Nongfahsai TOP PK Saenchai: Keteguhan Muay Thai Tradisional

Piter Rudai 27/04/2026 5 min read
Nongfahsai TOP PK Saenchai: Keteguhan Muay Thai Tradisional

Jakarta – Di panggung Muay Thai modern, ada petarung yang cepat mencuri perhatian lewat knockout besar, dan ada pula yang perlahan membangun namanya melalui konsistensi, ketenangan, dan kemampuan beradaptasi di laga-laga keras. Nongfahsai TOP PK Saenchai berada di jalur kedua itu. Ia adalah petarung Muay Thai asal Thailand, lahir pada 22 Mei 1996, yang dikenal aktif bertarung di panggung ONE Friday Fights sambil membawa nama besar PK Saenchai Muaythaigym, salah satu kamp paling disegani dalam dunia Muay Thai. Profil resmi ONE mencatat Nongfahsai berasal dari Thailand, berusia 29 tahun, memiliki tinggi 156 cm, dan mewakili PK Saenchai Muaythaigym.

Nongfahsai berkompetisi di kelas strawweight dengan rekor profesional 3 kemenangan dan 3 kekalahan. Ia terus aktif, terus diuji, dan terus bertahan dalam orbit kompetitif ONE Friday Fights. Salah satu momen penting dalam perjalanannya datang di ONE Friday Fights 79 pada September 2024, ketika ia mengalahkan Kanchanasiri Sitnayokwailampam lewat TKO ronde kedua pada menit 1:27. Kemenangan ini penting karena menunjukkan bahwa Nongfahsai bukan semata petarung yang mengandalkan poin dan keputusan juri. Ia juga punya kemampuan untuk meningkatkan tekanan, mematahkan ritme lawan, lalu menyelesaikan laga secara tegas. Bagi seorang petarung Muay Thai, kemenangan TKO di panggung seperti ONE Friday Fights memberi bobot tersendiri karena menunjukkan bahwa teknik tradisional yang ia bawa tetap punya daya rusak di level kompetitif tinggi.

Namun seperti banyak petarung lain di ONE Friday Fights, perjalanan Nongfahsai tidak bergerak lurus ke atas. Pada ONE Friday Fights 99 tanggal 7 Maret 2025, ia kalah unanimous decision dari Tangtang Sor Dechapan dalam laga 112 lbs Muay Thai. Kekalahan angka seperti ini sering kali lebih jujur daripada yang terlihat di atas kertas. Ia tidak selalu berarti seorang petarung tampil buruk. Sebaliknya, ia bisa berarti duel berlangsung kompetitif, tetapi ada detail-detail kecil dalam tempo, volume serangan, atau penguasaan ronde yang membuat juri akhirnya condong ke pihak lawan. Dalam konteks Nongfahsai, hasil ini memperlihatkan bahwa ia berada di lingkungan kompetisi yang sangat rapat, tempat satu atau dua momen kecil bisa membedakan kemenangan dan kekalahan.

Lalu datang salah satu bagian paling menarik dari narasinya, yakni pertarungan melawan Francisca Vera di ONE Friday Fights 113 pada Juni 2025. Di sini terdapat perbedaan data di halaman resmi ONE. Halaman event membuka laga itu dengan penanda “WIN” di sisi Nongfahsai, tetapi artikel hasil resmi ONE justru menuliskan bahwa Francisca Vera mengalahkan Nongfahsai via unanimous decision. Karena artikel hasil pertandingan biasanya lebih spesifik dan kontekstual, hasil itu lebih aman dibaca sebagai kekalahan keputusan bagi Nongfahsai. Yang jelas, terlepas dari inkonsistensi tampilan halaman, laga tersebut menegaskan bahwa ia terus dipasangkan dengan lawan internasional yang serius, dan itu sendiri menunjukkan bahwa ONE melihat nilai kompetitif pada dirinya.

Setelah itu, perjalanan Nongfahsai tetap penuh gelombang. Pada ONE Friday Fights 131 tanggal 31 Oktober 2025, ia kembali kalah lewat unanimous decision dari Gabriele Moram dalam laga atomweight Muay Thai. Hasil ini menunjukkan bahwa ia masih harus menghadapi lawan-lawan yang cukup kuat dan beragam, termasuk nama-nama internasional yang datang dengan gaya berbeda dari petarung Thailand tradisional. Pertarungan seperti ini penting dalam perkembangan seorang atlet, karena memaksa mereka menyesuaikan ritme, jarak, dan pola serangan terhadap lawan yang mungkin tidak bertarung dengan bahasa Muay Thai Thailand klasik.

Tetapi Nongfahsai tidak berhenti di sana. Pada ONE Friday Fights 148 & Inner Circle Fights tanggal 27 Maret 2026, ia bangkit dan meraih kemenangan unanimous decision atas Wang Tsz Ching di laga atomweight Muay Thai. Kemenangan ini sangat penting dari sudut pandang naratif. Setelah beberapa hasil yang tidak selalu berpihak kepadanya, ia berhasil kembali mengamankan kemenangan di panggung resmi ONE. Untuk petarung yang hidup di sistem kompetitif seperti ONE Friday Fights, kemampuan untuk kembali menang setelah hasil negatif adalah salah satu tanda paling jelas dari ketangguhan mental. Nongfahsai menunjukkan itu. Ia tetap bertahan, tetap bersaing, dan tetap bisa mengumpulkan kemenangan saat dibutuhkan.

Dari keseluruhan jalur yang terlihat, Nongfahsai tampak sebagai petarung yang dibangun oleh kesabaran dan pengalaman bertahap, bukan oleh ledakan instan. Ia punya kemenangan TKO yang menunjukkan ancaman finishing, tetapi juga cukup sering bertarung sampai keputusan juri. Ini memberi gambaran bahwa dirinya cukup nyaman bertarung dalam ritme Muay Thai yang lengkap: menyerang, membaca, mengontrol, lalu menyesuaikan diri ronde demi ronde. Petarung dengan profil seperti ini sering kali menarik untuk media olahraga, karena mereka membawa kombinasi antara teknik, ketahanan, dan cerita jatuh-bangun yang terus bergerak.

Aspek lain yang membuat Nongfahsai layak diperhatikan adalah perannya sebagai representasi petarung perempuan Thailand di panggung internasional. Muay Thai perempuan telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dan ONE Friday Fights menjadi salah satu panggung yang memberi ruang lebih besar bagi petarung wanita untuk dikenal luas. Dalam konteks itu, Nongfahsai adalah bagian dari gelombang penting tersebut. Ia membawa teknik tradisional, identitas gym besar, dan ketekunan untuk terus bersaing di level yang makin terbuka secara global. Bahwa ia masih aktif mendapat pertandingan dan terus muncul dalam kartu laga resmi menunjukkan bahwa namanya tetap relevan di lingkungan kompetitif itu.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Nongfahsai belum bisa disebut sebagai nama terbesar di divisinya. Namun prestasinya tetap layak dihargai. Ia telah menjadi bagian aktif dari ONE Friday Fights, mencatat kemenangan penting seperti TKO atas Kanchanasiri dan keputusan mutlak atas Wang Tsz Ching, serta membawa nama PK Saenchai Muaythaigym di panggung yang disaksikan audiens global. Lebih dari itu, ia juga punya nilai budaya yang kuat sebagai petarung yang menjaga bentuk tradisional Muay Thai, baik melalui gaya bertarung maupun unsur seremonial seperti wai kru. Bagi banyak pembaca, justru kombinasi antara tradisi dan kompetisi modern inilah yang membuat sosok Nongfahsai terasa menarik.

Pada akhirnya, Nongfahsai TOP PK Saenchai adalah kisah tentang petarung yang terus menegaskan dirinya lewat proses. Ia lahir pada 22 Mei 1996, datang dari Thailand, tumbuh dalam sistem gym legendaris PK Saenchai, dan bertarung dengan bahasa Muay Thai yang khas: kombinasi tendangan, pukulan, clinch, serta disiplin teknik yang tidak dibangun dalam semalam. Rekornya mungkin mengalami pasang surut, dan detail divisinya pun terlihat bergeser dari strawweight ke atomweight dalam beberapa laga resmi terbaru, tetapi inti kisahnya tetap sama. Nongfahsai adalah petarung yang terus bertahan di panggung keras ONE Friday Fights, dan selama itu terus terjadi, namanya akan tetap layak diikuti oleh siapa pun yang mencintai Muay Thai sebagai olahraga sekaligus warisan budaya.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...