Mengenal Comfort Bingeing Dan Alasan Psikologisnya

Eva Amelia 04/07/2026 5 min read
Mengenal Comfort Bingeing Dan Alasan Psikologisnya

Menonton film atau serial televisi adalah salah satu cara paling populer untuk melepaskan penat setelah seharian beraktivitas. Biasanya, kita selalu mencari sesuatu yang baru—judul yang sedang tren, plot twist yang tidak terduga, atau film pemenang penghargaan yang belum sempat ditonton. Namun, ada kalanya kita justru mengabaikan ratusan pilihan di menu utama platform streaming dan kembali memilih serial yang sudah kita tonton sampai hafal di luar kepala. Kita kembali memutar Friends, The Office, Reply 1988, atau film-film masa kecil seperti Harry Potter untuk yang kesepuluh kalinya.

Fenomena ini dikenal dalam dunia psikologi modern sebagai comfort bingeing atau comfort watching. Mengapa kita rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyaksikan sesuatu yang sudah kita ketahui akhir ceritanya? Di balik kebiasaan yang terlihat sederhana ini, terdapat mekanisme psikologis yang mendalam tentang bagaimana otak manusia merespons stres, mencari rasa aman, dan mengelola emosi.

Efek Kognitif: Mengurangi Kelelahan Mengambil Keputusan

Salah satu alasan paling mendasar mengapa kita melakukan comfort bingeing berkaitan dengan kondisi mental kita saat memilih tontonan. Di era digital saat ini, kita dihadapkan pada apa yang disebut oleh para psikolog sebagai paradox of choice atau paradoks pilihan. Ketika dihadapkan pada terlalu banyak opsi baru, otak kita justru merasa kewalahan. Proses menyortir sinopsis, membaca ulasan, dan mempertimbangkan apakah film baru tersebut layak ditonton membutuhkan energi kognitif yang tidak sedikit.

Setelah menjalani hari yang panjang dan melelahkan secara mental—baik karena urusan pekerjaan, tenggat waktu, maupun dinamika sosial—kapasitas otak kita untuk mengambil keputusan sering kali sudah terkuras habis (decision fatigue). Pada titik ini, memilih sesuatu yang baru terasa seperti sebuah beban mental tambahan.

Dengan memilih film atau serial yang sudah familier, kita secara otomatis menghilangkan beban tersebut. Otak kita tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak ada risiko kecewa dengan akhir cerita yang buruk, dan tidak ada ketegangan yang menguras energi. Ini adalah bentuk efisiensi kognitif di mana otak mencari jalan pintas untuk beristirahat tanpa harus berhenti memproses stimulus visual yang menghibur.

Teori Manajemen Suasana Hati dan Kendali Emosi

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan alami untuk mengatur suasana hati mereka agar tetap seimbang, sebuah konsep yang dikenal sebagai Mood Management Theory. Ketika seseorang mengalami kecemasan, stres, atau ketidakpastian dalam kehidupan nyata, mereka akan mencari lingkungan yang dapat diprediksi untuk memulihkan keseimbangan emosional tersebut.

Menonton ulang tayangan favorit memberikan rasa kendali yang mutlak. Di dunia nyata, kita tidak bisa mengontrol perilaku orang lain, hasil dari sebuah proyek, atau apa yang akan terjadi esok hari. Ketidakpastian ini memicu respons kecemasan di otak. Sebaliknya, dalam dunia fiksi yang sudah kita tonton berkali-kali, masa depan adalah sesuatu yang pasti. Kita tahu kapan lelucon akan dilontarkan, kita tahu kapan konflik akan mereda, dan kita tahu bahwa karakter utamanya akan baik-baik saja pada akhirnya.

Kepastian ini bertindak sebagai jangkar emosional. Saat menonton tayangan yang familier, sistem saraf kita yang tadinya berada dalam mode waspada (fight or flight) perlahan-lahan beralih ke mode santai. Otak melepaskan dopamin, hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan, karena berhasil memprediksi alur cerita dengan benar. Rasa aman yang timbul dari prediktabilitas inilah yang membuat comfort bingeing menjadi mekanisme koping yang sangat efektif melawan anticipatory anxiety atau kecemasan emosional.

Hubungan Parasosial: Menemui “Teman Lama”

Alasan psikologis lain yang tidak kalah kuat di balik kebiasaan ini adalah pemenuhan kebutuhan sosial melalui hubungan parasosial. Hubungan parasosial adalah hubungan satu arah yang dibentuk oleh penonton dengan karakter fiksi di layar kaca. Meskipun kita tahu secara sadar bahwa karakter-karakter tersebut tidak nyata, otak kita memproses interaksi emosional dengan mereka menggunakan jalur saraf yang serupa dengan hubungan sosial di dunia nyata.

Ketika kita merasa kesepian, terisolasi, atau mengalami social fatigue (kelelahan sosial) setelah terlalu banyak berinteraksi dengan manusia nyata yang penuh komplikasi, kembali ke karakter fiksi favorit rasanya seperti pulang ke rumah atau menemui teman lama. Karakter-karakter ini tidak akan menghakimi kita, tidak menuntut apa pun dari kita, dan selalu konsisten dengan sifat-sifat yang membuat kita menyukai mereka sejak awal.

Bagi banyak orang, menonton ulang serial komedi situasi dengan ansambel karakter yang erat memberikan rasa kepemilikan dan kehangatan komunal. Fenomena ini sering kali disebut sebagai “terapi persahabatan tiruan.” Di saat energi sosial kita berada di titik nadir, hubungan parasosial ini menawarkan kenyamanan tanpa risiko konflik, penolakan, atau kesalahpahaman yang sering terjadi dalam hubungan interpersonal sehari-hari.

Nostalgia dan Pengondisian Masa Lalu

Nostalgia adalah emosi yang sangat kuat, dan comfort bingeing sering kali menjadi kendaraan utama untuk mengaksesnya. Ketika kita menonton ulang film atau serial dari masa remaja atau masa kanak-kanak, kita tidak hanya sekadar menikmati ceritanya, tetapi juga melakukan perjalanan waktu secara psikologis.

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai ingatan yang terikat konteks. Menyaksikan tayangan masa lalu dapat memicu kembali memori tentang siapa diri kita saat pertama kali menontonnya, di mana kita tinggal, dan bagaimana rasanya hidup di masa yang mungkin terasa lebih sederhana dan kurang membebani dibandingkan saat ini. Nostalgia membantu memberikan rasa kontinuitas pada identitas diri kita, menghubungkan masa lalu dengan masa kini di tengah perubahan hidup yang konstan.

Secara neurologis, stimulasi ini memberikan efek menenangkan yang mendalam. Pengalaman emosional positif yang terekam di masa lalu diaktifkan kembali, membawa serta perasaan hangat, disayangi, dan aman yang sangat dibutuhkan ketika seseorang sedang menghadapi krisis paruh baya, perubahan karier, atau tekanan hidup dewasa lainnya.

Sisi Emosional: Menghadapi Katarsis Tanpa Risiko

Menariknya, comfort bingeing tidak selalu berupa menonton tayangan yang menyenangkan atau lucu. Banyak orang yang justru memilih untuk menonton ulang film drama yang sangat sedih atau film horor yang menegangkan. Mengapa seseorang ingin merasakan kesedihan atau ketakutan yang sama berulang kali?

Jawabannya terletak pada konsep katarsis atau pelepasan emosi yang aman. Dalam kehidupan nyata, mengekspresikan kesedihan atau kemarahan sering kali dianggap tabu atau memiliki konsekuensi sosial yang nyata. Namun, ketika kita menangis tersedu-sedu saat menonton ulang adegan kematian karakter favorit yang sudah kita ketahui sejak awal, kita sebenarnya sedang menyalurkan emosi-emosi terpendam kita sendiri.

Tayangan tersebut menjadi wadah yang aman bagi ego kita untuk melepaskan stres emosional terkumpul. Kita tahu bahwa kesedihan itu akan berakhir dalam waktu dua jam, dan ketika lampu menyala atau kredit film bergulir, kita bisa kembali ke realitas dengan perasaan yang lebih lega dan bersih secara emosional.

Menjaga Keseimbangan dalam Comfort Bingeing

Meskipun comfort bingeing memiliki banyak manfaat psikologis sebagai alat bantu mandiri untuk relaksasi dan regulasi emosi, penting untuk tetap memperhatikan batasannya. Menonton ulang tayangan favorit menjadi tidak sehat ketika digunakan sebagai bentuk pelarian total atau escapism yang ekstrem dari tanggung jawab dan masalah dunia nyata yang membutuhkan penyelesaian konkret.

Jika dilakukan dengan kesadaran penuh, kebiasaan ini adalah bentuk perawatan diri (self-care) yang sah dan cerdas. Ini adalah cara yang murah, mudah diakses, dan efektif untuk memberikan istirahat yang sangat layak bagi otak kita yang lelah. Jadi, lain kali jika Anda merasa bersalah karena memilih untuk menonton ulang serial yang sama untuk kesekian kalinya daripada mencoba film baru peraih nominasi Oscar, ingatlah bahwa otak Anda mungkin hanya sedang merindukan rasa aman, kehangatan seorang teman lama, dan kenyamanan dari sebuah akhir cerita yang pasti bahagia.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...