Perjalanan Josh Parisian Dari Contender Series Ke Panggung UFC

Piter Rudai 13/05/2026 5 min read
Perjalanan Josh Parisian Dari Contender Series Ke Panggung UFC

Jakarta – Di kelas heavyweight, banyak petarung datang dengan aura besar karena ukuran tubuh, kekuatan pukulan, atau cerita cepat yang langsung mengantar mereka ke panggung utama. Namun Josh Parisian adalah tipe petarung yang jalannya terasa lebih keras, lebih panjang, dan karena itu justru lebih menarik. Ia lahir pada 28 Juni 1989 di Martinsburg, West Virginia, Amerika Serikat, lalu membangun kariernya sebagai petarung kelas berat dengan identitas yang sangat jelas: striker orthodox yang percaya pada tekanan, daya tahan, dan kemampuan mengakhiri laga dengan pukulan. Profil rekornya saat ini tercatat 16 kemenangan dan 9 kekalahan, dengan sebagian besar kemenangan datang lewat KO/TKO.

Yang membuat kisah Josh Parisian menarik bukan sekadar karena ia sempat masuk UFC, tetapi karena ia menempuh perjalanan itu lewat proses yang tidak singkat. Sebelum resmi debut di UFC pada 28 November 2020, Parisian sudah lebih dulu berkelana di panggung regional Amerika Serikat dan bahkan sempat tampil di Eropa. Sebuah data mencatat bahwa ia aktif bertarung di promotor seperti LFA, WXC, Smuggler’s Run, Ares, hingga Dana White’s Contender Series, sambil membangun reputasi sebagai heavyweight yang bisa mengakhiri pertarungan lebih cepat daripada kebanyakan lawannya. Jejak itu penting karena menunjukkan bahwa Parisian bukan petarung yang tiba-tiba muncul di radar UFC tanpa fondasi. Ia benar-benar dibentuk dari pengalaman yang bertumpuk.

Salah satu momen paling penting dalam kariernya datang sebelum masuk UFC, tepatnya di Dana White’s Contender Series 2020: Week 3. Pada 18 Agustus 2020, Josh Parisian menghadapi Chad Johnson dan menang lewat KO ronde pertama pada 3:43. Kemenangan ini menjadi tiket resminya menuju UFC. Bagi petarung heavyweight, menang di Contender Series lewat knockout ronde pertama selalu punya arti besar. Itu bukan cuma soal hasil, tetapi juga soal bagaimana ia membuka pintu. Parisian tidak membiarkan malam itu diputuskan juri. Ia mengambil nasibnya sendiri dengan pukulan.

Namun kisah Parisian juga menarik karena Contender Series bukan pertama kalinya ia mencoba menarik perhatian UFC. Data mencatat bahwa ia pernah tampil di Dana White’s Tuesday Night Contender Series pada 2018 dan justru menang atas Greg Rebello lewat KO (spinning backfist) pada ronde pertama. Meski kemenangan itu sangat impresif, jalan menuju kontrak UFC ternyata belum langsung terbuka saat itu. Fakta ini memberi warna penting pada narasinya: Parisian harus membuktikan diri lebih dari sekali. Ia bukan petarung yang diberi kesempatan hanya karena satu malam. Ia harus terus datang, terus menang, lalu baru benar-benar diterima.

Debut resminya di UFC akhirnya datang pada 28 November 2020 di UFC on ESPN 18: Smith vs. Clark. Lawannya adalah Parker Porter, dan malam itu tidak berjalan seperti yang diharapkannya. Parisian kalah lewat unanimous decision setelah tiga ronde. Kekalahan debut seperti ini penting karena memberi gambaran tentang kerasnya transisi dari regional ke level UFC. Ia bukan lagi hanya menghadapi lawan yang bisa dihabisi cepat dengan power semata. Ia kini berhadapan dengan petarung yang bisa menyerap tekanan, mengatur ritme, dan memaksa laga menjadi lebih sulit.

Menariknya, Josh Parisian tidak tenggelam setelah kalah di debut. Ia justru menunjukkan sisi lain dari dirinya, yaitu kemampuan untuk bangkit dan tetap relevan. Pada 19 Juni 2021, ia menghadapi Roque Martinez dan menang lewat split decision. Kemenangan ini mungkin tidak semegah knockout, tetapi sangat penting untuk kariernya. Ia membuktikan bahwa dirinya tidak hanya bisa hidup dalam pertarungan singkat. Ia juga bisa bertahan tiga ronde, menghadapi tekanan, dan tetap meyakinkan juri. Untuk petarung yang identik dengan penyelesaian cepat, kemenangan seperti ini memberi dimensi baru.

Setelah itu, Parisian mengalami fase yang benar-benar mencerminkan karier seorang heavyweight yang berayun antara peluang dan bahaya. Ia kalah TKO dari Don’Tale Mayes pada 18 Desember 2021, lalu bangkit lagi dengan kemenangan TKO ronde kedua atas Alan Baudot pada 25 Juni 2022. Hasil-hasil ini sangat menggambarkan siapa Josh Parisian sebenarnya: petarung yang tidak pernah terlalu jauh dari kekacauan. Saat menang, ia menang dengan cara yang keras. Saat kalah, kekalahannya pun sering datang dari benturan yang brutal. Dalam banyak hal, ia adalah bentuk paling mentah dari petarung heavyweight: selalu berbahaya, tetapi juga selalu hidup di pinggir risiko.

Fase berikutnya kembali berat. Pada 18 Februari 2023, Parisian kalah unanimous decision dari Jamal Pogues, lalu pada 12 Agustus 2023 ia kalah submission (kimura) dari Martin Buday. Kekalahan dari Buday ini cukup menarik, karena menunjukkan bahwa meskipun identitas utamanya adalah striker, ia tetap harus menghadapi kenyataan bahwa di UFC, ancaman datang dari banyak arah, tidak hanya dari pukulan lawan. Dalam divisi heavyweight modern, petarung yang hanya mengandalkan striking keras tanpa pertahanan grappling yang cukup sering kali akan menghadapi batas mereka.

Salah satu momen paling keras dalam karier UFC-nya datang pada UFC 299 tahun 2024, ketika ia menghadapi Robelis Despaigne. Data menulis bahwa Despaigne menghentikan Parisian hanya dalam 18 detik, sebuah hasil yang sangat brutal bahkan untuk standar heavyweight. Kekalahan secepat ini tentu pahit, tetapi dalam konteks naratif, itu juga menunjukkan betapa tipisnya garis hidup di kelas berat. Satu kesalahan kecil, satu langkah masuk yang salah, dan segalanya bisa selesai bahkan sebelum laga benar-benar dimulai.

Secara statistik, hal paling menarik dari Parisian tetaplah daya rusaknya. Rekor menunjukkan banyak kemenangan lewat KO/TKO, termasuk atas Greg Rebello, Chad Johnson, Matunga Djikasa, Charles Brown, Victor Jones, Alejandro Santiago, dan Alan Baudot. Ini bukan daftar kemenangan yang datang kebetulan. Itu menunjukkan bahwa ketika ia menemukan ritmenya, Josh Parisian benar-benar bisa menjadi masalah besar bagi siapa pun. Kelas heavyweight selalu punya ruang untuk petarung seperti ini, karena satu pukulan saja bisa mengubah seluruh cerita pertarungan.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Josh Parisian tidak akan dikenang sebagai juara UFC. Tetapi pencapaiannya tetap nyata. Ia berhasil dua kali membuat pernyataan kuat di jalur Contender Series, akhirnya mengamankan kontrak UFC lewat KO ronde pertama, lalu membangun rekor profesional 16-9 sebagai heavyweight yang benar-benar pernah menguji dirinya di level tertinggi. Tidak semua petarung regional bisa mencapai itu. Dan tidak semua heavyweight bisa bertahan cukup lama untuk memberi beberapa momen yang benar-benar diingat.

Pada akhirnya, Josh Parisian adalah kisah tentang petarung yang tidak pernah mengambil jalan mudah. Ia lahir pada 28 Juni 1989, membangun diri sebagai heavyweight striker dengan orthodox stance, menempuh jalan panjang dari regional ke Contender Series, lalu masuk ke UFC pada November 2020. Rekornya penuh luka, tetapi juga penuh bukti tentang daya tahannya. Ia mungkin bukan nama yang mendominasi divisi, tetapi ia tetap menjadi bagian dari cerita kelas berat modern: petarung yang selalu membawa kemungkinan chaos, dan karena itu selalu layak untuk ditonton.

(PR/timKB).

Sumber foto: youtube

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget and

Berita Lainnya

Loading next article...