Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang dikenal karena gelar, ada yang diingat karena knockout spektakuler, dan ada pula yang dihormati karena satu hal yang jauh lebih sulit dijaga: ketahanan untuk terus bertarung di level tertinggi. Devin Terrell Clark termasuk dalam kelompok terakhir itu. Ia lahir pada 12 April 1990 di Sioux Falls, South Dakota, Amerika Serikat, dan selama bertahun-tahun menjadi salah satu sosok pekerja keras di divisi light heavyweight UFC. Rekor profesional mencatat Clark bertarung di kelas light heavyweight, memiliki tinggi 6’0”, berat bertanding sekitar 204 lbs, reach 75 inci, stance orthodox, dan rekor profesional 14 kemenangan serta 9 kekalahan.
Julukannya, “Brown Bear,” terasa sangat cocok dengan gaya bertarung dan perjalanan kariernya. Devin Clark bukan petarung yang hidup dari satu momen sensasional. Ia lebih sering tampil sebagai sosok yang keras, tahan banting, dan siap bekerja di area kotor pertarungan. Ia digambarkan sebagai petarung boxer/wrestler. Sebuah sumber menandai gaya bertarungnya sebagai wrestling, sementara statistik menunjukkan bahwa dari 14 kemenangan profesionalnya, 4 diraih lewat KO/TKO, 1 lewat submission, dan 9 lewat keputusan juri. Artinya, Clark bukan sekadar petarung yang menunggu satu pukulan penentu, tetapi atlet yang sering memenangkan laga lewat kerja keras, kontrol, dan durasi penuh.
Perjalanan Devin Clark menuju UFC tidak datang lewat jalur mewah. Sebelum masuk ke organisasi terbesar dunia, ia lebih dulu membangun namanya di panggung regional Amerika Serikat. Salah satu tonggak penting dalam fase itu datang saat ia bertarung di Resurrection Fighting Alliance (RFA), promosi yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu jalur kredibel menuju UFC. Sebuah sumber menyorot momen ketika Clark meraih gelar RFA light heavyweight, menulis bahwa ia “now has some hardware to go along with his perfect professional record.” Pencapaian seperti ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa ia tidak datang ke UFC sebagai petarung sembarangan, tetapi sebagai juara regional yang sudah teruji.
Debut resminya di UFC terjadi pada 23 Juli 2016. Masuk ke UFC dari RFA pada saat itu adalah validasi besar bagi Clark. Ia datang sebagai petarung dengan fondasi kuat dari gulat dan striking sederhana namun efektif, lalu mulai meniti jalannya di divisi light heavyweight yang terkenal keras. Ia bukan petarung yang langsung didorong menjadi bintang. Sebaliknya, kariernya dibentuk oleh pertarungan demi pertarungan, oleh lawan-lawan berat, dan oleh tekanan untuk tetap relevan di divisi yang sangat fisikal.
Salah satu hal yang membuat karier Devin Clark menarik adalah kenyataan bahwa ia tidak pernah benar-benar terlihat seperti petarung yang “mudah”. Bahkan ketika kalah, ia sering kalah setelah memaksa lawan bekerja keras. Data mencatat kekalahannya tersebar dalam berbagai bentuk: 3 kali KO/TKO, 4 kali submission, dan 3 kali keputusan juri. Ini menunjukkan bahwa sepanjang kariernya, Clark telah menghadapi banyak tipe lawan dan banyak tipe ancaman. Ia pernah dipukul jatuh, pernah dikunci, dan pernah kalah angka, tetapi ia juga terus kembali, terus bertarung, dan terus mempertahankan tempatnya dalam sirkulasi level UFC dan profesional.
Salah satu momen penting dalam karier UFC-nya datang pada 28 November 2020 saat ia menghadapi Anthony Smith. Data fightcenter mencatat bahwa Clark menang lewat triangle choke, sebuah hasil yang langsung menonjol karena tidak banyak orang mengasosiasikan dirinya dengan submission. Kemenangan ini penting karena menunjukkan sisi lain dari dirinya. Di balik identitas boxer/wrestler yang keras dan lurus, Clark tetap punya kapasitas untuk memanfaatkan peluang di grappling dan mengakhiri laga dengan teknik yang bersih. Untuk seorang petarung yang lebih sering dikenal karena kerja kasar dan kontrol, kemenangan submission seperti ini memberi dimensi tambahan pada kisahnya.
Kemenangan lain yang cukup penting datang pada 4 Februari 2023, ketika ia mengalahkan Da Un Jung lewat unanimous decision di UFC Fight Night: Lewis vs. Spivac. Hasil resmi event di UFC menampilkan Clark bereaksi setelah kemenangan itu, dan kemudian menulis bahwa hasil tersebut membuatnya tetap relevan sebagai “good, tough test” bagi petarung-petarung light heavyweight lain. Kalimat ini sangat mencerminkan posisi Devin Clark dalam kariernya: mungkin bukan bintang utama divisi, tetapi sosok yang selalu bisa menguji siapa pun.
Namun karier UFC Clark juga penuh dengan benturan keras. Ia pernah kalah cepat dari Ion Cutelaba, kalah TKO dari Azamat Murzakanov, dan kalah angka dari Marcin Prachnio pada 10 Februari 2024. Sebuah sumber masih menampilkan laga melawan Prachnio sebagai pertarungan terakhirnya di UFC, dan hasilnya adalah unanimous decision loss. Setelah itu, jejak publik terbaru membuat kariernya tampak memasuki fase baru. Data kini menampilkan Clark di class heavyweight dengan afiliasi Elevation Fight Team, serta rekor 14-10, yang menunjukkan bahwa karier profesionalnya terus berjalan dan tidak berhenti hanya karena fase UFC-nya melambat.
Di sinilah kekuatan naratif Devin Clark terasa paling jelas. Ia bukan petarung yang dibentuk oleh kesempurnaan statistik. Justru sebaliknya, kisahnya hidup karena ia adalah petarung yang harus bertahan dari banyak hal: tekanan divisi yang berat, lawan-lawan kuat, perubahan bentuk tubuh, dan ekspektasi yang tidak pernah terlalu memanjakannya. Bahkan tercatat timnya sebagai Elevation Fight Team, bukan lagi afiliasi lama, sesuatu yang menandakan bahwa perjalanan seorang petarung profesional kadang juga menuntut perubahan lingkungan demi terus bertahan.
Secara teknik, Devin Clark selalu terasa sebagai petarung yang sangat “Amerika” dalam arti klasik. Ia mengandalkan fondasi gulat, tekanan clinch, kerja tempel, dan striking seperlunya untuk membuka jalan. Ia memang bukan striker paling flamboyan, tetapi ia punya gaya bertarung yang sangat fungsional. Kemenangan-kemenangannya lewat keputusan juri yang dominan menunjukkan bahwa ia nyaman bekerja dari kontrol, bukan dari kemegahan. Dalam MMA, terutama di light heavyweight, gaya seperti ini bisa sangat efektif karena banyak petarung besar cenderung mencari ledakan cepat, sementara Clark justru bisa membuat laga menjadi tidak nyaman dan melelahkan.
Pada akhirnya, Devin Terrell Clark adalah kisah tentang petarung yang membangun warisan lewat ketangguhan. Lahir pada 12 April 1990 di Sioux Falls, South Dakota, ia meniti jalannya dari Resurrection Fighting Alliance ke UFC, lalu menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai sosok pekerja keras di divisi light heavyweight. Rekornya mungkin tidak rapi, tetapi justru di situlah kisahnya terasa nyata. Ia adalah “Brown Bear”: keras, tahan uji, dan tidak mudah disingkirkan begitu saja. Dalam dunia MMA, tidak semua orang mendapat kehormatan sebagai petarung yang selalu berbahaya. Devin Clark mendapatkannya.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda