Jakarta – Di dunia Muay Thai, ada petarung yang dikenal karena satu kemenangan besar, dan ada pula petarung yang dihormati karena sesuatu yang jauh lebih sulit dibangun: umur panjang, konsistensi, dan pengalaman yang ditempa dalam ratusan ronde pertarungan. Apiwat Sor Somnuk termasuk dalam kategori kedua. Ia bukan nama yang lahir dari sensasi sesaat, melainkan sosok yang membawa bobot tradisi Muay Thai Thailand ke panggung modern. Lahir pada 21 Agustus 1992 di Thailand, Apiwat dikenal sebagai petarung yang bernaung di Sor Somnuk, tampil di ajang ONE Championship, dan membawa gaya Muay Thai tradisional yang menekankan siku, lutut, tendangan, dan pukulan dalam kombinasi yang lengkap. Profil resmi ONE juga menegaskan bahwa ia adalah atlet asal Thailand yang aktif di ONE Friday Fights.
Yang membuat Apiwat menarik sejak awal adalah kenyataan bahwa ia datang dengan jam terbang yang sangat besar. Halaman event resmi ONE Friday Fights 142 menuliskan bahwa Apiwat masuk ke laga tersebut dengan 109 kemenangan karier dan 31 knockout, serta sedang berada dalam tiga kemenangan beruntun. Ini menunjukkan bahwa Apiwat adalah veteran Muay Thai dengan pengalaman yang sangat kaya.
Perjalanan Apiwat di ONE Championship menjadi gambaran menarik tentang bagaimana seorang veteran tradisional beradaptasi dengan panggung Muay Thai global. Profil resmi ONE menunjukkan bahwa ia telah mencatat sejumlah penampilan penting di ONE Friday Fights. Salah satu hasil awal yang tercatat adalah laga melawan ET Wankhongohm MBK di ONE Friday Fights 11 pada 31 Maret 2023, yang ditampilkan dalam daftar pertandingan resmi watch.onefc.com. Kehadiran namanya sejak fase awal ONE Friday Fights memperlihatkan bahwa Apiwat memang menjadi bagian dari gelombang petarung Thailand berpengalaman yang ikut menghidupkan format ini sejak masa-masa awal.
Tidak lama setelah itu, ia tampil lagi di ONE Friday Fights 17 pada 19 Mei 2023 melawan Denkriangkrai Singha Mawynn. Dari halaman matchup lawannya di ONE, tercatat bahwa Denkriangkrai memenangkan laga tersebut lewat split decision, yang berarti Apiwat harus menerima kekalahan tipis. Kekalahan semacam ini sering kali justru penting dalam membaca kualitas petarung. Ketika seorang atlet kalah tipis lewat split decision, itu biasanya menunjukkan pertarungan yang berlangsung sangat kompetitif. Bagi Apiwat, hasil itu menegaskan bahwa ia bukan petarung yang mudah dipatahkan, bahkan ketika hasil akhir tidak berpihak kepadanya.
Namun seperti banyak petarung veteran Thailand, Apiwat tidak membiarkan satu hasil negatif mendefinisikan jalannya. Ia terus bertarung dan perlahan membangun kembali momentumnya. Profil ONE menampilkan bahwa ia sempat kalah unanimous decision dari Watcharaphon Singha Mawynn di ONE Friday Fights 33, tetapi setelah itu ia bangkit dengan cara yang meyakinkan. Salah satu kemenangan yang sangat penting datang di ONE Friday Fights 47 saat ia menghentikan Elyes Kacem lewat KO ronde kedua pada 1:23. Kemenangan ini sangat berarti, karena menunjukkan bahwa Apiwat bukan hanya petarung teknis yang mengandalkan poin, tetapi juga punya daya rusak yang nyata ketika melihat momen yang tepat. Menang KO di panggung seperti ONE Friday Fights selalu memberi nilai tambah tersendiri, karena menegaskan ancaman seorang petarung di mata lawan-lawan berikutnya.
Setelah itu, Apiwat terus menambah lapisan penting pada narasi kariernya di ONE. Ia mencatat kemenangan majority decision atas Yodkritsada Sor Sommai di ONE Friday Fights 88, sebuah hasil yang menunjukkan bahwa ia mampu bertahan dalam duel yang rapat dan tetap meyakinkan dua juri untuk berpihak kepadanya. Lalu pada 23 Mei 2025, ia mengalahkan Jacob Thompson lewat unanimous decision di ONE Friday Fights 109 dalam laga 132 lbs Muay Thai. Hasil resmi event tersebut menegaskan kemenangan Apiwat dan memperlihatkan bahwa hingga pertengahan 2025, ia masih sangat kompetitif menghadapi lawan internasional. Bagi seorang petarung Thailand yang telah melewati begitu banyak pertandingan, kemenangan atas lawan dari luar negeri membawa makna tambahan: bukan sekadar hasil positif, tetapi juga bukti bahwa fondasi Muay Thai tradisional yang ia bawa masih sangat efektif di panggung global.
Kemenangan atas Jacob Thompson itu juga penting karena menjadi bagian dari laju yang kemudian dibawa Apiwat menuju salah satu laga terbesarnya di ONE. Menjelang ONE Friday Fights 142 pada 13 Februari 2026, halaman event resmi ONE menyebut bahwa Apiwat masuk ke laga utama dengan tiga kemenangan beruntun. Ia dijadwalkan menghadapi Panpadej NF Looksuan dalam laga utama Muay Thai flyweight. Status sebagai main event tidak datang begitu saja. Itu menunjukkan bahwa ONE melihat nilai besar pada nama Apiwat, baik dari sisi kualitas pertarungan maupun daya tariknya bagi penonton. Petarung yang dipercaya memimpin kartu acara biasanya bukan sekadar pengisi, melainkan figur yang dianggap mampu menjaga kualitas panggung utama.
Laga melawan Panpadej menjadi salah satu potret terbaik tentang siapa Apiwat sebenarnya. Dalam laporan resmi ONE, disebutkan bahwa pertarungan itu berlangsung ketat, dengan Panpadej mulai menemukan momentum terutama lewat clinch dan serangan lutut ke tubuh pada ronde kedua. Di ronde terakhir, Apiwat sempat mematahkan upaya flying knee Panpadej dengan kombinasi one-two yang tajam, menunjukkan bahwa bahkan di fase-fase akhir pertarungan ia masih punya akurasi dan ketenangan untuk merespons agresi lawan. Namun ketika kartu skor dibacakan, Panpadej menang lewat majority decision. Kekalahan ini memang menghentikan laju kemenangan Apiwat, tetapi tidak merusak gambaran utamanya: ia tetap tampil kompetitif, tetap memberi perlawanan keras, dan tetap terlihat sebagai veteran yang sulit ditaklukkan dengan mudah.
Justru dari sana, kekuatan naratif Apiwat sebagai petarung semakin terasa. Ia bukan sosok yang dibangun dari aura tak terkalahkan. Ia adalah petarung yang dibentuk oleh volume pertandingan, oleh benturan-benturan keras, oleh kemenangan yang meyakinkan dan kekalahan yang tetap kompetitif. Dalam Muay Thai, jenis karier seperti ini sering lebih dihormati daripada rekor yang tampak rapi di atas kertas. Seorang veteran dengan lebih dari seratus kemenangan membawa sesuatu yang tidak bisa diajarkan lewat teori semata: rasa, intuisi, dan kemampuan membaca pertarungan dari pengalaman bertahun-tahun. Apiwat tampaknya hidup dalam wilayah itu. Ia bukan hanya bertarung dengan tubuhnya, tetapi juga dengan memori panjang dari ratusan pertarungan yang sudah ia jalani.
Aspek paling menarik dari Apiwat Sor Somnuk mungkin justru terletak pada hubungannya dengan identitas gym dan tradisi. Nama Sor Somnuk pada dirinya bukan sekadar embel-embel. Dalam dunia Muay Thai Thailand, nama gym adalah warisan, identitas, dan semacam penanda budaya. Saat seorang petarung membawa nama gym ke ring, ia sedang membawa lebih dari dirinya sendiri. Ia membawa metode latihan, sejarah kecil kamp tersebut, dan kebanggaan orang-orang yang ikut membentuknya. Dalam konteks itu, Apiwat terasa seperti duta yang sangat pas bagi identitas Sor Somnuk: kuat, tradisional, dan tahan banting.
Kalau berbicara soal prestasi, angka rekor panjangnya jelas menjadi sorotan utama. Rekor ONE yang menyebut 109 kemenangan karier menegaskan bahwa ia memang berada di level veteran elite dengan pengalaman sangat luas. Selain itu, keberhasilannya tampil sebagai main event di ONE Friday Fights, mengalahkan nama-nama seperti Elyes Kacem, Yodkritsada Sor Sommai, dan Jacob Thompson, juga menambah bobot pada kiprahnya. Ia mungkin belum diposisikan sebagai superstar global, tetapi ia jelas merupakan salah satu petarung Thailand paling berpengalaman yang masih aktif dan relevan di panggung ONE.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda