Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang naik cepat karena sensasi, dan ada pula yang membangun nama mereka dari sesuatu yang lebih berat nilainya: umur panjang, pengalaman, dan kemampuan untuk tetap relevan ketika generasi baru terus bermunculan. Song Min Jong termasuk dalam kelompok kedua. Petarung asal Korea Selatan ini lahir pada 16 November 1991, dan hingga kini dikenal sebagai salah satu atlet paling berpengalaman yang pernah beredar di divisi-divisi ringan ONE Championship. Profil resmi ONE mencatat Song sebagai atlet Korea Selatan berusia 34 tahun, memiliki tinggi 172 cm, bernaung di Monster House, dan bertarung terutama di flyweight serta bantamweight.
Di luar itu, Song juga punya identitas yang cukup menarik soal julukan. Ia tampil dengan nama “Double Hearts” Song Min Jong, sementara beberapaa sumber menyebutnya sebagai “Running Man” Song Min Jong. Kedua julukan ini memberi kesan berbeda, tetapi sama-sama cocok dengannya. “Double Hearts” terasa seperti simbol daya tahan dan semangatnya, sementara “Running Man” menggambarkan mobilitas, ritme, dan etos kerja keras yang memang sangat terasa dalam cara bertarungnya.
Karier Song menjadi menarik justru karena ia bukan petarung yang tumbuh dalam satu musim. Ia adalah veteran yang benar-benar ditempa oleh waktu. ONE menulis bahwa ia sudah memulai karier profesional pada 2010, mendominasi sirkuit regional Korea Selatan, dan pada 2015 berhasil menjadi South Korean Mixed Martial Arts Champion setelah mengalahkan dua contender top flyweight negaranya. Artikel “5 Key Facts” dari ONE juga menyebut bahwa ia sempat melalui jeda panjang sekitar tiga setengah tahun, sebelum kembali tampil di ONE Warrior Series pada 2019 dan langsung menunjukkan bahwa dirinya belum habis.
Fase ONE Warrior Series itu sangat penting dalam membaca perkembangan Song Min Jong. ONE menyebut bahwa di sana ia meraih sepasang kemenangan menarik, termasuk salah satunya di OWS 8: Japan vs. The World, ketika ia mengalahkan Kodai “Jake” Murata lewat unanimous decision. Artikel feature ONE kemudian menulis bahwa ia masuk ke laga besar berikutnya dengan modal empat kemenangan beruntun, tanda bahwa ia benar-benar berhasil membangun ulang momentumnya setelah jeda panjang dan kekalahan debut di masa lalu.
Momentum itu membawanya ke laga penting melawan mantan juara dunia flyweight, Geje Eustaquio, di ONE: INSIDE THE MATRIX III pada November 2020. Namun di sini Song harus menerima kenyataan bahwa level tertinggi menuntut lebih dari sekadar semangat. Eustaquio mengalahkannya lewat unanimous decision, dan hasil itu menghentikan laju empat kemenangan beruntun yang dibawa Song ke pertarungan tersebut. Meski kalah, laga ini tetap penting, karena Song mendapatkan pengalaman menghadapi mantan juara dunia dan, menurut artikelnya sendiri, belajar banyak tentang mentalitas seorang juara dari duel itu.
Justru dari sanalah salah satu sisi paling menarik dari Song terlihat: ia bukan petarung yang mudah pecah setelah kalah. Beberapa bulan kemudian, pada ONE: BATTLEGROUND III tanggal 27 Agustus 2021, ia menghadapi rising star Myanmar, Tial Thang, dan berhasil menang lewat unanimous decision. Artikel resmi ONE bahkan menulis bahwa Song menjadi orang pertama yang memberikan kekalahan kepada Tial Thang dalam duel bantamweight yang keras. Kemenangan ini sangat penting karena memperlihatkan dua hal: Song masih punya kualitas untuk menghentikan laju petarung muda, dan ia juga cukup matang untuk mengelola laga tiga ronde saat lawan datang dengan momentum besar.
Salah satu penampilan terbaik Song Min Jong datang pada ONE 156: Eersel vs. Sadikovic tanggal 22 April 2022, saat ia menghadapi Chen Rui. Laga ini sangat cocok dengan gaya campuran yang menggabungkan striking dan submission. ONE menulis bahwa semula kedua petarung ini diperkirakan akan bertukar pukulan, tetapi Song justru melakukan penyesuaian cerdas. Setelah menyerap tekanan dan beberapa pukulan keras dari Chen Rui, ia beralih ke grappling, menjatuhkan lawannya, lalu mengunci rear-naked choke pada ronde kedua. Kemenangan submission ini memberinya kemenangan kedua beruntun dan juga kemenangan profesional ke-13 saat itu. Bahkan setelah laga, ONE menulis bahwa Song sempat mempertimbangkan pensiun, tetapi kemenangan itu membuatnya ingin “mencoba sekali lagi.”
Namun, seperti banyak veteran lain, perjalanan Song di ONE tetap dipenuhi pasang surut. Profil resminya menampilkan salah satu hasil terbaru yang cukup berat, yakni kekalahan dari Carlo Bumina-ang di ONE Fight Night 28 lewat TKO ronde pertama hanya dalam 53 detik. Artikel “5 Biggest Takeaways” dari ONE menyebut kemenangan Bumina-ang atas Song sebagai hasil yang memberi divisi bantamweight ancaman baru, yang secara tidak langsung menegaskan bahwa Song saat itu sedang menjadi ujian penting bagi generasi baru. Kekalahan ini memang pahit, tetapi juga menunjukkan sesuatu yang penting: meskipun tidak lagi muda, Song masih terus dipasangkan dengan petarung yang dianggap prospek berbahaya.
Bila berbicara soal prestasi, mungkin Song Min Jong bukan juara dunia ONE. Namun itu tidak menghapus nilai besar dari perjalanannya. Ia adalah mantan South Korean MMA Champion, veteran yang memulai karier profesional pada 2010, pernah membangun empat kemenangan beruntun menjelang laga besar, meraih kemenangan penting atas Tial Thang, dan menunjukkan kualitas submission yang matang saat menaklukkan Chen Rui. Semua ini cukup untuk menempatkannya sebagai salah satu nama yang punya jejak kuat dalam sejarah MMA Korea Selatan di ONE.
Pada akhirnya, Song Min Jong adalah potret petarung yang kariernya dibangun oleh daya tahan. Ia bukan sosok yang hidup dari sorotan sesaat, melainkan atlet yang terus kembali, terus belajar, dan terus berusaha menjaga tempatnya di organisasi terbesar Asia. Lahir pada 16 November 1991, bertarung di bantamweight dan flyweight, mengandalkan striking serta submission, dan membawa rekor profesional 9 kemenangan dan 8 kekalahan, ia tetap menarik justru karena perjalanannya terasa nyata: ada kemenangan penting, ada kekalahan menyakitkan, ada momen hampir pensiun, dan ada kebangkitan yang membuat namanya tetap relevan. Dalam dunia MMA, kisah seperti itu sering kali jauh lebih berharga daripada catatan yang terlalu mulus.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda