Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang datang dengan sorotan besar sejak awal, dan ada pula yang membangun dirinya dari gym, dari sirkuit regional, lalu dari keyakinan bahwa kerja keras pada akhirnya akan membuka jalan. Aleksa Camur termasuk dalam kelompok kedua. Ia lahir pada 25 September 1995 di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, lalu pindah ke Amerika Serikat saat masih kecil. Dalam data publik yang tersedia, ia dikenal sebagai petarung light heavyweight, bertarung dengan stance orthodox, memiliki tinggi sekitar 185 cm, reach sekitar 188 cm, dan berlatih di Strong Style Fight Team di Ohio. Rekor profesional MMA-nya saat ini tercatat 6 kemenangan dan 3 kekalahan.
Kisah Camur terasa menarik karena ia bukan sekadar petarung Amerika biasa. Ia membawa latar diaspora Balkan, tumbuh di lingkungan baru di Amerika Serikat, lalu menemukan jalan hidupnya lewat olahraga tarung. Ringkasan biografi publik menyebut keluarganya pindah ke Amerika saat ia berusia sekitar dua tahun, dan pada usia 16 tahun ia mulai tertarik berlatih di Strong Style setelah melihat keberhasilan gym itu melahirkan nama-nama seperti Stipe Miocic dan Jessica Eye. Sebelum benar-benar fokus di MMA, Camur juga menorehkan prestasi di tinju amatir dengan meraih tiga gelar Golden Gloves di Ohio. Ini memberi gambaran jelas tentang fondasi awalnya: striking lebih dulu, lalu berkembang ke MMA.
Latar seperti itu penting untuk memahami siapa Aleksa Camur di atas arena. Ia bukan petarung yang dibentuk pertama kali oleh grappling tradisional atau jiu-jitsu. Ia datang dari basis pukulan, timing, dan keberanian bertukar serangan. Tidak heran jika distribusi kemenangannya sangat condong ke striking. Dari enam kemenangan profesionalnya, lima diraih lewat KO/TKO dan satu lewat keputusan juri, tanpa kemenangan submission. Angka ini menegaskan identitasnya sebagai petarung yang lebih nyaman menyelesaikan laga lewat pukulan daripada mencari pertarungan bawah.
Karier profesional Camur dimulai pada 2017, dan ia langsung membangun nama lewat panggung regional di Ohio. Riwayat laga yang dirangkum berbagai sumber menunjukkan bahwa ia membuka kariernya dengan kemenangan KO atas Randy Tran di Iron Tiger Fight Series 76, lalu menambah kemenangan TKO atas David White di Iron Tiger Fight Series 78, Allen Bose di Honor FC 3, dan Marvin Skipper di Honor FC 6. Polanya langsung terbaca sejak awal: Camur bukan petarung yang suka berlama-lama. Ia datang, menekan, lalu mencoba mengakhiri.
Salah satu titik balik terbesar dalam perjalanannya datang pada 30 Juli 2019, saat ia tampil di Dana White’s Contender Series Season 3, Episode 6 melawan Fabio Cherant. Di laga itulah Aleksa Camur benar-benar memperkenalkan dirinya ke radar UFC. Ia menang lewat TKO ronde kedua pada 0:48, dan kemenangan itu datang dengan cara yang sangat mencolok: flying knee diikuti pukulan. Rangkuman publik lain menandai momen itu sebagai salah satu highlight besar DWCS minggu tersebut, dan kemenangan itu langsung memberinya kontrak UFC.
Debut Aleksa Camur di UFC datang pada 18 Januari 2020 di UFC 246, menghadapi Justin Ledet. Ia memenangkan laga itu lewat unanimous decision, dan hasil tersebut membuatnya membuka karier UFC dengan catatan 1-0. Menariknya, kemenangan ini memberi lapisan baru pada citranya. Setelah sebelumnya lebih dikenal sebagai finisher cepat, melawan Ledet ia menunjukkan bahwa ia juga mampu menjaga kedisiplinan dan menuntaskan tiga ronde penuh. Bagi petarung yang baru masuk UFC, itu adalah sinyal positif: ia bukan sekadar pencetak highlight, tetapi juga cukup matang untuk menang dengan pendekatan yang lebih sabar.
Namun seperti banyak petarung lain, perjalanan di UFC tidak selalu mengikuti garis naik. Pada UFC 253 tanggal 27 September 2020, Camur menghadapi William Knight dan untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya harus menerima kekalahan, kalah lewat unanimous decision. Lalu pada 19 Juni 2021, ia menghadapi Nicolae Negumereanu di UFC on ESPN: The Korean Zombie vs. Ige dan kembali kalah, kali ini lewat split decision. Beberapa laporan publik menandai laga melawan Negumereanu sebagai kontroversial karena adanya tuduhan fence grabbing berulang. Terlepas dari kontroversi itu, hasil resmi tetap tercatat sebagai kekalahan split decision.
Dua kekalahan beruntun itu menjadi fase yang sangat menentukan dalam kariernya. Banyak petarung terlihat menjanjikan saat semuanya berjalan baik, tetapi kualitas mereka yang sesungguhnya baru terlihat saat harus hidup dengan kegagalan, kritik, dan jeda. Dalam kasus Camur, fase ini tampak memperlambat momentumnya. Ia sempat dijadwalkan menghadapi John Allan pada UFC 268 di November 2021, tetapi mundur karena cedera yang tidak diungkap ke publik, dan akhirnya posisinya digantikan petarung lain. Kehilangan momentum seperti ini sering kali sangat berat, apalagi untuk atlet yang sedang berusaha kembali ke jalur kemenangan.
Setelah cukup lama tidak bertanding, Camur kembali ke Octagon pada 5 Agustus 2023 di UFC on ESPN: Sandhagen vs. Font, menghadapi Tanner Boser. Hasilnya tidak sesuai harapan. Ia kalah lewat unanimous decision, yang membuat rekor UFC-nya turun menjadi 1 kemenangan dan 3 kekalahan. Tak lama setelah laga itu, beberapa laporan publik menyebut bahwa Camur kemudian dilepas dari roster UFC. Dengan demikian, fase UFC-nya berakhir dengan rekor keseluruhan profesional 6-3.
Dari sisi prestasi, Aleksa Camur memang tidak sempat meraih ranking atau titel besar di UFC. Namun itu tidak berarti perjalanannya tidak berarti. Ia berhasil menembus organisasi MMA terbesar di dunia, memenangkan debutnya di UFC, dan menciptakan salah satu momen paling diingat dari DWCS Season 3. Bagi banyak petarung regional, mencapai titik itu saja sudah merupakan pencapaian besar. Dan bagi Camur, itu menjadi penanda bahwa bakat dan daya ledaknya memang nyata, bahkan jika kariernya di UFC tidak berakhir sepanjang yang dibayangkan banyak orang.
Pada akhirnya, Aleksa Camur adalah potret petarung yang lahir dari perpaduan bakat, keberanian, dan jalan karier yang keras. Ia lahir di Sarajevo, tumbuh di Amerika Serikat, dibentuk oleh Strong Style Fight Team, menjuarai Golden Gloves, lalu menembus UFC dengan kemenangan flying knee yang spektakuler. Ia mungkin tidak bertahan lama di panggung utama, tetapi kisahnya tetap punya tempat tersendiri dalam dunia MMA: tentang petarung yang sempat menunjukkan kilatan besar, menghadapi kerasnya kompetisi elit, dan tetap dikenang karena cara ia memperkenalkan dirinya ke dunia.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda