Joanne Wood: Petarung Skotlandia Di UFC

Piter Rudai 11/05/2026 5 min read
Joanne Wood: Petarung Skotlandia Di UFC

Jakarta – Di antara nama-nama penting dalam sejarah divisi flyweight wanita UFC, Joanne Wood menempati tempat yang unik. Ia bukan hanya petarung asal Skotlandia yang lama bertahan di level tertinggi, tetapi juga salah satu figur yang membantu membuka jalan bagi lebih banyak atlet perempuan dari Inggris Raya untuk dipercaya di panggung global. Lahir pada 23 Desember 1985 di Irvine, Skotlandia, petarung yang lahir dengan nama Joanne Calderwood dan kini dikenal sebagai Joanne Wood ini membangun karier lewat disiplin, keberanian, dan gaya bertarung yang sangat dipengaruhi oleh Muay Thai. Profil resmi UFC mencatatnya sebagai atlet women’s flyweight, dengan rekor profesional 17 kemenangan dan 8 kekalahan, stance orthodox, tinggi sekitar 168 cm, serta julukan “Jojo.”

Yang membuat Joanne Wood menarik sejak awal adalah fakta bahwa ia tidak dibentuk oleh satu kekuatan semata. Secara identitas, ia dikenal sebagai striker dengan akar Muay Thai yang kuat, tetapi data kariernya menunjukkan bahwa ia juga memiliki fondasi Brazilian Jiu-Jitsu, bahkan tercatat sebagai sabuk ungu di sejumlah profil publik. Distribusi kemenangan dan kekalahannya menjelaskan bentuk permainannya dengan cukup jelas: dari 17 kemenangan profesionalnya, 5 diraih lewat KO/TKO, 1 lewat submission, dan 11 lewat keputusan juri, sementara dari 8 kekalahannya, 5 datang lewat submission dan 3 lewat keputusan. Itu berarti Joanne adalah petarung yang hidup dari striking, volume, ritme, dan manajemen jarak, tetapi tidak pernah benar-benar lepas dari kebutuhan untuk menghadapi ancaman grappling lawan di level tertinggi.

Perjalanan Joanne menuju UFC juga tidak muncul dari ruang kosong. Sebelum masuk ke organisasi terbesar dunia pada 2014, ia sudah lebih dulu membangun reputasi sebagai petarung Muay Thai elite dan nama kuat di sirkuit regional MMA. Ia sempat berkarier di ajang seperti Invicta FC dan sebelumnya menorehkan nama dalam dunia striking, sesuatu yang kemudian menjadikan dirinya dikenal sebagai salah satu striker wanita paling khas dari Skotlandia. Profil ringkas publik juga menunjukkan bahwa sebelum benar-benar menetap di level flyweight, ia sempat berkompetisi di strawweight, lalu kemudian berkembang menjadi salah satu nama paling dikenal di 125 lbs.

Perjalanan Joanne di UFC dipenuhi pertarungan penting melawan nama-nama kuat. Salah satu fase yang sangat signifikan terjadi saat ia pindah dan benar-benar menetap di divisi flyweight. Setelah sempat bergeser dari strawweight, ia meraih kemenangan penting atas Kalindra Faria lewat submission pada 25 Agustus 2018, lalu menang atas Ariane Lipski pada 19 Januari 2019, dan menambah kemenangan atas Andrea Lee pada 7 September 2019. Rangkaian hasil ini penting karena menegaskan bahwa Joanne bukan sekadar striker veteran yang bertahan hidup, melainkan petarung yang benar-benar mampu beradaptasi dan tetap kompetitif saat peta divisi berubah.

Di titik tertentu, Joanne Wood bahkan berhasil mencapai fase ketika ia menjadi penantang yang sah untuk gelar. Ia pernah dijadwalkan menghadapi Valentina Shevchenko untuk perebutan gelar UFC Women’s Flyweight Championship pada 2020. Fakta bahwa UFC sampai menempatkannya di posisi itu menunjukkan betapa serius organisasi memandang pencapaiannya. Walau jalan menuju laga gelar itu tidak berakhir dengan sabuk di tangannya, keberadaan Joanne di orbit perebutan gelar sudah menjadi bukti besar bahwa dirinya pernah berada sangat dekat dengan puncak divisi.

Namun seperti banyak karier panjang lainnya, jalan Joanne tidak pernah benar-benar mulus. Ia mengalami naik turun yang sangat manusiawi. Dalam beberapa tahun terakhir, ia sempat kalah submission dari Alexa Grasso pada 26 Maret 2022, sebuah hasil yang kembali memperlihatkan kerentanan lamanya terhadap grappling elit lawan. Tetapi justru dari sana, Joanne menunjukkan kualitas veteran yang sesungguhnya: ia tidak tenggelam. Sebaliknya, ia kembali dan mencatat kemenangan atas Luana Carolina lewat split decision pada 18 Maret 2023, lalu kembali menang atas Maryna Moroz lewat split decision pada 9 Maret 2024. Dua kemenangan ini sangat penting karena datang di fase akhir kariernya, saat banyak orang sudah mulai berbicara tentang penurunan. Joanne justru menutup perjalanannya dengan dua hasil positif yang menegaskan bahwa ia masih kompetitif sampai akhir.

Kemenangan atas Maryna Moroz terasa sangat emosional karena menghadirkan nuansa “lingkaran penuh.” Beberapa laporan media menyebut laga itu sebagai momen yang sangat pas untuk menutup karier, mengingat Moroz pernah menjadi bagian penting dari perjalanan Joanne di masa lalu. Bahwa Joanne berhasil keluar sebagai pemenang dalam laga tersebut memberi rasa penutupan yang indah: seorang veteran, seorang pelopor, mengakhiri langkahnya bukan dengan kekalahan, melainkan dengan kemenangan yang harus diperjuangkan selama tiga ronde.

Salah satu hal paling menarik dari Joanne Wood adalah bagaimana ia menua sebagai petarung. Banyak atlet menggantungkan diri pada ledakan fisik yang menurun seiring waktu. Joanne justru membangun kariernya dari hal-hal yang lebih tahan lama: teknik dasar Muay Thai, kontrol jarak, volume serangan, dan disiplin strategis. Itulah sebabnya ia tetap relevan bahkan ketika usianya sudah memasuki akhir 30-an. FightMatrix masih menempatkannya sebagai pemilik rekor UFC 9-8, sebuah angka yang menegaskan betapa panjang dan stabil perjalanannya di organisasi terbesar dunia.

Di luar arena, Joanne juga menunjukkan sisi manusiawi yang membuat kisahnya semakin kuat. Dalam sebuah laporan People pada 2024, ia berbicara terbuka soal perjuangannya menghadapi masalah kesuburan, keguguran, dan proses IVF. Ia bahkan menyebut pengalaman itu lebih berat daripada pertarungan mana pun yang pernah ia jalani. Pengakuan seperti ini memberi kedalaman pada sosok “Jojo.” Ia bukan hanya petarung tangguh di dalam Octagon, tetapi juga seseorang yang menghadapi pertarungan hidup dengan kejujuran dan keberanian yang sama.

Kalau berbicara soal prestasi, Joanne Wood mungkin tidak menutup karier dengan sabuk juara UFC. Tetapi warisannya tetap sangat kuat. Ia masuk UFC pada 2014, membangun rekor profesional 17-8, menjadi salah satu nama penting di flyweight wanita, sempat berada di orbit perebutan gelar, dan menutup karier dengan dua kemenangan beruntun. Ia juga dikenal sebagai striker Muay Thai dengan identitas yang sangat jelas, sesuatu yang tidak mudah dipertahankan dalam olahraga yang semakin kompleks secara teknik. Profil resmi UFC sendiri masih menegaskan angka-angka penting itu: 17 kemenangan, 8 kekalahan, 5 KO, 1 submission, dan empat penyelesaian ronde pertama dalam karier profesionalnya.

Pada akhirnya, Joanne Wood adalah kisah tentang petarung yang membangun kehormatan lewat konsistensi. Ia lahir di Irvine, Skotlandia, bertarung dengan identitas Muay Thai yang kuat, berkembang dari strawweight ke flyweight, dan menghabiskan bertahun-tahun sebagai nama yang selalu relevan. Ia tidak selalu datang dengan sorotan paling besar, tetapi ia bertahan lebih lama daripada banyak orang lain. Dan di dunia MMA, itu sendiri adalah bentuk kehebatan yang tidak bisa diremehkan. Joanne Wood mungkin akan selalu dikenang sebagai “Jojo,” tetapi lebih dari itu, ia akan diingat sebagai salah satu perintis penting flyweight wanita UFC dari Skotlandia.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...