Kisah Brando Peričić, Petarung Heavyweight UFC

Piter Rudai 22/04/2026 5 min read
Kisah Brando Peričić, Petarung Heavyweight UFC

Jakarta – Di divisi heavyweight, tidak banyak petarung yang bisa datang dengan pengalaman profesional yang masih relatif singkat, tetapi langsung membuat orang menoleh. Biasanya, kelas berat adalah wilayah petarung yang sudah lama ditempa, matang oleh banyak ronde, dan terbiasa menghadapi tekanan besar. Namun Brando Peričić datang dengan jalur yang sedikit berbeda. Ia lahir pada 3 Agustus 1994, dikenal sebagai petarung asal Australia, bertarung di kelas heavyweight UFC, dan membawa julukan yang sangat pas dengan sosoknya: “The Balkan Bear.” Profil resmi UFC dan ESPN mencatat ia memiliki tinggi sekitar 6 kaki 5 inci, bobot bertanding sekitar 264 lbs, dan hingga kini mengantongi rekor profesional 6 kemenangan dan 1 kekalahan.

Julukan “The Balkan Bear” terasa tepat bukan hanya karena fisiknya besar dan kuat, tetapi juga karena gaya bertarungnya memang seperti hewan buas yang tidak ingin berlama-lama di kandang. Anda menggambarkannya sebagai petarung dengan gaya ortodoks, menekankan striking kuat serta memiliki latar belakang gulat, dan data resmi UFC cukup mendukung gambaran bahwa kekuatan utama Peričić memang ada pada kemampuan menghentikan lawan. Profil UFC menyebut ia memiliki 100 persen finishing rate, dengan 5 kemenangan KO dan 1 kemenangan submission, plus enam kemenangan ronde pertama dalam karier profesionalnya. Rekor seperti ini langsung menunjukkan bahwa Peričić bukan petarung yang datang untuk bermain aman atau mengumpulkan poin. Ia datang untuk menutup laga secepat mungkin.

Yang membuat kisah Brando Peričić semakin menarik adalah perjalanan emosional di balik kariernya. UFC dalam artikel fitur menjelang UFC London pada Maret 2026 menulis bahwa Peričić sempat berada di ambang berhenti dari MMA. Kurangnya jadwal pertandingan dan sulitnya bertahan hidup sebagai atlet membuatnya nyaris meninggalkan olahraga ini. Detail ini memberi dimensi yang sangat manusiawi pada sosoknya. Banyak penonton hanya melihat seorang heavyweight yang meledak di ronde pertama, tetapi di balik itu ada petarung yang sempat berpikir bahwa mimpinya mungkin tidak akan berjalan jauh. Justru dari titik seperti itulah ceritanya menjadi kuat. Ia tidak datang ke UFC sebagai proyek mulus. Ia datang sebagai petarung yang hampir menyerah, tetapi memilih bertahan sedikit lebih lama.

Sebelum masuk UFC, Peričić membangun namanya di panggung regional Australia. Rekam jejaknya di ESPN menunjukkan bahwa ia bertarung di promotor seperti Hex Fight Series, Stealth Fighters League, dan Supremacy Fighting Championship. Pada 4 Mei 2024, ia mengalami satu-satunya kekalahan profesionalnya sejauh ini, saat takluk dari Rob Rayment lewat rear-naked choke di ronde kedua di Hex Fight Series 30. Kekalahan ini penting untuk dibaca, karena justru dari sanalah bentuk mental seorang petarung biasanya terlihat. Ia tidak runtuh setelah kalah. Sebaliknya, ia bangkit sangat cepat dan merespons dengan gaya yang sangat meyakinkan.

Setelah kekalahan itu, Peričić membangun momentumnya lagi dengan cara yang brutal. Pada 25 Oktober 2024, ia mengalahkan T. Phillips lewat KO/TKO dalam 17 detik di Stealth Fighters League 1. Lalu hanya sepekan lebih setelah itu, tepatnya 2 November 2024, ia kembali menang, kali ini atas O. Kenny lewat KO/TKO ronde pertama pada menit 1:08 di Supremacy Fighting Championship: Rebirth. Dua kemenangan cepat beruntun seperti ini adalah jenis hasil yang segera menarik perhatian promotor besar, apalagi di kelas heavyweight. Di divisi ini, kemampuan menyelesaikan laga dalam hitungan detik selalu punya daya tarik khusus. Dan Brando Peričić mulai memperlihatkan bahwa ia punya kualitas itu.

Fase regional itu sangat penting dalam pembentukan identitasnya. Ia bukan petarung yang datang ke UFC karena hype kosong, melainkan karena membawa pola yang jelas: menang cepat, keras, dan sangat efisien. UFC sendiri pada profil resminya menekankan bahwa ia pro sejak November 2019, dengan laga terpanjang dalam karier profesionalnya hanya 6 menit 36 detik. Fakta ini menjelaskan banyak hal. Peričić adalah petarung yang nyaris selalu hidup dalam pertandingan pendek. Ia menang atau kalah sebelum laga benar-benar masuk ke wilayah yang panjang. Untuk penonton, itu membuatnya menarik. Untuk karier, itu membuatnya terasa berbahaya, tetapi juga masih menyimpan pertanyaan tentang seperti apa ia bila dipaksa bertarung lebih lama.

Pintu UFC akhirnya terbuka pada 2025, dan Brando Peričić tidak membuang kesempatannya. Debutnya datang di UFC Perth pada 27 September 2025 melawan Elisha Ellison. Hasilnya sangat tegas: Peričić menang lewat TKO ronde pertama pada 1:55. UFC bahkan menyediakan sorotan video khusus untuk kemenangan tersebut, sementara Sherdog melaporkan bahwa ia mendapat bonus Performance of the Night sebesar 50 ribu dolar untuk penampilan itu. Laporan Sherdog juga menjelaskan bahwa setelah menghajar Ellison dengan siku, lawannya membuat keputusan buruk dengan mencoba menarik guard, dan Peričić menutupnya dengan pukulan di ground. Untuk debut UFC, ini adalah pernyataan yang sangat keras. Ia tidak hanya menang. Ia langsung memperkenalkan dirinya sebagai heavyweight yang bisa membuat kekacauan dalam waktu sangat singkat.

Kemenangan atas Elisha Ellison memberi warna penting pada kisah Brando. Ia datang sebagai pendatang baru, tetapi tidak bertarung seperti petarung yang sedang mencari aman. Ia justru tampil seperti seseorang yang ingin memastikan publik mengingat namanya. Dan memang, kemenangan ronde pertama itu segera mengubah pembicaraan tentang dirinya. ESPN kemudian menampilkan rekor UFC-nya menjadi 1-0, sementara beberapa artikel preview mulai menyebutnya sebagai heavyweight yang punya upside besar meski pengalaman profesionalnya masih terbatas.

Penampilan keduanya di UFC datang pada 21 Maret 2026 di UFC Fight Night: Evloev vs. Murphy di London. Lawannya adalah Louie Sutherland, dan sekali lagi Peričić menunjukkan bahwa kelas berat memang terasa seperti rumah alaminya. Ia menang lewat KO/TKO ronde pertama pada 1:48. UFC menyediakan wawancara oktagon dan fight week interview untuk laga ini, sementara Sherdog menggambarkan bagaimana ia “menghisap udara dari O2 Arena” dengan menghajar petarung tuan rumah secara brutal. Kemenangan ini membuat rekor UFC-nya menjadi 2-0 dan rekor profesionalnya menjadi 6-1. Lebih dari itu, kemenangan tersebut memperkuat identitas yang mulai menempel padanya: Brando Peričić adalah heavyweight yang sangat berbahaya sejak bel pertama dibunyikan.

Dari sudut pandang prestasi, memang belum ada gelar UFC yang bisa disematkan pada namanya. Tetapi fondasi yang ia bangun sudah cukup mengesankan. Ia memiliki rekor 6-1, belum terkalahkan di UFC dengan 2 kemenangan KO/TKO ronde pertama, dan sudah mengantongi bonus Performance of the Night dalam debutnya. Untuk petarung yang baru memulai kiprah di organisasi ini pada akhir 2025, itu adalah awal yang sangat kuat. Apalagi di heavyweight, satu kemenangan besar bisa langsung mengubah posisi seorang petarung dari pendatang baru menjadi prospek yang diperhitungkan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...