Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang terkenal karena aura bintang, ada yang dikenang karena kekuatan pukulan, dan ada pula yang membangun warisan lewat sesuatu yang lebih sunyi tetapi jauh lebih mematikan: kemampuan menunggu satu celah, lalu mengakhiri pertarungan dengan teknik yang tak bisa dibantah. Gerald Edward Meerschaert III, atau yang lebih dikenal dengan julukan “GM3”, termasuk dalam golongan terakhir itu. Ia lahir pada 18 Desember 1987 di Racine, Wisconsin, Amerika Serikat, dan hari ini dikenal sebagai salah satu spesialis submission paling berbahaya yang pernah tampil di divisi middleweight UFC. Profil resminya mencatat ia bertarung di kelas middleweight, memiliki tinggi sekitar 185 cm, berat 186 lbs, stance southpaw, dan rekor profesional 37 kemenangan dan 21 kekalahan. ESPN juga menampilkan angka yang sama, beserta distribusi kemenangan yang sangat mencolok: 29 submission, 6 KO/TKO, dan 2 kemenangan keputusan.
Kalau melihat angka-angka itu saja, karakter GM3 sebenarnya sudah langsung terasa. Ia bukan petarung yang memburu kemenangan dengan jalan paling mudah atau paling aman. Ia hidup dari ancaman grappling, dari transisi bawah ke atas, dari scramble yang tampak biasa lalu tiba-tiba berubah menjadi cekikan atau kuncian yang mematikan. Dalam era MMA modern yang sering memuja striking dan highlight knockout, Meerschaert justru bertahan sebagai pengingat bahwa seni menyelesaikan laga di matras masih punya tempat yang sangat besar. Bahkan, menurut data UFC Stat Leaders per Maret 2026, Meerschaert memegang rekor finish terbanyak dalam sejarah divisi middleweight UFC dengan 12, sekaligus submission wins terbanyak di divisi itu dengan 11. Ia juga berada di papan atas statistik submission attempts untuk kelas middleweight.
Rekor itu sangat penting karena memperlihatkan bahwa GM3 bukan sekadar veteran yang bertahan lama di UFC. Ia adalah petarung yang benar-benar meninggalkan jejak statistik bersejarah. Dalam divisi yang pernah dihuni nama-nama besar seperti Anderson Silva, Michael Bisping, Chris Leben, Derek Brunson, hingga generasi yang lebih baru seperti Brendan Allen, Meerschaert justru berdiri di puncak kategori finish dan submission. Itu bukan pencapaian kecil. Itu adalah bentuk warisan. Dan warisan seperti ini biasanya hanya dimiliki oleh petarung yang benar-benar tahu bagaimana menang dengan caranya sendiri, berulang kali, melawan lawan-lawan dengan gaya dan kualitas berbeda.
Menariknya, Gerald Meerschaert tidak datang ke UFC sebagai prospek muda yang dibungkus hype besar. Ia meniti jalan yang lebih panjang dan lebih kasar. Sebelum masuk UFC pada 2016, ia sudah lebih dulu membangun namanya di berbagai promosi regional Amerika Serikat seperti Resurrection Fighting Alliance (RFA), Titan FC, dan King of the Cage (KOTC). Ringkasan biografinya di berbagai sumber publik juga konsisten menyebut bahwa ia adalah produk sirkuit regional yang sangat aktif, seorang petarung yang mengumpulkan pengalaman bukan dari panggung besar sejak awal, melainkan dari perjalanan bertahun-tahun melawan berbagai tipe lawan di banyak organisasi berbeda.
Jalur seperti itu sangat membentuk karakter seorang petarung. Di promosi regional, Anda tidak selalu mendapat lawan yang sempurna untuk perkembangan karier. Kadang Anda harus bertarung dengan persiapan pendek, kadang menghadapi lawan dengan gaya tak lazim, kadang naik turun berat badan, kadang bertarung tanpa banyak sorotan. Petarung yang bisa bertahan dan berkembang dalam kondisi seperti itu biasanya membangun insting bertarung yang sangat tajam. GM3 adalah produk dari kerasnya proses tersebut. Ia memulai karier profesionalnya sejak 2007, dan dari awal sudah menunjukkan kecenderungan yang kemudian menjadi identitas utamanya: menyelesaikan lawan, terutama lewat submission. Sherdog bahkan pernah menyoroti bahwa ia meraih submission ke-20 dalam kariernya jauh sebelum banyak orang mengenalnya secara luas di UFC.
Masuk ke UFC pada 2016 menjadi titik penting, tetapi bukan berarti jalannya langsung mulus. Justru di situlah keunikan karier Meerschaert terlihat. Ia bukan petarung yang dominan tanpa celah. Ia sering kalah, bangkit lagi, lalu menang dengan cara yang membuat orang teringat pada betapa berbahayanya dirinya. Pola inilah yang membuat karier GM3 terasa sangat manusiawi sekaligus sangat menarik. Ia tidak dibangun dari kesempurnaan. Ia dibangun dari daya tahan. Dari kemampuan kembali ke oktagon setelah kalah, lalu tetap berani masuk ke pertarungan yang sama berisikonya. Rekor profesional 37-21 dengan distribusi kekalahan yang cukup besar memang menunjukkan bahwa ia bukan petarung tanpa noda, tetapi justru di situlah kekhasan kisahnya: ia terus bertahan, terus relevan, dan terus menang dengan senjata yang sudah semua orang tahu, tetapi tetap sulit dihentikan.
Secara teknis, Meerschaert adalah petarung yang selalu menarik untuk dibaca lebih dalam. Anda menyebutnya memiliki spesialisasi Brazilian Jiu-Jitsu sabuk hitam dan kickboxing, dan data publik memang mendukung gambaran itu. ESPN mencantumkan gaya bertarungnya sebagai Brazilian Jiu-Jitsu dan Freestyle, sementara profil umum lain juga mengaitkannya dengan latar striking dari Roufusport serta perkembangan grappling tingkat tinggi yang membuatnya menjadi ancaman submission yang luar biasa. Ia bertarung dari posisi southpaw, sesuatu yang memberi sudut berbeda dalam striking maupun entry ke grappling. Kombinasi ini membuat GM3 selalu berbahaya bahkan saat ia tampak kalah dalam pertukaran berdiri, karena ia sering hanya membutuhkan satu transisi untuk membalikkan keadaan.
Salah satu kualitas paling menonjol dari kariernya adalah kemampuannya mengubah pertarungan yang tampak buruk menjadi kemenangan submission. Ini bukan sekadar teori. Dalam beberapa tahun terakhir, hal itu terus terlihat. Pada Maret 2024, ia mengalahkan Bryan Barberena lewat technical submission (face crank) di ronde kedua. Sherdog kemudian menyoroti hasil itu dalam ulasan statistik tahun 2024 sebagai momen bersejarah tersendiri, karena submission tersebut disebut sebagai pertama kalinya face crank benar-benar membuat lawan tertidur di UFC pada tahun itu. Lalu pada Agustus 2024, Meerschaert mengalahkan Edmen Shahbazyan lewat arm-triangle choke di ronde kedua. Kemenangan itu sangat penting karena menjadikannya pemilik 12 finish UFC di middleweight, melewati rekor sebelumnya dan menegaskan posisinya sebagai pemegang rekor finish terbanyak di divisi tersebut.
Kemenangan atas Shahbazyan terasa seperti ringkasan sempurna tentang siapa GM3 itu. Ia bukan petarung yang harus selalu memimpin dari awal untuk menang. Ia bisa disakiti, bisa dipaksa bertahan, bahkan bisa terlihat berada di ambang kekalahan. Tetapi selama pertarungan belum selesai, selama masih ada kesempatan untuk membuat lawan masuk ke area permainan bawah atau scramble yang salah, Meerschaert tetap berbahaya. Dan itulah yang membuatnya berbeda dari banyak middleweight lain. Ia bukan hanya grappler yang rapi. Ia adalah pemburu momen. Seseorang yang bisa mengubah satu tarikan kepala, satu underhook, satu jebakan transisi, menjadi akhir pertarungan.
Namun karier panjang seperti miliknya juga dipenuhi benturan keras. Meerschaert bukan hanya memiliki banyak kemenangan, tetapi juga banyak kekalahan, dan beberapa datang dengan sangat brutal. Nama Khamzat Chimaev akan selalu muncul dalam narasi itu, karena Chimaev pernah menyingkirkannya hanya dalam hitungan detik. Dalam periode yang lebih baru, 2025 juga menjadi tahun yang berat bagi GM3. ESPN, Sherdog, dan profil UFC menunjukkan ia kalah dari Brad Tavares lewat keputusan juri pada April 2025, lalu kalah TKO dari Michał Oleksiejczuk pada Agustus 2025, dan kemudian kalah submission dari Kyle Daukaus pada November 2025. Rangkaian itu membuatnya datang ke 2026 dengan streak empat kekalahan beruntun, menurut Tapology.
Tetapi justru di situlah daya tahan Meerschaert sebagai petarung veteran terasa begitu kuat. Banyak atlet akan memilih mundur atau tenggelam setelah kekalahan beruntun di usia akhir 30-an. GM3 justru tetap ada dalam jadwal UFC. ESPN dan Sherdog sama-sama mencatat bahwa ia dijadwalkan menghadapi Jacob Malkoun pada 2 Mei 2026 di Perth, Australia. Fakta bahwa UFC masih memberinya laga baru menunjukkan satu hal: di balik semua jatuh-bangun itu, Meerschaert tetap dipandang sebagai nama yang relevan, berpengalaman, dan selalu berbahaya. Ia mungkin bukan lagi penantang utama gelar, tetapi ia masih menjadi ujian yang sangat nyata bagi siapa pun di divisi middleweight.
Ada juga detail menarik soal afiliasinya. Data ESPN saat ini menampilkan Kill Cliff FC sebagai timnya, sementara sumber publik lain seperti Wikipedia dan Tapology juga mengaitkannya dengan Roufusport, Agallar Combative Systems, dan bahkan GM3’s MMA Institute. Ini menggambarkan bahwa karier panjang Meerschaert memang melewati beberapa fase perkembangan dan ekosistem latihan. Yang tetap konsisten bukan nama gym semata, melainkan identitas tekniknya: grappling tajam, submission oportunistis, dan striking yang cukup untuk membuka jalan menuju permainan bawahnya. Dalam karier sepanjang hampir dua dekade, evolusi seperti ini wajar, dan justru menunjukkan bahwa ia adalah petarung yang terus menyesuaikan diri dengan usia, lawan, dan kebutuhan karier.
Kalau berbicara soal prestasi, orang sering terpaku pada sabuk juara. Padahal dalam kasus Gerald Meerschaert, prestasi utamanya justru berbentuk warisan teknis dan statistik. Ia mungkin bukan juara UFC, tetapi menjadi pemegang rekor finish terbanyak dalam sejarah middleweight UFC adalah pencapaian yang sangat langka. Ia juga memimpin daftar submission wins di middleweight UFC, dan secara keseluruhan berada di papan atas sejarah UFC untuk kemenangan submission lintas divisi. Catatan seperti ini tidak datang dari satu malam luar biasa. Ini datang dari karier yang panjang, sangat aktif, dan penuh keberanian untuk terus mengambil pertarungan sulit.
Aspek lain yang membuat GM3 menarik adalah bagaimana ia mewakili tipe petarung veteran yang tidak pernah benar-benar kehilangan ancamannya. Banyak petarung saat menua berubah menjadi lebih hati-hati, lebih defensif, dan lebih fokus bertahan. Meerschaert tetap datang dengan peluang submission yang sama menakutkannya. Bahkan saat statistik striking atau kecepatan mungkin tak lagi sebaik masa mudanya, kecerdasan grappling dan insting submission-nya tetap menjadi senjata yang sangat hidup. Untuk penggemar MMA sejati, kualitas seperti ini punya nilai besar. Ia mengingatkan bahwa seni bela diri campuran bukan hanya soal atlet paling eksplosif, tetapi juga tentang teknik yang terus bertahan seiring waktu.
Pada akhirnya, Gerald Edward Meerschaert III adalah salah satu kisah paling khas dalam middleweight UFC. Ia datang bukan sebagai superprospek, bukan sebagai mesin hype, tetapi sebagai pekerja keras dari sirkuit regional yang perlahan menulis namanya sendiri dalam buku rekor. Ia lahir di Racine, Wisconsin, bertarung sebagai southpaw dengan dasar BJJ dan kickboxing, mengumpulkan 37 kemenangan, sebagian besar lewat submission, dan membangun reputasi sebagai salah satu finisher paling konsisten di divisinya. Di era ketika banyak petarung datang dan pergi dengan cepat, GM3 justru meninggalkan sesuatu yang lebih tahan lama: angka, teknik, dan kenangan tentang bagaimana satu veteran yang tak pernah menyerah bisa mengubah matras menjadi wilayah kekuasaannya.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda