Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang datang ke panggung besar dengan sorotan berlebihan, dan ada pula yang membangun kariernya dengan cara yang lebih tenang, lebih sabar, tetapi tetap meyakinkan. Gabriele Lionetti termasuk dalam kelompok kedua. Petarung asal Italia ini lahir pada 23 Maret 2000, dikenal dengan julukan “The Gentleman,” dan kini menjadi salah satu nama muda yang mulai dikenal di panggung ONE Championship. Lionetti berasal dari Italia, berusia 26 tahun, memiliki tinggi 171 cm, dan berafiliasi dengan Team IMPACT / Tiger Muay Thai.
Ia bertarung di kelas flyweight dengan rekor 2 kemenangan dan 1 kekalahan. Rekornya terdiri dari 1 kemenangan lewat submission dan 1 kemenangan lewat KO/TKO. Terdapat sumber mencatat berat tandingnya sekitar 124,2 lbs, dan ada yang menuliskan 125 lbs / 56,7 kg. Data ini menunjukkan bahwa flyweight adalah kelas yang paling konsisten untuk Lionetti.
Aspek lain yang membuat Lionetti menarik adalah julukannya, “The Gentleman.” Julukan ini memberi nuansa yang berbeda dibanding banyak nama panggung dalam MMA yang cenderung liar atau agresif. Ada kesan tenang, rapi, dan terkendali. Menariknya, kesan itu cukup sesuai dengan jalur kariernya sejauh ini. Ia memang belum punya daftar pertarungan yang panjang, tetapi cara ia menang menunjukkan petarung yang tidak hanya mengandalkan keberanian, melainkan juga cukup disiplin untuk memilih momen yang tepat. Dalam konteks petarung muda Italia yang masuk ke arena sekeras ONE Friday Fights, identitas seperti ini justru memberi warna tersendiri.
Perjalanan Gabriele Lionetti di ONE mulai terlihat jelas saat ia tampil di ONE Friday Fights 118. Dalam laga itu, ia menghadapi Jan Menard Atole dari Filipina dan meraih kemenangan lewat submission ronde kedua pada 3:23. Profil resmi ONE mencatat hasil ini secara langsung, dan data lainnya juga menampilkan duel tersebut sebagai salah satu titik penting dalam karier profesionalnya. Kemenangan submission seperti ini sangat penting bagi petarung muda. Ia tidak hanya menambah angka di rekor, tetapi juga memberi pesan bahwa dirinya mampu membaca transisi pertarungan, mengambil posisi yang tepat, dan menyelesaikan lawan dengan tenang saat peluang terbuka.
Kemenangan atas Jan Menard Atole memberi gambaran awal tentang kualitas yang dimiliki Lionetti. Ia bukan hanya petarung yang hidup dari striking. Submission ronde kedua menunjukkan ia mampu bertahan dari fase awal laga, memproses ritme pertarungan, lalu mengeksekusi penyelesaian ketika lawan mulai memberi celah. Dalam MMA, kemampuan seperti ini sangat berharga karena menandakan kedewasaan yang biasanya tidak selalu dimiliki petarung muda. Lionetti tampak seperti atlet yang tidak terlalu tergesa-gesa, sesuatu yang cocok dengan citra “The Gentleman” yang melekat pada dirinya.
Namun, seperti banyak petarung lain, jalannya tidak sepenuhnya mulus. Pada ONE Friday Fights 139 tanggal 23 Januari 2026, Gabriele Lionetti menghadapi Thoan Nguyen Thanh dari Vietnam dan harus menerima kekalahan lewat unanimous decision setelah tiga ronde. Hasil ini tercatat di profil resmi ONE, di halaman hasil resmi event. Kekalahan seperti ini penting dibaca dengan jujur. Ia tidak dihentikan, tidak dipukul jatuh, dan tidak disubmisi. Ia kalah angka. Itu berarti ia tetap mampu bertahan dan bersaing sampai akhir, tetapi lawan berhasil lebih efektif dalam pengumpulan ronde. Untuk petarung muda, kekalahan seperti ini sering menjadi pengalaman yang sangat berharga.
Justru di sinilah salah satu sisi paling menarik dari karier Lionetti mulai terlihat. Ia belum memiliki banyak pertarungan, tetapi ia sudah merasakan dua pengalaman penting yang sangat berbeda: menang lewat submission dan kalah lewat keputusan juri. Dua pengalaman ini sering menjadi fondasi penting dalam pertumbuhan seorang atlet. Menang dengan finis memberi kepercayaan diri. Kalah angka memberi pelajaran tentang ritme, kontrol ronde, dan detail kecil yang menentukan di level lebih tinggi. Bagi Lionetti, fase seperti ini bisa menjadi titik pembentukan yang sangat berarti untuk langkah berikutnya.
Aspek lain yang layak diperhatikan adalah afiliasinya dengan Team IMPACT / Tiger Muay Thai. Nama Tiger Muay Thai tentu punya bobot besar dalam dunia olahraga tarung, karena gym tersebut selama bertahun-tahun dikenal sebagai tempat berkembangnya banyak atlet dari berbagai disiplin. Profil resmi ONE dan data lainnya sama-sama menampilkan afiliasi ini. Itu memberi konteks bahwa Lionetti bukan hanya petarung muda Italia yang datang dengan bakat mentah, tetapi atlet yang berada dalam lingkungan latihan yang serius dan kompetitif. Lingkungan seperti itu sering menjadi faktor pembeda bagi petarung yang ingin berkembang dari prospek menjadi nama yang benar-benar diperhitungkan.
Dari sisi gaya bertarung, meskipun data resmi tidak merinci secara panjang, hasil-hasil Lionetti sejauh ini cukup jelas membentuk gambaran seorang petarung campuran dengan dua wajah utama. Wajah pertama adalah petarung yang bisa menutup laga lewat submission, seperti saat melawan Atole. Wajah kedua adalah petarung yang juga punya cukup striking untuk mencetak kemenangan KO/TKO. Kombinasi seperti ini penting dalam MMA modern, karena petarung yang terlalu berat di satu sisi biasanya lebih mudah dibaca. Lionetti justru tampak memiliki pondasi yang lebih seimbang.
Kalau berbicara soal prestasi, tentu Gabriele Lionetti belum memiliki sabuk besar atau status bintang utama di ONE. Namun untuk tahap kariernya saat ini, fondasi yang ia miliki sudah cukup menarik. Ia punya rekor 2 kemenangan dan 1 kekalahan, pernah menang submission di ONE, dan sudah mendapat kesempatan tampil di ajang ONE Friday Fights, salah satu panggung paling kompetitif untuk talenta internasional di Asia. Bagi petarung muda dari Italia, ini adalah bekal yang cukup berarti. Ia sudah berada di jalur yang benar untuk terus berkembang.
Pada akhirnya, Gabriele Lionetti adalah kisah tentang petarung muda yang sedang menulis jalannya sendiri dengan cara yang tenang namun menjanjikan. Ia lahir pada 23 Maret 2000, berasal dari Italia, membawa julukan “The Gentleman,” bertarung terutama di flyweight, dan sejauh ini sudah menunjukkan dua kualitas yang sangat penting: kemampuan menyelesaikan laga dan kemampuan tetap kompetitif saat pertarungan berjalan penuh. Ia belum menjadi bintang besar, tetapi justru di situlah daya tariknya. Ia masih berada di tahap ketika setiap pertarungan bisa menjadi titik penting dalam pembentukan kariernya. Dan untuk petarung seperti itu, kisah terbaik biasanya belum ditulis.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda