Nontachai Jitmuangnon: Striker Thailand Di ONE Championship

Piter Rudai 15/09/2026 3 min read
Nontachai Jitmuangnon: Striker Thailand Di ONE Championship

Jakarta – Tidak semua petarung Muay Thai memulai perjalanan dengan ambisi menjadi bintang. Nontachai Jitmuangnon justru mengenal bela diri dari sesuatu yang sederhana: kesenangan. Lahir di Chumphon, Thailand, pada 25 April 1999, Nontachai baru mulai berlatih Muay Thai ketika berusia 15 tahun. Dari latihan yang awalnya dilakukan untuk bersenang-senang, bakatnya perlahan terlihat dan membawanya memasuki dunia pertandingan profesional. Dalam beberapa tahun, ia berkembang dari petarung lokal menjadi salah satu striker Thailand yang mendapat panggung di ONE Championship.

Berbeda dengan banyak petarung Thailand yang telah masuk ring sejak usia kanak-kanak, Nontachai datang relatif terlambat. Namun, keterlambatan tersebut tidak menghalanginya mengejar ketertinggalan. Ia menempa kemampuan di lingkungan Jitmuangnon Gym, salah satu nama penting dalam tradisi Muay Thai Thailand. Rekor yang tercatat dalam database Muay Thai Records menunjukkan bahwa ia telah menjalani puluhan pertandingan sebelum namanya benar-benar dikenal secara internasional. Salah satu catatan yang dipublikasikan FightBook MMA menyebut rekor kariernya berada di kisaran 53 kemenangan dan 22 kekalahan, meski pencatatan rekor Muay Thai memang dapat berbeda antar-database karena tidak semua pertandingan lokal terdokumentasi secara seragam.

Kesempatan besar datang pada Juli 2024 ketika Nontachai melakukan debut di ONE Championship melalui ONE Friday Fights 69. Ia masuk ke panggung global bukan sebagai petarung yang sudah memiliki nama besar, tetapi sebagai striker yang harus membuktikan bahwa pengalamannya di sirkuit Thailand dapat diterjemahkan ke dalam kompetisi ONE. Debut tersebut menjadi titik penting karena sejak saat itu setiap pertarungan menghadirkan lawan dengan gaya dan latar belakang yang semakin beragam.

Salah satu penampilan yang memperkuat reputasinya terjadi pada 8 November 2024 di ONE Friday Fights 86. Menghadapi Dmitrii Kovtun dalam pertarungan catchweight 150 pound, Nontachai tampil agresif dan menyelesaikan pertandingan pada ronde kedua. Ia menggabungkan knee ke tubuh dengan pukulan untuk menghasilkan kemenangan KO pada menit 2:39. Penampilan tersebut juga membuatnya menerima bonus penampilan US$10.000. Kemenangan itu memperlihatkan karakter Nontachai sebagai petarung yang tidak takut menaikkan tempo dan memanfaatkan celah ketika lawan mulai kehilangan keseimbangan.

Perjalanan berikutnya menghadirkan ujian yang lebih berat. Pada 12 Juli 2025, Nontachai menghadapi Abdulla Dayakaev dalam pertarungan Muay Thai 70,3 kilogram dan mengalami kekalahan KO pada ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi salah satu titik paling sulit dalam perjalanannya di ONE. Namun, ia tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali. Pada 24 Oktober 2025, Nontachai turun ke kelas bantamweight dan menghadapi Soner Sen. Ia berhasil meraih kemenangan melalui majority decision setelah menjatuhkan Sen dalam pertarungan tersebut. Kemenangan itu menjadi bukti bahwa ia mampu merespons kemunduran dengan kembali bekerja, bukan sekadar mengandalkan reputasi masa lalu.

Pada 6 Maret 2026, Nontachai kembali menunjukkan perkembangan tersebut ketika menghadapi Semih Sah Cindir di ONE Friday Fights 145. Kali ini ia tampil di featherweight Muay Thai dan menang melalui TKO pada ronde ketiga, sekitar 1:56. Pertandingan itu menjadi lebih dari sekadar kemenangan karena Nontachai sebelumnya mengakui adanya kritik terhadap gaya bertarungnya. Ia merespons kritik tersebut dengan memperbaiki detail dalam latihan dan memperluas variasi serangannya. ONE sendiri menggambarkan persiapannya sebagai upaya membangun “arsenal” yang lebih berbahaya.

Secara teknis, Nontachai merupakan produk khas Muay Thai Thailand: ia menggunakan delapan anggota tubuh sebagai senjata, dengan pukulan, tendangan, lutut, dan siku yang dipadukan untuk menciptakan tekanan. Namun, perkembangannya menunjukkan bahwa ia tidak ingin sekadar menjadi petarung yang mengandalkan volume serangan. Kekalahan dari Dayakaev membuatnya harus mengevaluasi kembali pendekatan bertarungnya, sementara kemenangan atas Cindir memperlihatkan peningkatan kemampuan menyelesaikan pertandingan. Mentalitas seperti inilah yang menjadi bagian penting dari perkembangan kariernya—menerima kritik, kembali ke gym, lalu menjawabnya melalui performa di ring.

Menariknya, Nontachai sebenarnya dijadwalkan menghadapi Kiamran Nabati pada Agustus 2026 dalam duel Muay Thai kelas bantamweight di ONE Fight Night 46. Pertandingan tersebut kemudian dibatalkan setelah Nontachai jatuh sakit dan harus mendapat perawatan di rumah sakit. Pembatalan itu membuat duel yang dinanti antara dua striker tersebut belum terwujud.

Pada usia 27 tahun, perjalanan Nontachai masih berada dalam fase berkembang. Ia belum memiliki status juara dunia ONE, tetapi jalurnya menunjukkan sesuatu yang tidak kalah penting: kemampuan beradaptasi. Dari anak Chumphon yang baru mengenal Muay Thai pada usia 15 tahun, ia berkembang menjadi petarung profesional dengan puluhan pertandingan, pengalaman di berbagai kelas berat, kemenangan KO, serta pengalaman menghadapi kekalahan di panggung internasional. Rekornya memang sulit dirangkum dalam satu angka yang benar-benar universal karena perbedaan pencatatan pertandingan Muay Thai, tetapi justru perjalanan panjang itulah yang menjelaskan identitasnya. Nontachai bukan petarung yang selesai dibentuk—ia masih terus ditempa setiap kali memasuki ring.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...