Cody Haddon: Perjalanan Petarung Australia Di UFC

Piter Rudai 24/04/2026 4 min read
Cody Haddon: Perjalanan Petarung Australia Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang datang ke UFC dengan sorotan besar, dan ada juga yang meniti jalannya dengan sabar, melalui kerja panjang di gym, panggung regional, lalu pembuktian satu demi satu sampai namanya tidak bisa lagi diabaikan. Cody Haddon termasuk dalam kelompok kedua itu. Petarung asal Perth, Western Australia, yang lahir pada 8 September 1998, kini dikenal sebagai salah satu nama Australia yang mulai membangun pijakan di divisi bantamweight UFC. Profil resmi UFC mencatat Haddon bertarung di kelas bantamweight, memiliki tinggi 5 kaki 7 inci atau sekitar 170 cm, reach 69 inci, berstance orthodox, berafiliasi dengan Luistro Combat Academy, dan memiliki rekor profesional 8 kemenangan serta 1 kekalahan.

Titik balik terbesar dalam perjalanan tersebut datang melalui Dana White’s Contender Series Season 8. Pada 20 Agustus 2024, Haddon menghadapi Billy Brand dan menang lewat submission, hasil yang langsung membawanya mendapatkan kontrak UFC. Hal ini dikonfirmasi oleh halaman hasil resmi DWCS Week 2 dari UFC, yang menempatkan Haddon sebagai salah satu pemenang kontrak dari episode tersebut. Kemenangan itu bukan sekadar angka tambahan pada rekor, tetapi momen ketika seluruh kerja keras di panggung regional akhirnya membuka pintu ke UFC.

Menariknya, kemenangan di Contender Series itu tidak membuat Haddon terlalu lama menunggu debut. Hanya beberapa minggu kemudian, ia langsung masuk ke UFC dan mendapat ujian pertama di panggung utama. Debut resminya datang pada 12 Oktober 2024 saat menghadapi Dan Argueta di UFC Fight Night: Royval vs. Taira. Haddon menang lewat unanimous decision setelah tiga ronde, dan hasil ini menjadi kemenangan pertamanya di UFC. Bagi petarung yang baru saja keluar dari DWCS, start seperti ini sangat penting. Ia bukan hanya berhasil masuk, tetapi langsung menunjukkan bahwa dirinya mampu bertahan dan menang dalam ritme tiga ronde di level tertinggi.

Kemenangan atas Dan Argueta juga memberi warna penting pada profil teknik Haddon. Sebelum itu, banyak perhatian tertuju pada kekuatan penyelesaiannya. Namun saat menghadapi Argueta, ia menunjukkan sisi lain: disiplin, kontrol, dan kemampuan menjaga fokus sepanjang laga. Di level UFC, kualitas seperti ini sering sama pentingnya dengan kemampuan finis. Banyak petarung bisa terlihat berbahaya dalam beberapa menit pertama, tetapi tidak semua bisa tetap efektif hingga akhir. Haddon membuktikan bahwa ia punya dua hal itu sekaligus.

Setelah debut sukses, UFC mulai melihat Haddon sebagai salah satu lulusan Contender Series 2024 yang paling cepat memberi dampak. Dalam ulasan resmi musim ke-8 DWCS, UFC menulis bahwa Haddon adalah lulusan pertama musim itu yang meraih kemenangan di UFC, sebuah catatan yang memberi bobot lebih besar pada transisinya dari jalur prospek ke panggung utama. Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa Haddon tidak sekadar memenangkan kontrak, tetapi juga langsung menerjemahkan momentum itu menjadi hasil nyata di Octagon.

Di sisi lain, karier seorang petarung tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Haddon kemudian dijadwalkan menghadapi lawan yang lebih berbahaya, dan perjalanannya mulai memasuki fase yang lebih menuntut. Dalam sebuah artikel menjelang salah satu pertarungannya menggambarkan Haddon sebagai petarung yang tangguh, mampu menerima tekanan, dan punya cukup alat untuk membalas keras, tetapi juga menandai bahwa pertanyaan besar berikutnya adalah bagaimana ia menghadapi lawan dengan refleks dan power elite. Uraian seperti ini memperlihatkan bahwa setelah kemenangan awal, sorotan pada Haddon mulai bergeser dari sekadar “pendatang baru menjanjikan” menjadi “seberapa jauh dia bisa naik.”

Pada 15 November 2025 di UFC 322, Haddon semestinya melangkah ke ujian berikutnya, tetapi dinamika kartu pertarungan berubah. Dalam sebuah artikel menyebut Malcolm Wellmaker melakukan debut UFC sebagai pengganti singkat untuk Cody Haddon, yang berarti Haddon tersisih dari rencana laga itu. Detail ini kecil, tetapi menarik, karena menunjukkan realitas keras dunia UFC: karier petarung tidak hanya dibentuk oleh kemenangan dan kekalahan, tetapi juga oleh perubahan lawan, jadwal, dan momentum yang kadang bergeser di luar kendali mereka.

Secara teknik, Haddon terlihat seperti petarung yang sangat cocok dengan era bantamweight modern. Ia punya striking yang cukup keras untuk mencetak knockout, submission yang cukup matang untuk menutup laga saat lawan membuat kesalahan, dan ketenangan yang memungkinkannya menang angka. Dalam banyak kasus, petarung muda datang dengan satu kekuatan utama lalu butuh waktu lama untuk melengkapi permainan mereka. Haddon justru tampak sudah punya kerangka lengkap sejak awal, meski tentu masih terus berkembang. Hal ini yang membuat jalannya di UFC layak diikuti lebih jauh.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Cody Haddon belum punya ranking atau sabuk besar di UFC. Namun pencapaiannya tetap layak dihargai. Ia memiliki rekor profesional 8-1, memenangkan kontrak UFC lewat Dana White’s Contender Series Season 8, menjadi salah satu lulusan paling cepat memberi hasil di UFC, dan membuka karier Octagon-nya dengan kemenangan meyakinkan atas Dan Argueta. Untuk petarung berusia 27 tahun, fondasi seperti ini sangat kuat. Ia masih cukup muda untuk berkembang, tetapi sudah cukup matang untuk memberi kesan bahwa dirinya bukan sekadar nama pelengkap.

Pada akhirnya, Cody Haddon adalah kisah tentang petarung yang tidak datang untuk sekadar mencoba peruntungan. Ia datang dari Perth, dibentuk oleh Luistro Combat Academy, meniti jalur keras di regional Australia, lalu membuktikan diri di Contender Series dan UFC. Dengan rekor 8-1, gaya orthodox, dan kombinasi striking serta submission yang efektif, Haddon terlihat seperti petarung yang masih menyimpan banyak ruang untuk tumbuh. Ia mungkin belum menjadi nama besar, tetapi justru karena itulah ceritanya menarik. Jalan kariernya masih terbuka lebar, dan setiap langkah berikutnya akan semakin menentukan apakah ia hanya akan menjadi lulusan DWCS yang solid, atau berkembang menjadi salah satu bantamweight Australia paling penting di UFC.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...