JP Buys: Kisah “Young Savage” Dari Afrika Selatan

Piter Rudai 20/04/2026 4 min read
JP Buys: Kisah “Young Savage” Dari Afrika Selatan

Jakarta – Di dunia MMA, tidak semua petarung tiba di UFC melalui jalan yang terang benderang. Ada yang datang dari promosi besar, ada yang menanjak lewat sorotan media, dan ada pula yang meniti jalur lebih sunyi, lebih keras, dan lebih mentah. JP Buys termasuk ke dalam kelompok terakhir itu. Ia adalah petarung asal Afrika Selatan yang dikenal dengan julukan “Young Savage”, seorang atlet dengan dasar wrestling, grappling, dan identitas teknik yang dibentuk oleh disiplin bertarung dari bawah ke atas. Profil resminya di ESPN dan UFC menempatkannya sebagai petarung yang pernah tampil di divisi flyweight dan terkait dengan Xtreme Couture, dengan gaya bertarung orthodox dan rekor profesional 9 kemenangan dan 6 kekalahan.

Sebelum nama JP Buys muncul di radar penggemar UFC, ia sudah lebih dulu membangun reputasi di Extreme Fighting Championship (EFC), organisasi besar di kawasan Afrika. Di sanalah kisah “Young Savage” benar-benar mulai terbentuk. Sherdog menulis bahwa Buys adalah pemegang dua gelar di EFC, sementara artikel Sherdog lain merinci bahwa ia pernah menjadi juara interim flyweight dan kemudian merebut gelar bantamweight. Dalam artikel itu dijelaskan bahwa ia memenangkan sabuk interim flyweight dengan menundukkan Baldwin Mdlalose lewat triangle choke ronde pertama di EFC 54 pada 15 Oktober 2016, lalu merebut sabuk bantamweight lowong dengan mengalahkan Philippe Rouch lewat guillotine choke di EFC 69 pada 28 April 2018. Itu adalah penanda penting bahwa Buys bukan petarung biasa di level regional; ia sudah membuktikan dirinya sebagai juara di dua kelas berbeda.

Momen yang benar-benar membuka pintu ke UFC datang pada Dana White’s Contender Series 2020. Pada 17 November 2020, Buys menghadapi Jacob Silva dan meraih kemenangan lewat technical submission (guillotine choke) pada ronde pertama. Hasil ini tercatat di Sherdog dan menjadi titik penting dalam kariernya, karena DWCS memang dirancang untuk menguji apakah seorang petarung regional siap naik ke level tertinggi. Buys lulus ujian itu bukan dengan kemenangan tipis, melainkan dengan penyelesaian yang tegas. Untuk petarung dengan basis grappling seperti dirinya, kemenangan semacam ini terasa sangat representatif: ia tidak hanya menang, tetapi memaksakan identitas bertarungnya di depan mata UFC.

Masuk ke UFC tentu terdengar seperti puncak mimpi, tetapi di situlah kenyataan baru dimulai. Debut Buys di UFC terjadi pada 20 Maret 2021, ketika ia menghadapi Bruno Silva di UFC on ESPN 21. Hasilnya tidak berpihak padanya. Sherdog mencatat ia kalah lewat TKO pada ronde kedua. Kekalahan debut seperti ini selalu berat, terutama bagi petarung yang baru saja mendapat kontrak dan ingin langsung membuktikan diri. Namun, kekalahan itu juga memperlihatkan perbedaan level yang sangat nyata antara dominasi di promosi regional dan tekanan pertarungan di panggung UFC.

Karier Buys di UFC kemudian berjalan sulit. Ia tidak berhasil menemukan ritme kemenangan yang dibutuhkan untuk mengamankan tempat dalam jangka panjang. ESPN tetap menampilkan rekor profesionalnya di angka 9-6-0, dan itu selaras dengan gambaran bahwa fase UFC-nya menjadi masa yang sangat berat, penuh ujian, dan tidak memberi banyak ruang untuk kesalahan. Dalam olahraga seperti MMA, satu kekalahan kadang masih bisa dipulihkan dengan cepat. Tetapi ketika kekalahan datang di level tertinggi, tekanan psikologis dan kompetitifnya jauh lebih besar. Bagi Buys, tantangannya bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal menstabilkan performa ketika berhadapan dengan lawan yang semua detail permainannya berada di level tinggi.

Julukan “Young Savage” juga memberi warna pada narasinya. Ada kesan liar dan agresif dari nama itu, tetapi bila melihat perjalanannya lebih dekat, Buys justru tampak sebagai petarung yang dibangun lewat kerja sistematis. Ia memenangkan sabuk, menembus DWCS, lalu memaksa dirinya masuk ke UFC. Di balik julukan yang terdengar keras itu, sebenarnya ada cerita tentang ketekunan dan disiplin. Ia datang dari Afrika Selatan, sebuah pasar MMA yang tidak selalu mendapat sorotan sebesar Amerika atau Brasil, lalu berhasil membawa dirinya ke pusat industri olahraga tarung dunia. Itu sendiri sudah merupakan pencapaian besar.

Ada sisi lain yang membuat cerita Buys relevan untuk pembaca artikel olahraga naratif: ia mewakili jenis petarung yang tumbuh dari ekosistem non-utama, tetapi berhasil menembus sistem global. EFC selama bertahun-tahun telah menjadi jalur penting bagi petarung Afrika menuju level internasional, dan Buys adalah salah satu contoh paling jelas dari jalur itu. Ia tidak sekadar tampil di EFC; ia menjadi juara di sana. Maka saat namanya masuk UFC lewat Contender Series, itu bukan kejutan kosong, melainkan hasil dari pondasi yang sudah dibangun cukup lama.

Dalam membaca prestasinya, ada tiga hal yang paling layak ditekankan. Pertama, ia pernah menjadi juara dua divisi EFC, sebuah pencapaian yang tidak mudah diraih di promosi mana pun. Kedua, ia berhasil lolos ke UFC lewat Dana White’s Contender Series 2020, salah satu jalur paling kompetitif untuk masuk ke organisasi terbesar MMA. Ketiga, ia membangun rekor profesional 9-6 dengan proporsi kemenangan submission yang kuat, menegaskan bahwa keunggulan grappling-nya bukan sekadar label. Tiga hal ini membuat Buys tetap menarik dibahas, bahkan jika fase UFC-nya tidak berjalan seindah yang dibayangkan banyak orang.

Pada akhirnya, JP Buys adalah kisah tentang mimpi yang ditempa dari tempat yang jauh dari pusat perhatian. Ia lahir di Brakpan, tumbuh sebagai petarung Afrika Selatan, menguasai gulat, grappling, dan jiu-jitsu, lalu mengukir nama sebagai juara EFC sebelum menembus UFC melalui DWCS. Kariernya memang tidak berjalan mulus di panggung terbesar, tetapi itu tidak menghapus nilai dari perjalanannya. Justru sebaliknya, kisahnya terasa lebih manusiawi: ada keberhasilan, ada puncak, ada benturan dengan realitas level elit, dan ada warisan bahwa ia pernah membawa nama Afrika Selatan ke salah satu panggung paling keras dalam olahraga tarung.

Untuk pembaca yang menyukai cerita petarung dengan fondasi teknik kuat dan perjalanan naik dari bawah, JP Buys adalah nama yang layak dikenang. Ia bukan sekadar mantan kontestan DWCS atau eks petarung UFC. Ia adalah “Young Savage” yang pernah menjadi juara di dua divisi, memaksa gerbang UFC terbuka lewat submission, dan menunjukkan bahwa petarung dari Afrika Selatan pun bisa menembus arus utama MMA dunia.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...