Anda mulai memikirkan pekerjaan, akui saja pikiran itu lalu biarkan ia lewat seperti awan. Jangan menghakimi diri sendiri karena memikirkan hal-hal tersebut.
Nikmati Ketidaknyamanan: Pada awalnya, Anda mungkin akan merasa bosan atau cemas. Itu normal. Alih-alih melarikan diri ke ponsel, cobalah untuk bertahan di dalam rasa bosan tersebut. Di balik rasa bosan itulah ketenangan sejati berada.
Lakukan di Mana Saja: Niksen bisa dilakukan saat Anda duduk di transportasi umum sambil melihat ke luar jendela, atau saat menunggu pesanan kopi. Berhentilah menganggap waktu tunggu sebagai “waktu terbuang”. Ubahlah menjadi “waktu Niksen”

Menemukan Kembali Keseimbangan

Mempraktikkan Niksen bukan berarti kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab atau tidak ambisius. Sebaliknya, ini adalah strategi cerdas untuk menjaga umur panjang kapasitas mental kita. Dengan memberikan diri kita izin untuk tidak melakukan apa-apa, kita sebenarnya sedang mengisi ulang baterai internal kita agar bisa kembali bekerja dengan lebih fokus dan bahagia.

Di dunia yang terus berputar dan berisik, seni melakukan Niksen adalah sebuah tindakan perlawanan yang indah. Ia mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang berharga karena keberadaan kita (human beings), bukan sekadar karena apa yang kita kerjakan (human doings). Jadi, sore ini, setelah Anda selesai membaca artikel ini, cobalah untuk meletakkan perangkat Anda, duduk di kursi yang paling nyaman, dan lakukanlah Niksen. Jangan hasilkan apa-apa. Jangan pelajari apa-apa. Biarkan dunia berputar tanpa campur tangan Anda untuk sejenak saja.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...